Harga Energi Menggila, Tetangga RI Pangkas Pajak LPG dan Minyak Tanah

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Filipina mulai mengambil langkah konkret untuk meredam lonjakan nilai daya nan membebani masyarakat, menyusul akibat bentrok geopolitik nan makin meluas di Timur Tengah.

Presiden Ferdinand Marcos Jr. pada Senin (13/4/2026) mengumumkan pemangkasan pajak cukai untuk bahan bakar rumah tangga seperti LPG dan minyak tanah, sebagai respons terhadap guncangan nilai nan dipicu perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran.

Dalam konvensi pers, Marcos mengungkapkan kekecewaannya atas kegagalan jalur diplomasi antara Washington dan Teheran.

"Kami berambisi hasil nan baik dari perundingan perdamaian AS dan Iran, tetapi tampaknya mereka tidak dapat mencapai kesepakatan, itulah sebabnya kami bakal terus membantu rakyat kami," katanya, dilansir AFP.

Ia menegaskan bahwa pemerintah bakal terus melindungi masyarakat dari akibat langsung kenaikan nilai energi.

"Kami telah mengurangi pajak atas produk-produk minyak bumi nan digunakan langsung oleh rakyat kami dalam kehidupan sehari-hari mereka," kata Marcos.

Langkah tersebut dilakukan setelah parlemen sebelumnya meloloskan undang-undang nan memberi kewenangan kepada presiden untuk menyesuaikan pajak cukai bahan bakar. Berdasarkan kebijakan baru, nilai LPG, nan menjadi bahan bakar utama untuk memasak di Filipina, bakal dipangkas sebesar 3,36 peso alias nyaris Rp1.000 per kilogram mulai Selasa.

Sementara itu, nilai minyak tanah nan banyak digunakan oleh family berpenghasilan rendah bakal turun sebesar 5,60 peso alias sekitar Rp1.500 per liter.

Tak berakhir di situ, Marcos juga mengindikasikan kemungkinan intervensi lebih luas pada sektor energi. Ia mengatakan bakal menggelar rapat komite krisis pemerintah pada Selasa untuk membahas kemungkinan penyesuaian pajak cukai pada bensin dan solar, nan merupakan bahan bakar utama transportasi publik.

Filipina sendiri sangat berjuntai pada impor energi. Negara tersebut mendapatkan pasokan minyak mentah dari area Timur Tengah, serta mengimpor produk minyak olahan dari kilang-kilang di Asia nan juga berjuntai pada pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, jalur vital nan sekarang secara efektif ditutup oleh Iran.

Dampaknya terhadap nilai domestik sangat signifikan. Harga solar dilaporkan telah melonjak lebih dari dua kali lipat sejak awal perang, mencapai sekitar 145 peso alias sekitar Rp41.000 per liter.

Tekanan tidak hanya dirasakan di sektor energi, tetapi juga mulai merambat ke kebutuhan pokok. Pemerintah pekan lampau merilis info inflasi nan menunjukkan nilai pangan pada Maret meningkat nyaris dua kali lebih sigap dibandingkan bulan sebelumnya, indikasi bahwa akibat bentrok dunia mulai terasa langsung di dapur masyarakat.

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News