Gus Zainul Arifin Bongkar Cara Dakwah Islam yang lebih Diterima Anak Muda Tanpa Tinggalkan Tradisi Salaf

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Gus Zainul Arifin Bongkar Cara Dakwah Islam nan lebih Diterima Anak Muda Tanpa Tinggalkan Tradisi Salaf Ilustrasi(Dok Istimewa)

DI era ketika perhatian generasi muda lebih banyak tersita oleh media sosial, konten hiburan, dan tren digital nan terus berubah, menyampaikan dakwah menjadi tantangan tersendiri. Tidak sedikit tokoh kepercayaan nan kesulitan menjangkau anak muda lantaran perbedaan langkah komunikasi dan pola konsumsi info nan semakin dinamis. Namun perihal tersebut tidak bertindak bagi Gus Zainul Arifin.

Kiai muda asal Madura nan juga pengasuh Pondok Pesantren Al-Ghazali Sabrah, Bangkalan, ini justru sukses menarik perhatian kalangan Milenial dan Gen Z melalui pendekatan dakwah nan sederhana, relevan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Gus Zain, sapaannya, merupakan kelahiran Jawa Timur, 19 Juni 1984. Menariknya, semua itu dilakukan tanpa meninggalkan tradisi salaf nan selama ini menjadi fondasi utama pendidikan pesantren.

Menurut Gus Zain, salah satu kesalahan nan sering terjadi dalam dakwah adalah memandang generasi muda sebagai golongan nan susah menerima nasihat agama. Padahal, nan perlu diubah bukanlah isi pesannya, melainkan langkah penyampaiannya.

“Anak muda sebenarnya tidak anti terhadap agama. Mereka hanya memerlukan langkah penyampaian nan lebih dekat dengan kehidupan mereka,” ujar Gus Zain.

Pemikiran itulah nan kemudian menjadi dasar beragam aktivitas dakwah nan dia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Melalui akun IG @guszain.story, TikTok @guszain.story nan sekarang mempunyai lebih dari 20,4 ribu pengikut, serta akun FB pribadinya, Gus Zain secara aktif membagikan beragam pesan keislaman nan dikemas dengan style nan lebih segar dan mudah dipahami.

Alih-alih menggunakan bahasa nan berat dan formal, dia memilih menyampaikan nilai-nilai kepercayaan melalui kisah kehidupan, motivasi, pengalaman sehari-hari, hingga refleksi sederhana nan sering ditemui masyarakat.

Pendekatan tersebut terbukti efektif. Banyak anak muda nan merasa lebih nyaman mengikuti dakwah lantaran tidak merasa digurui. Sebaliknya, mereka merasa diajak berbincang dan memahami kepercayaan secara lebih dekat.
Kesuksesan dakwah digital nan dijalankan Gus Zain tidak lepas dari kemampuannya memahami karakter generasi masa kini. Ia menyadari bahwa media sosial telah menjadi ruang utama bagi anak muda untuk mencari informasi, hiburan, hingga inspirasi hidup.

Karena itu, dia menghadirkan beragam konten nan tidak hanya berisi ceramah, tetapi juga dikemas melalui visual menarik, kreasi modern, dan tema-tema nan relevan dengan persoalan kehidupan sehari-hari.
Konten seperti Ilmu Tak Tertulis dan Doa Mahabbah menjadi salah satu contoh gimana pesan-pesan kepercayaan nan kompleks dapat disampaikan dengan langkah nan ringan namun tetap mempunyai kedalaman makna.

Tak hanya aktif di media sosial, Gus Zain juga membangun ekosistem dakwah nan lebih luas melalui akun dakwah @story_guszain dan kanal YouTube STV Cermin Kaum Santri. Langkah tersebut dilakukan agar pesan-pesan keislaman dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dari beragam kalangan.

Meski dikenal aktif di bumi digital, Gus Zain tetap menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Esensi dakwah tetap terletak pada ilmu, akhlak, dan keteladanan.

Prinsip itulah nan membuatnya tetap konsisten menjaga tradisi pendidikan salaf di lingkungan pesantren nan diasuhnya. Bahkan di tengah kesibukannya berceramah secara digital, dia terus produktif menulis beragam kitab nan menjadi rujukan pembelajaran santri.
Salah satu karya nan paling dikenal adalah Al-Muroqi, sebuah metode sistematis nan dirancang untuk membantu santri mempercepat keahlian membaca dan memahami kitab kuning. Kitab tersebut mendapatkan apresiasi luas dan memperoleh rekomendasi dari sejumlah ustadz nasional, termasuk Ustaz Abdul Somad.

Selain Al-Muroqi, Gus Zain juga melahirkan sejumlah karya lain seperti Al-Qaulul Gholi, Al-Walid, Al-Mazar, dan Tholabul Aun nan semakin memperkuat kontribusinya dalam bumi pendidikan Islam.

Sikap terbuka Gus Zain terhadap perkembangan era juga terlihat dalam beragam aktivitas pesantren nan dipimpinnya. Salah satu nan paling menyita perhatian adalah saat peringatan Haflah dan Milad ke-102 Pondok Pesantren Al-Ghazali Sabrah.

Dalam aktivitas tersebut, Gus Zain menghadirkan grup musik reggae Rubbuz & Hamed Uye sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Keputusan itu menjadi perbincangan luas lantaran dinilai berbeda dari kebiasaan nan umum ditemukan di lingkungan pesantren.

Namun bagi Gus Zain, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya membangun komunikasi nan lebih luas dengan masyarakat tanpa menghilangkan identitas pesantren.
“Yang kudu dijaga adalah nilai dan akhlaknya. Sementara langkah menyampaikan pesan bisa mengikuti perkembangan zaman,” jelasnya.

Pendekatan inilah nan membikin banyak kalangan memandang Gus Zain sebagai representasi ustadz muda masa kini. Ia bisa menjaga keseimbangan antara tradisi dan inovasi, antara pesantren dan teknologi, serta antara dakwah dan realitas kehidupan modern.

Melalui kiprahnya, Gus Zainul Arifin menunjukkan bahwa dakwah nan disukai anak muda tidak kudu meninggalkan akar tradisi. Sebaliknya, ketika nilai-nilai Islam dikemas dengan langkah nan relevan, humanis, dan mudah dipahami, pesan dakwah justru dapat menjangkau lebih banyak hati serta memberikan akibat nan lebih luas bagi masyarakat. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia