
Swasembada Aspal (Foto: Okezone)
JAKARTA - Pemerintah menargetkan swasembada aspal nasional dengan menekan ketergantungan terhadap produk impor, seiring meningkatnya akibat dunia nan memengaruhi nilai daya dan biaya pembangunan infrastruktur.
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan, dinamika geopolitik global, khususnya di area Timur Tengah, telah mendorong lonjakan nilai daya dan mengganggu pasokan dunia. Kondisi tersebut berakibat langsung pada sektor infrastruktur, terutama terhadap material strategis seperti aspal.
“Ketergantungan adalah sebuah risiko, dan dalam pembangunan nasional akibat kudu kita kelola dengan sangat disiplin agar biaya tidak meledak,” ujarnya di Kantor Kementerian PU, Kamis (2/4/2026).
Dody menjelaskan, saat ini kebutuhan aspal nasional mencapai sekitar 1 juta ton per tahun dan diproyeksikan meningkat menjadi 1,5 juta ton dalam beberapa tahun ke depan. Namun, nyaris 80 persen kebutuhan tersebut tetap dipenuhi dari aspal berbasis minyak bumi alias impor.
Di sisi lain, Indonesia mempunyai persediaan aspal Buton (asbuton) nan melimpah, tetapi pemanfaatannya tetap terbatas, ialah sekitar 4 persen dari total kebutuhan nasional.
Kementerian PU menargetkan peningkatan penggunaan asbuton dalam pembangunan jalan nasional hingga minimal 30 persen. Kebijakan ini diharapkan bisa menekan penggunaan aspal impor secara signifikan sekaligus memperkuat ketahanan material bangunan dalam negeri.
Dari sisi ekonomi, optimasi asbuton diperkirakan dapat menghemat devisa negara hingga sekitar Rp4 triliun per tahun serta meningkatkan penerimaan pajak nyaris Rp2 triliun. Selain itu, pengembangan industri asbuton juga berpotensi menciptakan nilai tambah ekonomi hingga Rp23 triliun dan membuka ribuan lapangan kerja baru.
4 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·