Harga Kedelai Naik, Pedagang Pilih Iris Tipis Tempe

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Lapak jualan tempe di Pasar Kebayoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Kenaikan harga kedelai membikin sejumlah pedagang tempe di pasar tradisional Jakarta memutar otak agar nilai jual tetap terjangkau. Salah satu caranya dengan mengecilkan ukuran tempe nan dijual kepada pembeli.

Mukhlis, pedagang tempe di Pasar Palmerah, Jakarta, mengaku memotong ukuran tempe kisaran 2 centimeter (cm) lantaran nilai kedelai impor nan sebelumnya sekitar Rp 9.000 per kilogram, sekarang telah menembus lebih dari Rp 10.000 per kilogram.

“Kedelainya impor. lya itu sepengetahuan saya lantaran rupiah juga. Apalagi plastik ini, (lagi) naik,” kata Mukhlis saat ditemui kumparan di Pasar Palmerah, Selasa (19/5).

Mukhlis mengatakan nilai plastik naik dan rupiah melemah membikin biaya pembelian kedelai dalam jumlah besar ikut melonjak. Ia mencontohkan untuk 1 kuintal kedelai, biaya nan sebelumnya sekitar Rp 900 ribu sekarang menjadi lebih dari Rp 1 juta.

“Nggak saya naikin nilai jualnya. Kalau pembeli kan, namanya orang bakal makan, pasti belanja,” tutur Mukhlis.

Mukhlis sekarang menjual tempe di Rp 10.000 per pangkas dan tahu mulai dari Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per kantong, berjuntai isi tahunya. “Rugi sih enggak (dengan nilai segitu). Tapi mau gimana,” kata Mukhlis.

Sementara di Pasar Kebayoran, Jakarta Selatan, pedagang nan enggan menyebut namanya juga melakukan perihal nan sama dengan Mukhlis. Ia rela memotong ukuran tempe menjadi 2 cm hingga 3 cm agar nilai tetap dijual dengan nilai normal.

Lapak jualan tahu di Pasar Kebayoran, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

“Tempe (dijual) Rp 10.000. Emang mahal dari sananya. Kedelai kan impor dari Argentina,” kata pedagang tersebut.

Ia belum bisa memprediksi apakah nilai bahan baku tempe bakal semakin naik imbas rupiah nan sedang melemah, Namun, dia memastikan tidak bakal meningkatkan nilai jual kepada pembeli.

“Ya kurang tahu apa bakal naik lagi lantaran rupiah, tapi saya sih gak bakal naikkin harga. Soalnya pasti kelak gak ada nan beli jika mahal,” kata pedagang tersebut.

Sama dengan Mukhlis, pedagang di Pasar Kebayoran menjual tempe dengan nilai Rp 10.000 per pangkas dengan tempe dijual Rp 5.000 hingga Rp 10.000 per kantong.

Harga Daging Sapi Naik Jelang Idul Adha

Lapak jualan daging sapi pangkas di Pasar Palmerah, Jakarta Selatan, Selasa (19/5/2026). Foto: Najma Ramadhanya/kumparan

Sementara itu, pedagang daging sapi di dua pasar nan sama juga mengeluhkan nilai daging sapi pangkas nan naik. Safik, pedagang di Pasar Palmerah menyatakan nilai daging sapi pangkas saat ini mengalami kenaikan sekitar Rp 20.000.

“Dari Rp 130.000 sampai Rp 150.000, berfaedah naik 20 ribuan,” kata Safik.

Menurutnya, kenaikan nilai sudah terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Sapi nan dijual Safik berasal dari pasokan lokal dan impor.

Untuk sapi impor, nilai disebut ikut terdampak pelemahan rupiah lantaran pemasok membeli menggunakan mata duit dolar AS. Safik mengatakan, nilai sapi impor nan sebelumnya berada di kisaran Rp 80.000, sekarang naik menjadi sekitar Rp 100.000 per kemasan.

“Tapi naiknya bukan lantaran dolar doang, kayaknya dari pemasoknya juga sapi nya lagi langka,” ungkap Safik.

Sama dengan Safik, Huda nan mempunyai lapak di Pasar Kebayoran juga mengatakan nilai daging sapi pangkas di kisaran Rp 150.000 per kg. Namun, dia belum percaya apakah kenaikan nilai tersebut ada hubungannya dengan pelemahan rupiah akhir-akhir ini.

“Kalau naik mah mungkin bisa jadi lantaran bentar lagi Idul Adha. Itu bisa naik lagi mungkin,” kata Huda.

video story embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan