Jakarta, CNBC Indonesia - Singapura sedang berupaya keras untuk memposisikan dirinya sebagai pusat regional bagi perdagangan dan penyimpanan emas. Langkah besar ini diambil seiring dengan pertumbuhan permintaan logam mulia nan melonjak pesat di seluruh area Asia.
Mengutip lama setempat, Channel News Asia (CNA), minat untuk menyimpan emas di Singapura terus meningkat di antara para penanammodal dan lembaga dari beragam pasar terkemuka. Mereka disebut berasal dari pasar besar seperti India, Indonesia dan Vietnam.
Dilaporkan gimana para penanammodal sangat tertarik oleh reputasi Singapura. Tetangga RI itu selama ini terkenal dengan stabilitas dan keamanan serta tata kelola pemerintahan nan kuat.
Singapura juga menargetkan bank-bank sentral nan sedang mencari letak pengganti untuk menyimpan dan memperdagangkan emas mereka. Bank sentral sekarang sedang menilai kembali strategi persediaan devisa mereka di tengah ketidakpastian geopolitik dunia nan terus meningkat.
Tempat Berlindung nan Aman
Para pengamat menilai Singapura memang dapat menawarkan pengganti regional nan tepercaya bagi bank sentral di Asia. Pilihan ini menjadi tandingan bagi pusat penyimpanan tradisional nan berada di Eropa dan Amerika Serikat (AS).
Namun izin nan lebih jelas bakal tetap dibutuhkan. Terutama untuk mendukung transaksi nan kondusif dan pertumbuhan lebih lanjut di sektor ini.
"Dengan intensifikasi ketegangan geopolitik di seluruh bumi dalam beberapa tahun terakhir, banyak bank sentral nan betul-betul memikirkan yurisdiksi mana nan paling cocok bagi mereka untuk menempatkan salah satu persediaan nasional terpenting mereka," kata Kepala Global Bank Sentral sekaligus Kepala Asia-Pasifik di World Gold Council, Shaokai Fan.
Fan juga menambahkan mengenai kelebihan norma nan dimiliki oleh Singapura dalam menarik minat lembaga finansial internasional tersebut. "Saya pikir supremasi norma di Singapura dan netralitas relatifnya dalam urusan bumi menjadikannya tempat nan sangat menarik," ucapnya.
Jika bank sentral memilih untuk menyimpan emas di Singapura maka mereka juga kemungkinan bakal mulai membeli dan memperdagangkan logam mulia di sana. Langkah tersebut dinilai bakal membantu memperdalam pasar lokal dan memperluas visibilitas keahlian perdagangan emas Singapura.
"Ini juga dapat berfaedah sebagai semacam fondasi likuiditas," tambah Fan.
Emas tersebut dapat bergerak dengan baik di pasar jika bank-bank sentral asing mau memperdagangkan emas mereka secara lebih aktif setelah dipindahkan ke Singapura. Operator brankas swasta di Singapura sendiri secara kolektif telah menyimpan logam mulia senilai miliaran dolar milik pengguna dari seluruh dunia.
"Orang-orang mencari aset safe haven lantaran bumi menjadi semakin tidak dapat diprediksi," tutur pendiri operator brankas logam mulia The Safe House Singapore, Gregor Gregersen
Klien dari perusahaan tersebut tidak memandang emas hanya sekadar sebagai instrumen investasi biasa. Mereka memandang logam mulia sebagai corak perlindungan kekayaan jangka panjang. Perusahaan tersebut pada dasarnya bertindak sebagai rencana persediaan keselamatan di tengah bumi nan menjadi semakin tidak pasti.
The Safe House saat ini menyimpan logam kotor senilai sekitar S$ 4 miliar alias setara Rp 54 triliun. Sebagian besar pengguna mereka datang dari wilayah Eropa dan Australia serta Amerika Serikat. Perusahaan ini juga telah berinvestasi dalam bagian teknologi untuk meningkatkan keamanan aset nan disimpan.
Gregersen juga menjelaskan mengenai prosedur krusial dalam pengelolaan logistik logam mulia di dalam brankas.
"Jika Anda memindahkan peralatan masuk dan keluar, Anda hanya perlu memastikan bahwa logam mulia tersebut akhirnya sampai di tempat nan seharusnya," jelasnya.
Penyimpanan jangka panjang juga dapat didukung oleh sistem bukti cadangan. Sistem ini memungkinkan pemilik untuk memverifikasi keberadaan emas mereka dan meningkatkan transparansi.
Kepastian Hukum nan Diperlukan
Beberapa brankas emas terbesar di bumi saat ini dioperasikan oleh Federal Reserve Bank of New York. Lembaga tersebut menyimpan sekitar 6.000 ton emas dan apalagi pernah menyimpan hingga 12.000 ton emas. Bank of England juga mengoperasikan brankas besar nan menyimpan sekitar 5,000 ton emas.
Fan dari World Gold Council memberikan kajian lanjutan mengenai potensi perpindahan aset persediaan emas bumi ke wilayah baru. "Dunia sedang mengalami perubahan signifikan sekarang, jadi kita mungkin memandang emas bank sentral mulai beranjak ke tempat lain," paparnya.
Singapura mungkin tidak bakal bisa menandingi kapabilitas penyimpanan raksasa milik kedua lembaga bumi tersebut. Namun para pelaku industri menilai bahwa pembentukan patokan nan jelas tentang kepemilikan dan akses bakal menjadi kunci utama untuk menarik simpanan.
Fan menyatakan masalah seputar yurisdiksi dan kepemilikan sah atas emas telah menjadi semakin krusial dalam beberapa tahun terakhir. Dia menunjuk perselisihan jangka panjang nan melibatkan emas Venezuela nan disimpan di Bank of England sebagai contoh nyata dari tantangan nan dapat muncul.
Fan memberikan rincian kasus pembekuan emas milik Venezuela tersebut sebagai pelajaran krusial bagi Singapura.
"Pemerintah Venezuela telah mencoba memindahkan emasnya keluar dari Bank of England selama beberapa waktu. Namun lantaran tidak adanya pengakuan terhadap rezim Maduro oleh pemerintah Inggris, perihal itu menahan pergerakan emas ini," jelasnya.
Singapura dinilai kudu mencari kejelasan lebih lanjut tentang apa nan terjadi ketika ada perselisihan mengenai siapa pemilik sah dari emas bank sentral tersebut. Pelaku industri juga mengatakan pengaturan kustodian di pusat perdagangan utama bakal membikin emas menjadi lebih berfaedah di dalam sistem keuangan.
"Alasan kenapa orang kudu menempatkan emas mereka dalam kustodian adalah jika Anda meletakkan emas Anda di bawah kasur Anda, itu tidak dapat digunakan lantaran terpisah dari sistem keuangan," tegas CEO Singapore Bullion Market Association, Albert Cheng.
Emas bakal menjadi sangat mudah diakses oleh pasar perdagangan jika disimpan di pusat perdagangan alias pusat penyelesaian. Hal ini sangat berfaedah jika pemilik mau menggunakan emas tersebut sebagai agunan untuk aktivitas pasar finansial lainnya.
Otoritas Moneter Singapura sekarang sedang bekerja sama dengan para pelaku industri untuk mengembangkan produk investasi emas. Mereka juga berupaya membangun sistem kliring untuk mendukung perdagangan emas demi menumbuhkan pasar logam mulia lokal.
(tps/sef)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·