Jakarta -
Memanasnya perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran membikin nilai minyak bumi melonjak pada perdagangan Kamis (10/9) hingga tembus US$ 108 per barel. Ini merupakan pertama kalinya nilai minyak bumi setinggi ini sejak Mei 2026.
Harga minyak sudah naik lagi di atas US$ 100 per barel minggu ini seiring dengan meningkatnya pertempuran di Selat Hormuz dan Laut Merah. AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Houthi nan didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.
Kondisi ini membikin para pedagang memborong banyak minyak mentah untuk bersiap menghadapi gangguan pasokan nan lebih berkepanjangan, secara otomatis membikin nilai komoditas daya nan satu ini terkerek.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sampai dengan perdagangan Kamis (10/9), minyak mentah Brent nan kerap menjadi patokan dunia naik hingga 7,1% mencapai US$ 108 per barel sebelum ditutup pada level US$ 107,63 per barel (naik 6,34%) pada hari itu. Ini adalah level penutupan tertinggi Brent sejak 19 Mei dan lonjakan satu hari terbesar dalam enam minggu terakhir.
Sementara nilai minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga sempat naik hingga 7,3% dan mencapai US$ 103 per barel, sebelum akhirnya sedikit turun dan menetap di US$ 102,48 (naik 6,69%) pada akhir perdagangan hari itu. Ini adalah level penutupan tertinggi WTI sejak 19 Mei dan lonjakan satu hari terbesar dalam dua bulan terakhir.
"Meningkatnya serangan di Selat Hormuz dan oleh Houthi terhadap Arab Saudi menunjukkan bahwa Iran dan proksinya sedang berupaya merebut kembali inisiatif dalam perang. Hal ini dapat menghalang pemulihan produksi minyak di Teluk dan meningkatkan akibat kenaikan nilai daya dunia lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang," kata Wakil Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics, Jason Tuvey dikutip dari CNN, Jumat (11/9/2026).
Senada, untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, S&P Global Energy memperkirakan produksi minyak Timur Tengah tidak kembali ke tingkat sebelum perang pada akhir tahun depan. Kini perusahaan tersebut tidak lagi berasumsi bahwa perang bakal berhujung secara pasti alias situasi di Selat Hormuz bakal kembali normal pada akhir 2027.
"S&P sekarang memperkirakan nilai minyak bakal tetap tinggi, di kisaran US$ 80 hingga US$ 100 per barel hingga tahun depan," tulis CNN.
(igo/ara)
10 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·