Haidar Alwi Apresiasi Polri Berantas Narkoba untuk Selamatkan Generasi Muda

Sedang Trending 2 bulan yang lalu

Jakarta - Presiden Haidar Alwi Care dan Haidar Alwi Institute sekaligus Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, Haidar Alwi, mengapresiasi keahlian Polri dalam pemberantasan narkoba lantaran menyelamatkan kualitas manusia Indonesia di masa depan. Haidar menilai pemberantasan narkoba kudu dimaknai lebih luas daripada sekadar keberhasilan operasional.

"Pemberantasan narkoba adalah perlindungan terhadap masa depan. Negara nan bisa menggagalkan peredaran narkotika sebelum masuk ke masyarakat bukan hanya sedang menegakkan hukum, tetapi sedang memastikan bangsa ini tidak kehilangan generasi terbaiknya," kata Haidar Alwi dalam keterangannya, Minggu (12/4/2026).

Sejak dilantik pada 27 Januari 2021, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin Polri mengungkapkan 19.229 kasus pada 2021, mengamankan 24.878 tersangka, menyita sabu 7.696 kilogram, ganja 2.100 kilogram, heroin 7,3 kilogram, tembakau gorila 34,3 kilogram, dan 239.277 butir ekstasi. Nilai peralatan bukti saat itu diperkirakan mencapai Rp11,66 triliun, dengan klaim pengamanan sekitar 39,24 juta jiwa dari ancaman narkoba.

Pada 2022, Polri menyelesaikan 33.169 perkara narkoba dengan nilai peralatan bukti sekitar Rp11,02 triliun. Dalam paparan resmi, peralatan bukti nan diungkap mencakup 78,2 ton ganja, 416.100 batang pohon ganja, 6,3 ton sabu, 55 kilogram kokain, 0,26 kilogram heroin, 27 kilogram tembakau gorila, dan 1 juta butir ekstasi. Dari pengungkapan tersebut, sekitar 104,4 juta jiwa disebut sukses diselamatkan dari potensi penyalahgunaan narkoba.

Pada 2023, Polri mengungkap sekitar 39 ribu kasus narkoba, menyita peralatan bukti senilai Rp12,8 triliun, serta menyelamatkan 35,7 juta jiwa. Rincian nan diumumkan antara lain 7,5 ton ganja, 22.029 batang pohon ganja, 11,5 kilogram kokain, 1,5 juta butir ekstasi, 6,1 ton sabu, dan 105 kilogram tembakau gorila. Selain penindakan lapangan, Polri juga melakukan pencarian aset hasil kejahatan narkoba dalam jumlah besar.

Pada 2024, Polri mencatat 42.824 kasus nan diungkap dan 36.174 perkara nan diselesaikan. Nilai peralatan bukti diperkirakan mencapai Rp8,6 triliun, dengan klaim pengamanan 40,4 juta jiwa. Pada tahun nan sama, Polri juga membongkar laboratorium narkoba terselubung di Jawa Barat, jaringan internasional Afghanistan-Aceh-Jakarta dengan 389 kilogram sabu, serta laboratorium narkoba di Bali nan menunjukkan bahwa ancaman narkoba telah bergerak dengan metode nan semakin canggih.

Pada 2025, Polri mencatat 48.592 kasus, 64.055 orang diamankan, total peralatan bukti 590 ton, dengan nilai sekitar Rp41 triliun. Pemberantasan narkoba tidak melangkah stagnan, tetapi meningkat dalam daya jangkau dan kapabilitas penindakan. Sementara pada 2026 hingga April, pengungkapan tetap terus melangkah melalui operasi-operasi wilayah, termasuk penyitaan 67 kilogram sabu di Merak, pengungkapan jaringan di Bali, serta penindakan di beragam wilayah lain.

"Ketika nomor pengungkapan meningkat secara konsisten, itu menandakan negara tidak sedang diam. Sistem deteksi, pemetaan ancaman, dan tindakan lapangan bekerja semakin efektif. Dalam rumor narkoba, keterlambatan satu langkah saja bisa berfaedah ribuan anak muda terseret ke lembah kerusakan," jelas Haidar Alwi.

Berdasarkan info resmi nan bisa diverifikasi, pengamanan generasi masa depan sangat besar. Polri pada 2021 sukses menyelamatkan 39,24 juta jiwa, pada 2022 sekitar 104,4 juta jiwa, pada 2023 35,7 juta jiwa, dan pada 2024 40,4 juta jiwa. Jika empat nomor ini dijumlahkan, hasilnya sekitar 219,74 juta jiwa nan menurut kalkulasi resmi Polri terselamatkan dari peredaran gelap narkoba.

Secara nilai ekonomi, nomor minimum nan kondusif dipakai dari laporan resmi berada di kisaran Rp11,66 triliun pada 2021, Rp11,02 triliun pada 2022, Rp12,8 triliun pada 2023, Rp8,6 triliun pada 2024, dan Rp41 triliun pada laporan penindakan setahun terakhir. Secara akumulatif minimum, nilainya sudah berada di kisaran Rp85 triliun lebih. Namun nomor sebesar itu tetap belum bisa menggambarkan nilai sesungguhnya, lantaran nan dipertaruhkan bukan hanya uang, tetapi kualitas generasi bangsa.

"Nilai keberhasilan Polri dalam pemberantasan narkoba tidak bisa diukur dengan rupiah semata, lantaran nan diselamatkan adalah kualitas manusia. Uang bisa dihitung, tetapi generasi nan tidak hancur akibat narkoba tidak punya nilai pasar," tegas Haidar Alwi.

Haidar mengapresiasi keahlian Sigit dan seluruh jejeran Polri, mulai dari Bareskrim, polda, polres, hingga personel lapangan nan bekerja di garis depan. Pada 29 Oktober 2025, Presiden Prabowo Subianto datang langsung di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, untuk memusnahkan 214,84 ton peralatan bukti narkoba senilai Rp29,37 triliun. Kehadiran Prabowo dalam momen tersebut dinilai menunjukkan bahwa perang melawan narkoba adalah agenda strategis negara.

Menurut Haidar Alwi Institute, Polri adalah lembaga strategis dalam menjaga keamanan nasional dan melindungi masa depan generasi bangsa. Pernyataan ini berangkat dari realita bahwa bangsa nan kandas melindungi anak mudanya dari narkoba sedang membiarkan masa depannya runtuh secara perlahan.

"Saya memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan seluruh jejeran Polri. Keberhasilan ini bukan hanya prestasi institusi, tetapi corak nyata pengamanan bangsa, lantaran setiap pengungkapan narkoba berfaedah ada generasi nan sukses dijauhkan dari kehancuran," pungkas Haidar Alwi. (rfs/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News