Harga Bitcoin Anjlok Usai Dibayangi Sentimen Suku Bunga dan Aksi Jual Investor

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Sejumlah koin cryptocurrency ialah Bitcoin, Ethereum, DogeCoin, Ripple, Litecoin. Foto: REUTERS/Dado Ruvic

Bitcoin melanjutkan penurunannya kembali menuju level USD 60.000. Penurunan ini didorong oleh kekhawatiran nan kian membesar atas kacaunya sistem pendanaan Strategy Inc., berbarengan dengan ketakutan bakal kenaikan suku kembang nan meredam permintaan terhadap aset-aset berisiko.

Mata duit mata uang digital terbesar ini sempat ambruk di bawah periode pemisah tersebut dua pekan lampau untuk pertama kalinya sejak akhir 2024. Token nan turun hingga 3,4 persen menjadi 62.184 dolar AS pada hari Kamis, telah kehilangan sekitar 50 persen nilainya sejak mencapai rekor tertinggi pada Oktober tahun itu.

Para pelaku pasar tengah terpaku pada nilai saham preferen Strategy’s Stretch, alias STRC, nan digunakan oleh korporasi pembeli Bitcoin terbesar tersebut untuk mendanai pembelian terbarunya.

Mengutip Reuters, Sabtu (20/6), harganya telah jatuh di bawah nilai nominal, membikin perusahaan nan dipimpin oleh Michael Saylor tersebut tidak mendapat untung jika menjual pengaruh hibrida itu.

Saylor mengejutkan pasar di awal bulan ini dengan menjual sebagian mini Bitcoin setelah bertahun-tahun mendorong para pemegang mata uang digital untuk tidak pernah menjual token mereka.

“Semua mata tertuju pada nilai STRC sebagai tolok ukur tekanan pasar terhadap Strategy. Pasar kemungkinan bakal menguji tekad perusahaan untuk terus membeli BTC daripada menjual sebagian asetnya demi memperkuat persediaan kas dan memperpanjang landasan dividen STRC,” kata Joshua Lim, dunia co-head of markets.

Sementara pasar nan lebih luas terus diperdagangkan lebih tinggi lantaran optimisme di beragam lini, Bitcoin dan token nan lebih mini seperti Ether dan Solana tetap berada di bawah tekanan pekan ini.

“Ada juga masalah kenaikan ekspektasi suku kembang dan gimana perihal itu bakal berakibat pada BTC serta aset berisiko lainnya,” kata Lim.

Kinerja jelek ini sebagian didorong oleh kekhawatiran bahwa Strategy mungkin perlu menjual lebih banyak Bitcoin untuk mendanai pembayaran dividen, terutama setelah membeli kembali Obligasi Senior Konvertibel 2029 senilai 1,5 miliar dolar AS, tulis QCP Capital dalam sebuah catatan.

Saham preferen tersebut dirancang untuk berfaedah sebagai mesin pencari modal di mana Strategy menjual pengaruh tersebut pada nilai nominal 100 dolar AS dan langsung membeli Bitcoin, sementara penanammodal menerima pembayaran dividen tahunan dua digit.

Namun, pengaruh tersebut belum pernah diperdagangkan di level 100 dolar AS sejak 15 Mei, nan merupakan tanggal eks-dividen untuk pembayaran bulan lalu. Di bawah nilai, perusahaan sebenarnya menghimpun modal dengan kerugian lantaran pada akhirnya kudu bayar imbal hasil efektif nan lebih tinggi. Harganya sempat ambruk di bawah 83 dolar AS pada hari Kamis.

Pihak Strategy tidak menanggapi permintaan komentar.

Strategy kudu menjual Bitcoin dalam “jumlah nan sangat besar” alias saham biasanya untuk membantu mengembalikan saham preferen ke sekitar nilai, alias mereka bakal “terus menyaksikan setiap bagian dari struktur modal Anda meleleh lantaran ketidakpastian” nan telah mereka ciptakan, kata Jeff Dorman, Chief Investment Officer di Arca.

Ia mengantisipasi bahwa Strategy bakal terus menjual sejumlah mini saham biasa setiap bulannya.

Saham Strategy merosot 3,5 persen pada hari Kamis, dan telah turun sekitar 14 persen sejak nilai penutupan hari Senin. Saham tersebut telah jatuh 70 persen dalam satu tahun terakhir.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan