Harga emas bumi bergerak tipis pada perdagangan Selasa (4/8) pagi waktu Asia. Hal ini lantaran para pelaku pasar mencermati perkembangan perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran nan dinilai berpotensi meredakan tekanan inflasi, sehingga mengurangi kesempatan kenaikan suku kembang oleh bank sentral AS (The Fed).
Berdasarkan info Bloomberg, nilai emas spot diperdagangkan di level USD 4.052,81 per troy ons pukul 07.20 waktu Singapura. Posisi tersebut relatif tidak berubah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya nan menguat tipis 0,2 persen.
“Dalam skenario dasar kami, bentrok AS-Iran berakhir, arus pelayaran di Selat Hormuz kembali normal, suku kembang riil menurun, dolar AS melemah, dan minat penanammodal terhadap emas kembali menguat," tulis analis Citi Research nan dipimpin Kenny Hu.
Kenny menilai skenario tersebut berkesempatan terjadi pada periode September hingga Desember. Walau demikian, proyeksi tersebut sangat berjuntai pada berakhirnya bentrok di Timur Tengah.
Secara keseluruhan, Citi Research memperkirakan nilai emas berpotensi bergerak stagnan alias apalagi melemah dalam satu bulan ke depan sebelum kembali menguat hingga USD 4.500 per troy ons pada kuartal IV 2026.
Sejauh ini nilai emas telah turun lebih dari 20 persen sejak perang AS-Iran lima bulan lalu. Tingginya nilai daya juga mendorong inflasi dan meningkatkan kemungkinan suku kembang tetap tinggi lebih lama. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi logam mulia lantaran emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga.
Saat ini, Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa tawaran terbaru untuk berkompromi merupakan kesempatan terakhir bagi Iran. Ia optimistis Selat Hormuz dapat kembali dibuka sepenuhnya.
Di sisi lain, Iran membantah sedang berkompromi dengan AS, namun mengakui adanya pembicaraan dengan Oman mengenai kelancaran pelayaran di Selat Hormuz.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·