Jakarta, CNBC Indonesia - Erupsi Gunung Anak Krakatau baru-baru ini telah berakibat terhadap aktivitas penerbangan. Sebaran abu vulkanik membikin sejumlah airport melakukan penyesuaian operasional akibat potensi gangguan dari abu vulkanik nan terbawa angin.
Pakar gunung api Surono nan berkawan disapa Mbah Rono menyampaikan bahwa aktivitas erupsi Anak Krakatau saat ini merupakan bagian dari proses alami gunung tersebut. Khususnya untuk kembali membentuk tubuhnya setelah longsor besar pada 2018 lalu.
Menurut dia, Anak Krakatau memang perlu sering mengalami erupsi untuk mengeluarkan material baru nan kemudian menumpuk di sekitar tubuh gunung. Hal tersebut secara perlahan membikin Anak Krakatau kembali tumbuh menjadi lebih tinggi dan besar.
"Yang ancaman nan paling mungkin terjadi potensi tetap tetap ada longsor gitu kan, tapi tidak dalam waktu dekat ini. Kan baru kemarin 2018 kan Perlu waktulah untuk membentuk tubuh nan utuh kembali gitu kan, oleh lantaran itu dia bakal sering meletus dan sebagainya," kata Mbah Rono kepada CNBC Indonesia, Senin (7/9/2026).
Mbah Rono menjelaskan tingkat ancaman erupsi Anak Krakatau menjadi lebih signifikan lantaran lokasinya relatif dekat dengan sejumlah objek vital strategis. Ia menilai erupsi gunung api dengan karakter serupa sebenarnya tidak selalu menimbulkan perhatian besar andaikan tidak berada di dekat objek vital seperti Bandara Soekarno-Hatta maupun Bandara Raden Inten.
"Semakin besar Anak Krakatau otomatis dapur magma-nya gitu ya magmatic chamber-nya itu ya semakin besar. Kalau semakin besar ya potensi letusannya bakal besar gitu kan," katanya.
Ia pun memproyeksikan Bandara Soekarno-Hatta nan sebelumnya terdampak abu vulkanik Anak Krakatau berpotensi kembali mengalami gangguan serupa di kemudian hari. Hal nan sama juga bertindak terhadap Bandara Raden Inten dan objek vital strategis lainnya nan berada dalam jangkauan sebaran abu vulkanik.
Namun, dia menegaskan akibat tersebut bukan berasal dari lontaran material erupsi secara langsung. Abu nan mencapai wilayah tersebut merupakan abu vulkanik lembut nan dapat terbawa dan tersebar mengikuti arah serta kondisi angin.
"Bukan material pijar, bukan awan panas dari Anak Krakatau tetapi adalah abu lembut nan tersebar mengikuti arah angin gitu ya bukan langsung material nan menimpa langsung begitu. Kalau material nan menimpa langsung lantaran dia anak Krakatau sedang membentuk tubuhnya palingnya jatuh di sekitar puncak alias di tubuhnya gitu saja," kata dia.
(pgr/pgr)
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·