Ginandjar Kartasasmita: Kepercayaan Investor Kunci Jaga Stabilitas Kurs Rupiah

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ginandjar Kartasasmita. Foto: M Agung Rajasa/ANTARA FOTO

Menteri Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) 1998-1999, Ginandjar Kartasasmita, menegaskan bahwa kunci utama untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terletak pada kepercayaan penanammodal terhadap ekonomi Indonesia. Ia menilai, stabilitas kurs tidak semata ditentukan oleh intervensi moneter, melainkan oleh kepercayaan pelaku pasar untuk kembali memegang dan berinvestasi dalam rupiah.

Menurut Ginandjar, ketika kepercayaan terhadap rupiah pulih, pelaku ekonomi tidak lagi beramai-ramai membeli dolar AS. Sebaliknya, mereka bakal kembali membeli rupiah untuk kebutuhan investasi, impor, maupun aktivitas ekonomi lainnya.

“Kuncinya itu. Kalau tidak lagi membuang rupiah dan kembali membeli rupiah, maka stabilitas bakal terbentuk,” ujarnya dalam peluncuran kitab riwayat hidup "Ginandjar Kartasasmita: Pengabdian dari Masa ke Masa", Kamis (9/4).

Ia menambahkan, penguatan kepercayaan tersebut juga kudu dibarengi dengan tata kelola nan baik, termasuk memastikan support internasional tidak disalahgunakan. Kepercayaan dari lembaga dunia seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi aspek penting, lantaran aliran biaya dari luar negeri bakal kembali masuk dan dikonversi ke rupiah, sehingga memperkuat nilai tukar domestik.

Peluncuran kitab riwayat hidup Ginandjar Kartasasmita. Foto: Istimewa

Pengalaman menghadapi krisis 1998 menjadi pelajaran penting. Saat itu, rupiah sempat terjun bebas dari kisaran Rp 2.300–Rp 2.400 per dolar AS sebelum krisis, hingga menyentuh sekitar Rp15.000 per dolar AS pada puncaknya.

Namun, seiring dengan pemulihan kepercayaan pasar dan reformasi ekonomi nan dilakukan pemerintah, rupiah berangsur menguat hingga kembali ke kisaran Rp 6.500–Rp 7.000 per dolar AS pada akhir masa pemerintahan B. J. Habibie.

Ginandjar nan saat itu menjabat sebagai Menko Ekuin berkedudukan dalam konsolidasi kebijakan ekonomi dan politik. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas politik dan pemulihan ekonomi, lantaran gejolak politik terbukti menjadi salah satu aspek nan memperparah krisis.

Selain itu, pemerintah juga menempuh beragam langkah strategis seperti restrukturisasi sektor perbankan dan korporasi, serta memulihkan hubungan dengan IMF. Salah satu langkah krusial adalah membuka kembali perbincangan dengan IMF dan menandatangani Letter of Intent (LoI) secara transparan kepada publik, guna menghilangkan kecurigaan dan membangun kembali kepercayaan masyarakat.

Dalam proses tersebut, Ginandjar juga menekankan pentingnya kekompakan antarmenteri ekonomi. Ia menyebut, meski terdapat perbedaan pandangan dalam pengambilan kebijakan, soliditas kabinet menjadi aspek penentu keberhasilan dalam menjaga stabilitas dan mengarahkan pemulihan ekonomi.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tidak bisa dilepaskan dari aspek esensial berupa kepercayaan. Ketika penanammodal percaya terhadap arah kebijakan dan integritas pengelolaan ekonomi, arus modal bakal kembali masuk, permintaan terhadap rupiah meningkat, dan pada akhirnya kurs dapat lebih terkendali.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan