Harga BBM di SPBU Meledak Parah, Warga AS Ramai-ramai Teriak

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat di Amerika Serikat mulai mengupayakan untuk mengurangi konsumsi bahan bakar minyak (BBM). Kondisi ini dirasakan pasca meroketnya nilai BBM di negeri itu.

Warga Boston Pat Ouedraogo mengurangi perjalanan jarak jauh. Sementara calon mahasiswa norma Skyler Burke memilih berkendara lebih jauh untuk mengisi bensin nan lebih mahal di area dekat rumahnya. Sementara David Wright di Huston seorang pialang mengganti mobilnya nan royal bahan bakar menjadi kendaraan listrik.

Kondisi ini dirasakan oleh para pengendara di seluruh Amerika Serikat, nan cemas terhadap perang Iran lantaran mendorong nilai bahan nan mendekati rekor tertinggi. Para mahir pasar juga menyebut perang nan telah berjalan enam minggu itu sebagian gangguan pasokan minyak terburuk sepanjang sejarah, setelah akomodasi produksi utama terdampak dan jalur pengiriman praktis tertutup.

"Ini situasi dimana Anda merasa tidak berkekuatan menghadapi nilai ini," kata Ouedraogo, saat mengisi bensin SUV Nissan miliknya di SPBU Shell, dengan nilai US$ 4,99 per galon, mengutip Reuters, Minggu (12/4/2026).

Rata-rata nilai bensin di AS tercatat US$ 4,16 per galon pada Jumat kemarin, sementara solar US$ 5,67. Ini menjadi nilai tertinggi nan dibayar konsumen menjelang musim puncak perjalanan musim panas sejak invasi Rusia ke Ukraina pada Februari 2022, nan mengguncang pasar daya global.

Dari kenaikan nilai itu, diperkirakan menambah pengeluaran bensin dan solar di AS sebesar US$ 10,4 miliar pada periode 1 Maret hingga 10 April dibandingkan periode yagn sama tahun lampau sejak perang dimulai, kata Patric De Haan dari GasBuddy.

Bagi supir truk asal Huston, Eddie Esquivel, lonjakan nilai solar membikin pengeluaran mingguannya nyaris dua kali lipat menjadi US$ 1.600 - US$ 1.700 dari sebelumnya US$ 800 - US$ 900 sebelum perang.

"Harga ini sangat memukul. Dulu solar sekitar US$ 2 per galon, sekarang bisa mencapai US$ 6," kata Esquivel di SPBU QuikTrip di South Huston, Texas.

"Anda kudu bayar angsuran truk, beli ban, tukar oli, dan menafkahi keluarga, ini betul-betul mematikan kami," tambahnya.

Kenaikan nilai BBM ini memang terjadi secara global, seiring dengan blokade Iran di Selat Hormuz nan menghalang pasokan minyak Timur Tengah ke pasar Asia dan Eropa.

Analis memperkirakan nilai minyak dan bahan bakar tidak bakal segera juga tidak bakal segera kembali ke level sebelum perang. Konsumen AS kemungkinan tetap bakal menghadapi nilai tertinggi dalam beberapa tahun untuk mengisi bahan bakar.

"Kami tetap memperkirakan adanya premi akibat geopolitik nan memperkuat di pasar," kata Analis Rystad Wei Ren Gan.

"Alih-alih pemulihan sigap ke level sebelum perang, nilai kemungkinan bakal turun secara berjenjang dan tetap relatif lebih tinggi dibandingkan sebelumnya."

Sekitar 2 juta barel per hari kapabilitas pengolahan minyak di Timur Tengah juga dilaporkan tidak beraksi akibat kerusakan selama perang, menurut analis Macquarie.

Di AS juga sudah menujukan adanya penurunan permintaan akibat tingginya nilai bensin. Dalam info pemerintah AS, permintaan bensin pada pekan sebelum paskah hanya mencapai 8,6 juta barel per hari, turun 9% dibandingkan periode sama pada tahun sebelumnya.

Indikator lain menunjukkan tekanan nan dialami konsumen: transaksi pinjaman gadai meningkat 9% saat nilai bensin melampaui US$4 per galon, menurut Tim Jugmans dari EZCORP.

(emy/wur) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News