Hanya 38 Menit: Perang Anglo-Zanzibar, Perang Tersingkat dalam Sejarah

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
Peta wilayah Zanzibar. Foto: Wikimedia Commons (Public Domain)

Latar Belakang

Zanzibar terletak di perairan biru kehijauan Samudra Hindia, tepatnya di pantai lepas Afrika Timur Tanzania modern. Di tahun 1498, Vasco da Gama nan merupakan penjelajah terkenal berasal dari Portugis menjadi orang Eropa pertama nan menginjakkan kaki di Zanzibar dan kemudian beberapa tahun kemudian kepulauan ini menjadi bagian dari Kekaisaran Portugis. Para penguasa ini mendirikan sistem pemerintahan sultan Zanzibar ialah para pedagang Swahili elit setempat.

Pada abad ke-19 merupakan abad tersukses bagi Zanzibar, karena pada abad ini mereka mengalami kemakmuran dalam perekonomian. Salah satu karena kemakmuran ini adalah suasana nan hangat dan cerah sehingga mereka dapat mengekspor hasil pertanian cengkeh, rempah-rempah, dan lain sebagainya. Perkebunan cengkeh menggunakan tenaga kerja budak, perihal ini memberikan pengaruh terciptanya pasar budak terbesar pada masanya. Para pedagang dari beragam penjuru bumi datang ke Zanzibar untuk mencari budak serta sumber daya nan langka dan berbobot di kalangan konsumen Eropa.

Zanzibar sebagai koloni Inggris secara resmi berasal dari Perjanjian Heligoland-Zanzibar. Perjanjian ini memunculkan bentrok kepentingan antara elit lokal dan kebijakan koloni Inggris. Disusul dengan Perjanjian Inggris-Jerman pada tahun 1886, nan menetapkan lingkup pengaruh regional dan telah menyekepati beberapa perihal yaitu: kedua kekuatan sepakat untuk tidak saling menganggu lingkup pengaruh masing-masing wilayah.

Inggris mendukung wilayah sewa Dar-es-Salaam dan Pangani nan dimana kedua wilayah tersebut dikendalikan oleh Sultan Bargash bin Said. Sebagai imbalannya, Jerman setuju untuk mengakui kedaulatan Zanzibar. Sebelum kolonisasi secara resmi, Zanzibar telah mempunyai status sebagai protektorat Inggris dan salah satunya nan terpinting adalah Inggris diberikan kewenangan untuk memveto calon-calon Sultan.

Berlangsungnya Perang Anglo-Zanzibar

Perang Anglo-Zanzibar berasal ketika terjadinya perebutan suksesi posisi sultan di Zanzibar setelah kematian Sultan Hamad bin Thuwaini pada 25 Agustus 1896, nan merupakan Sultan Zanzibar pro-Inggris. Otoritas Inggris turun tangan dan menunjuk serta mendesak calon sultan baru ialah Hamad bin Muhammed. Apabila sultan baru tidak segera ditunjuk, mereka cemas sultan baru Zanzibar berasal daru aliansi Khalid bin Barghash (kontra dengan Inggris) dengan Jerman dan posisinya nan pro-perbudakan.

Khalid bin Barghash meresponnya dengan mengumumkan dirinya sebagai Sultan Zanzibar baru tanpa persetujuan Inggris. Khalid merupakan simbol penolakan terhadap kombinasi tangan Eropa dan mendapatkan support dari sebagian masyarakat Zanzibar.

Khalid bin Barghash, Bundesarchiv Bild 105-D0A0295. Foto: Wikimedia Commons (Public Domain)

Kekuasaan Britania Raya pada abad ke-19 dan kekuasaan maritim di dunia, Inggris menjadi negara pertama nan menggunakan diplomasi kapal perang untuk mencapai kesepakatan nasional. Otoritas tersebut digunakan pula di Zanzibar ketika pergantian sultan nan tidak menguntungkan pihak Inggris. Dengan support pemerintah nan Mulia Ratu untuk penggunaan kekuatan militer untuk menurunkan Khalid bin Bargash di Zanzibar nan telah diberi ultimatum namun ditolaknya, Perang Anglo-Zanzibar telah dimulai.

Laksamana Muda Harry Rawson, Brigadir Jendral Lyod Mathews, dan Letnan Arthur Edward Harington Raikes memipin pasukan Angkatan Laut Kerajaan Inggris dalam peperangan ini. 150 marinir dan pelaut Inggris berada di atas lima kapal penjelajah perang: HMS Philomel, HMS St. George, dan 3 kapal perang kecil: HMS Racoon, HMS Thrush, dan HMS Sparrow, serta pasukan 900 prajurit askari.

Pasukan sultan dipimpin oleh Khalid bin Bargash dan pasukan nan terdiri dari sekitar 2800 orang, dilengkapi senapan dan senjata antik berbareng dengan 700 tentara askari. Artileri mereka terdiri dari: 4 meriam artileri, satu baterai pantai, beberapa senapan mesin Maxim, satu senapan Gatling, satu mariam perunggu abad ke-17, dan dua meriam lapangan 12 pon, serta kapal induk HHS Glasgow, 2 perahu, dan sebuah kapal layar kayu.

Strategi Khalid bin Barghash dalam Perang Anglo-Zanzibar ini dengan menggunakan teknik membentengi diri dan pasukannya di istana. Kapten Saleh dari pengawal istana menempatkan artileri dan senapan mesin di kapal-kapal Inggris. Setelah berakhirnya ultimatum pada pukul 09.00, pasukan Inggris mulai menyerang dengan peluru berkekuatan ledak tinggi dimulai pada pukul 09.02. Dalam beberapa menit. Pasukan Angkatan Laut Kerajaan Inggris melancarkan serangan besar-besaran dengan menggunakan 500 peluru, 4.100 tembakan senapan mesin, dan 1.000 tempakan senapan ditembakkan ke Istana Sultan Zanzibar.

Artileri pertahanan Khalid bin Barghas telah lumpuh, HSS Glasgow hancur terkena tembakan dari HMS St. George dan mengakibatkan Istana Sultan Zanzibar hancur. Sekitar pukul 09.37 hingga 09.45 pagi, Khalid bin Barghas akhirnya menyerah karena pasukan sultan menderita 500 korban jiwa, sedangkan pasukan Inggris hanya satu pelaut nan terluka secara tidak sengaja.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan