Hampir Separuh Kasus Demensia Dipicu Faktor Risiko yang Bisa Diubah

Sedang Trending 6 hari yang lalu
Hampir Separuh Kasus Demensia Dipicu Faktor Risiko nan Bisa Diubah ilustrasi(Magnific)

HAMPIR separuh dari seluruh kasus demensia di bumi rupanya dapat dihubungkan dengan faktor-faktor akibat nan berpotensi untuk diubah alias dicegah setiap individu, seperti kebiasaan merokok hingga tekanan darah tinggi. Temuan terbaru dari Lund University di Swedia sukses mengidentifikasi gimana aspek akibat spesifik tersebut memengaruhi perkembangan penyakit Alzheimer dan demensia vaskular, nan merupakan dua penyebab utama demensia pada manusia.

Meskipun akibat demensia sebagian dibentuk oleh aspek nan tidak dapat diubah seperti usia, jenis kelamin, dan aspek genetik, terdapat banyak pengaruh lingkungan serta style hidup nan tergolong modifiable (dapat dimodifikasi). Faktor-faktor tersebut meliputi kebiasaan merokok, penyakit kardiovaskular, kadar lemak darah nan tinggi, tingkat aktivitas fisik, konsumsi alkohol, gangguan pendengaran, hingga tekanan darah tinggi.

Dalam studi jangka panjang ini, para peneliti melacak nyaris 500 partisipan nan mempunyai usia rata-rata 65 tahun dan tidak menunjukkan tanda-tanda gangguan kognitif pada awal penelitian. Selama empat tahun, tim peneliti memantau perubahan pada white matter (zat putih) otak, serat saraf nan sering mengalami kerusakan pada kasus demensia vaskular, sekaligus memantau akumulasi protein amyloid β dan tau nan menjadi penanda utama penyakit Alzheimer.

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kebanyakan aspek akibat nan dapat diubah, seperti merokok, penyakit jantung, lemak darah tinggi, dan hipertensi, terhubung langsung dengan kerusakan pembuluh darah di otak serta penumpukan perubahan white matter yang lebih cepat.

"Kami memandang bahwa sebagian besar aspek akibat nan dapat diubah, seperti merokok, penyakit kardiovaskular, lemak darah tinggi, dan tekanan darah tinggi, di antara nan lainnya, terhubung dengan kerusakan pada pembuluh darah otak dan akumulasi perubahan unsur putih nan lebih cepat," kata Isabelle Glans, peneliti di Lund University.

Selain itu, para peneliti mengidentifikasi adanya hubungan antara aspek akibat tertentu dengan akumulasi protein mengenai Alzheimer.

"Diabetes dikaitkan dengan peningkatan akumulasi amyloid β, sementara orang dengan BMI lebih rendah mengalami akumulasi tau nan lebih cepat. Namun, temuan ini tetap perlu diselidiki lebih lanjut dan divalidasi dalam studi masa depan," lanjut Isabelle Glans.

Temuan riset ini menegaskan pentingnya menjaga kesehatan pembuluh darah dan metabolisme tubuh sejak dini. Walaupun tidak semua aspek genetik dapat diubah, memperbaiki style hidup bisa mengurangi akibat kerusakan otak secara komprehensif, sehingga dapat membantu menunda munculnya indikasi demensia. (Science Daily/Lund University/Z-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia