Harga Kedelai Impor Naik, Begini Nasib Harga Tahu-Tempe di Pasaran

Sedang Trending 52 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga kedelai nan menjadi bahan baku utama tahu dan tempe tengah mengalami kenaikan. Namun, kenaikan nilai tersebut belum membikin perajin tahu dan tempe meningkatkan nilai jual produknya.

Sekretaris Jenderal Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) Wibowo Nurcahyo mengatakan, nilai jual tahu dan tempe hingga saat ini tetap bertahan, alias belum mengalami kenaikan.

"Harga jual tempe tahu kami tetap tetap," kata Wibowo kepada CNBC Indonesia, Kamis (10/9/2026).

Di sisi lain, nilai nan kudu dibayar perajin untuk mendapatkan kedelai berbeda-beda di setiap daerah. Berdasarkan info Gakoptindo per 10 September 2026, nilai kedelai di sejumlah wilayah Jawa tetap berada di bawah Harga Acuan Pemerintah (HAP) Rp12.000 per kg.

Di Jawa Barat, nilai kedelai di tingkat perajin berada di kisaran Rp11.200-Rp11.750 per kg. Di Jawa Tengah sekitar Rp11.300-Rp11.750 per kg, Jawa Timur Rp11.250-Rp11.550 per kg, sedangkan DKI Jakarta Rp11.400-Rp11.850 per kg.

Namun, nilai lebih tinggi tercatat di sejumlah wilayah luar Jawa. Di Aceh, misalnya, nilai kedelai merek Bola nan dibayar perajin mencapai Rp13.200 per kg. Sementara di Sumatra Utara nilai kedelai merek Bola mencapai Rp12.800 per kg dan merek MB Rp12.950 per kg. Di Sumatra Barat, nilai kedelai merek Bola mencapai Rp12.950 per kg.

Harga kedelai juga tembus Rp12.900 per kg di Kalimantan Timur untuk merek Bola, sedangkan di Sulawesi Selatan nilai kedelai merek Bola Merah mencapai Rp12.950 per kg.

Secara nasional, rata-rata nilai kedelai impor per 8 September 2026 mencapai Rp13.762 per kg, alias lebih tinggi Rp1.762 per kg dari HAP Rp12.000 per kg.

Harga di Tingkat Importir Naik

Adapun kenaikan nilai tersebut, kata Wibowo, terjadi di tingkat importir. Data nilai delivery order (DO) importir nan dikelola Gakoptindo per 9 September 2026, menunjukkan sejumlah nilai mengalami kenaikan dibandingkan 2 September 2026.

Harga kedelai merek Bola Merah di Cigading, misalnya, naik dari Rp10.600 per kg menjadi Rp10.700 per kg. Harga kedelai merek Hiu di Cigading juga naik dari Rp10.600 per kg menjadi Rp10.700 per kg.

Sementara nilai kedelai merek 3 Berlian dan Tugu Monas di Cikarang naik dari Rp10.600 per kg menjadi Rp10.900 per kg.

Wibowo mengatakan, kenaikan tersebut memang terjadi dalam beberapa hari terakhir di tingkat importir. nan menjadi persoalan, kenaikan nilai kedelai di dalam negeri itu terjadi ketika nilai komoditas tersebut di pasar dunia justru tengah turun.

"Memang beberapa hari ini ada kenaikan ya di tingkat importir. Padahal, dolar (Amerika Serikat) kan sedang tidak menyentuh Rp18.000 ya, nilai di CBOT (Chicago Board of Trade) juga turun," sebutnya.

Pekerja membikin tahu berbahan kedelai impor di Kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Pekerja membikin tahu berbahan kedelai impor di Kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Pekerja membikin tahu berbahan kedelai impor di Kawasan Duren Tiga, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Gakoptindo Ungkap Penyebabnya

Menurut Wibowo, kondisi tersebut berangkaian dengan belum adanya penguasaan stok kedelai oleh pemerintah. Akibatnya, pemerintah tidak mempunyai peralatan nan dapat digunakan untuk mengendalikan nilai ketika terjadi kenaikan di pasar.

"Karena kita nggak menguasai pasar. Pemerintah tidak punya barang," ujar dia.

Ia pun membenarkan bahwa kondisi tersebut membikin nilai kedelai pada akhirnya ditentukan oleh pihak nan menguasai barang, ialah importir.

"Iya betul sekali. Itu jawabannya," tutur Wibowo.

Meski demikian, Wibowo menyebut stok kedelai saat ini tetap tersedia berasas info nan diterima Gakoptindo dari para importir.

"Ya intinya kan lantaran kita nggak kuasai barang, tergantung siapa nan punya peralatan mengatakan. nan punya peralatan mengatakan 'oh stok ada', ya berfaedah pemerintah merasa ini aman-aman saja. Tapi ketika suatu saat dikatakan tidak ada, ya baru ramai kan, biasanya begitu situasinya," terangnya.

Karena itu, Gakoptindo mendorong pemerintah merealisasikan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) untuk kedelai. Wibowo mengatakan, ketentuan mengenai CPP kedelai sebenarnya sudah ada, tetapi belum terealisasi.

"Iya itu kan sudah ditentukan. Sudah ada ketetapannya itu, CPP. Tapi sampai saat ini kan belum ada realisasinya. Ya kita sih mendorong itu. Tapi sampai saat ini belum ada," ujar dia.

Dengan nilai bahan baku nan tetap mengalami tekanan, perajin tahu dan tempe sejauh ini memilih tidak meningkatkan nilai jual produknya. Di sisi lain, Gakoptindo mendorong pemerintah segera mempunyai persediaan kedelai agar nilai dan pasokan tidak sepenuhnya berjuntai pada importir.

(wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News