Pemandangan ini kian lazim ditemui, Bimbingan Belajar (Bimbel) dipenuhi siswa terutama di jam-jam pulang sekolah. Pada pagi hari siswa duduk di bangku sekolah, sore hingga malam mereka beranjak ke ruang-ruang pengarahan belajar. Tidak peduli jadwal, jiwa jenuh padat dan tubuh lelah, orang tua dan siswa merasa itulah pilihan paling logis demi nilai tinggi untuk bekal melanjutkan sekolah ke jenjang nan lebih tinggi. Perlahan, sekolah tak lagi diposisikan sebagai ruang utama belajar, melainkan sekadar jalan untuk mendapatkan pengakuan umum pendidikan.
Menjamurnya pengarahan belajar sejatinya tidak lahir begitu saja. Kecemasan kolektif orang tua terhadap masa depan anak-anaknya mendorong pencarian pengganti pembelajaran di luar jam sekolah. Sistem seleksi pendidikan nan kompetitif, tekanan nilai, serta ketimpangan mutu pendidikan turut menyuburkan industri bimbel sebagai solusi praktis. Bahkan, dalam beberapa kasus, siswa agak mengabaikan tugas sekolah lantaran mereka lebih memprioritaskan tugas pengarahan belajar. Di jam sekolah, tak jarang siswa hanya datang secara bentuk di ruang kelas, sementara jiwanya ada di ruang bimbel dengan beragam tugas-tugasnya. Tampaknya, bimbel bergeser dari sekadar pendamping menjadi pusat utama proses belajar. Akhirnya, kekhawatiran bakal terkikisnya kepercayaan terhadap sekolah pun muncul. Guru seakan kalah pamor, bukan lantaran kurang kompeten, melainkan lantaran perannya tereduksi.
Di kehidupan nyata, pembimbing memikul beban nan tidak ringan. Kurikulum nan padat, sasaran capaian akademik nan ketat, serta manajemen nan menumpuk menyita daya dan waktu. Guru dituntut menuntaskan materi, menyelesaikan penilaian, mengisi laporan, dan memenuhi beragam parameter formal. Dalam kondisi demikian, upaya menjaga kedalaman makna pembelajaran dan penguatan karakter sering kali kudu diperjuangkan dengan melawan keterbatasan. Sementara itu, pengarahan belajar datang dengan janji sederhana namun menggoda seperti latihan intensif, trik cepat, dan hasil nan terukur.
Kehadiran pengarahan belajar tentu tidak perlu dipersoalkan. Guru dan bimbel dapat melangkah berdampingan dengan peran nan berbeda. Mendidik memerlukan proses nan konsisten dan berkelanjutan, sesuatu nan tidak sepenuhnya dapat disediakan oleh bimbel. Hanya saja, ketika keberhasilan pendidikan hanya diukur dari nomor dan peringkat, pembimbing berada pada posisi nan tidak adil. Khawatirnya, kejadian ini perlahan menggerus kepercayaan siswa terhadap guru. Padahal, persoalan utamanya terletak pada paradigma berbareng nan terlalu pragmatis dalam memandang pendidikan.
Di sinilah letak perbedaan mendasar antara mengajar dan mendidik. Bimbingan belajar unggul dalam mengasah keahlian teknis, menaklukkan jenis soal dan mengejar skor. Peran ini sah dan memang dibutuhkan. Namun, pendidikan tidak berakhir pada kecakapan akademik semata. Mendidik berfaedah menumbuhkan langkah berpikir kritis, membentuk sikap, mengajarkan kejujuran, ketekunan, empati, serta kesiapan menghadapi kegagalan. Nilai-nilai tersebut tidak lahir dari modul latihan soal, melainkan dari proses panjang hubungan manusiawi antara pembimbing dan murid.
Dampak jangka panjang dari situasi ini patut diwaspadai. Guru tidak mungkin mengontrol sepenuhnya langkah belajar siswa di luar sekolah. Akibatnya, siswa tumbuh dengan kepercayaan bahwa agar sukses bimbel adalah solusinya. Di bimbel, siswa terbiasa dibimbing langkah demi langkah, tetapi rentan ketika kudu berpikir mandiri. Sekolah berisiko kehilangan rohnya sebagai ruang bertumbuh, sementara pembimbing kehilangan otoritas moralnya sebagai pendidik.
Agar sekolah tetap menjadi ruang belajar nan utuh, nan dibutuhkan adalah reposisi peran. Sekolah kudu datang sebagai ruang solutif nan bisa menjawab kebutuhan siswa secara komprehensif. Guru dituntut adaptif, menguasai materi ujian, dan memahami strategi penyelesaian soal, tanpa kehilangan jati diri sebagai pendidik. Sekolah berkedudukan memberikan motivasi, support dan info strategis nan dibutuhkan pembimbing dalam memenuhi kebutuhan belajar siswa. Ketika siswa merasa aman, percaya, dan percaya bahwa kebutuhan belajarnya dapat dipenuhi di sekolah, pada akhirnya, pengarahan belajar bakal menemukan tempatnya secara proporsional, sebagai pendukung, bukan pengganti pembelajaran.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·