Harga Minyak Mentah Ambles 8 Persen Usai Trump Hentikan Serangan ke Iran

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Maksim Safaniuk/Shutterstock

Harga minyak mentah merosot tajam pada perdagangan Senin (27/7), rekor dalam lebih dari tiga bulan lantaran AS menghentikan serangan harian terhadap Iran dan kapal tanker berlayar untuk memuat di terminal ekspor Kazakh nan baru-baru ini terganggu, mengurangi tekanan pasokan di pasar.

Dikutip dari Bloomberg, Selasa (28/7), nilai minyak mentah Brent untuk penyelesaian September turun 8,7 persen menjadi USD 88,36 per barel, penurunan satu hari terbesar sejak 17 April. West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman September menurun 7,5 persen menjadi USD 82,61 per barel di New York.

Pasar minyak merosot lantaran AS tampaknya telah menunda pemogokan baru sejak Jumat malam, menyusul 13 malam berturut-turut serangan nan bermaksud untuk menurunkan keahlian Iran untuk mengganggu pengiriman komersial.

Iran mengisyaratkan menahan diri dari pembalasan apa pun dan mengadakan pembicaraan dengan Oman di Selat Hormuz, meskipun Arab Saudi kemudian mengatakan mereka mencegat drone dari Irak nan menargetkan akomodasi minyaknya.

Presiden AS Donald Trump memutuskan untuk melakukan topause menyerang Iran untuk memberikan kesempatan lain pada negosiasi. Dia kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa ada "kemungkinan bagus" pembicaraan dengan Iran mengarah pada beberapa corak kemajuan, dan bahwa ada "banyak waktu."

Terlepas dari perubahan retorika presiden baru-baru ini, perjanjian jangka panjang mempertahankan kenaikan lebih dari 20 persen bulan ini, lantaran Houthi nan didukung Iran menakut-nakuti ekspor Saudi dari Laut Merah. Titik transit itu telah menjadi solusi krusial sejak perang menggeram mengalir melalui Hormuz, nan menghubungkan Teluk ke pasar global.

Pada saat nan sama, pemuatan minyak dilanjutkan di terminal Konsorsium Pipa Kaspia di pantai Laut Hitam Rusia, titik ekspor utama untuk barel dari Kazakhstan. Kapal-kapal telah diserang oleh drone Ukraina dalam beberapa hari terakhir, mencekik titik pasokan krusial bagi pembeli Eropa.

Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas menilai bahwa kenaikan nilai minyak minggu lampau menarik penanammodal bearish, nan meningkatkan taruhan mereka pada penurunan.

"Harga tinggi secara politik mahal bagi AS, dan kekurangan pencegat rudal nan dilaporkan membikin eskalasi menjadi bermasalah,” kata kepala strategi komoditas dunia di TD Securities, Bart Melek.

Militan Houthi di Yaman mengatakan bahwa mereka telah menyerang akomodasi nan mengenai dengan Saudi Aramco di kota pelabuhan Laut Merah Jizan dan Yanbu pada Sabtu, meskipun baik Riyadh maupun produsen milik negara tidak mengkonfirmasi klaim tersebut.

Yanbu, ujung barat pipa Timur-Barat kerajaan, telah menjadi outlet ekspor minyak mentah utamanya sejak Selat Hormuz ditutup secara efektif. Jizan adalah rumah bagi kilang dan terminal ekspor.

Transit titik-titik utama tersebut tetap jauh di bawah normal, menyarankan pemilik kapal tetap berhati-hati. Pada Minggu, sebuah kapal tanker super nan menuju Asia membawa minyak Saudi keluar dari Laut Merah melalui rute Terusan Suez nan lebih panjang, sementara kapal-kapal lain terus mengambil akibat di Selat Bab el-Mandeb.

Di Selat Hormuz lampau lintas jarang, dengan hanya delapan kapal komoditas nan sebagian besar kapal tanker produk nan lebih mini dan kapal curah, menyeberang pada Minggu, menurut info Kpler.

Di sisi lain, negosiator dari Iran dan Oman sedang mencoba mencapai kesepakatan untuk memulai kembali pengiriman melalui jalur air, menurut orang-orang nan mengetahui perihal tersebut.

Televisi pemerintah Iran mengatakan lima dari enam kapal nan telah mencoba menggunakan rute selatan melalui Hormuz, jalur nan memeluk pantai Oman, dibawa kembali ke Teluk Persia.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan