Gerindra Miris Ada Pihak Dorong Prabowo Naikkan Harga BBM

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Jakarta -

Wakil Ketua Komisi XII DPR Fraksi Gerindra Bambang Haryadi mengaku miris ada pihak nan mendorong Presiden Prabowo Subianto untuk meningkatkan nilai BBM imbas bentrok AS-Israel dengan Iran serta negara-negara Teluk. Bambang Haryadi menyebut banyak hoaks nan tercipta belakangan ini.

Hal itu disampaikan Bambang dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Dirjen Migas, Kepala SKK Migas, Kepala BPH Migas hingga Dirut Pertamina Patra Niaga. Ia menyebut akibat perang di Timur Tengah mengguncang masyarakat.

"Dalam menangani kondisi terakhir pasca terjadinya perang Iran dan Amerika kita tahu dalam belakangan ini ada banyak perihal nan mengguncang masyarakat, dalam perihal ini membikin kepanikan," kata Bambang dalam rapat di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (8/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bambang Haryadi menyebut saat Prabowo berkomitmen tidak mau membebankan rakyat, justru ada pihak nan mendorong nilai BBM untuk dinaikkan. Ia mengaku miris dengan perihal itu.

"Banyaknya hoaks apalagi ada nan sangat kita miris ada pihak-pihak alias tokoh masyarakat kan, nan biasanya selalu terdepan memihak kepentingan masyarakat, tapi ketika ada seorang Presiden nan berdiri tegak dan dia berani mempertahankan pemerintahannya dengan menetapkan tidak meningkatkan harga, malah didorong-dorong meningkatkan harga, di mana keberpihakannya?" ujar dia.

Ia mempertanyakan sikap nan dilakukan oleh tokoh tersebut. Bambang Haryadi mengatakan pihak nan mendorong nilai BBM naik dikenal vokal menyuarakan kepentingan rakyat.

"Apa salahnya Presiden ketika beliau tidak mau meningkatkan harga, malah ada beberapa tokoh, apalagi tokoh-tokoh ini nan sering vokal bersuara memihak kepentingan rakyat malah mendorong pemerintah menaikan BBM," katanya.

Bambang Haryadi mengatakan rumor sisa BBM hanya 21 hari juga ramai di media sosial. Padahal, lanjutnya, narasi di medsos hoaks dan bukan kebenaran sebenarnya nan disampaikan oleh pejabat negara.

"Dan juga bertebarnya hoaks, kelangkaan rumor sisa 21 hari ini nan tidak tersampaikan dengan jelas. 21 hari nan dimaksud adalah kondisi BBM nan ada di Indonesia, jadi 21 hari dalam artian bukan 21 hari nan tersisa," ujar Bambang Haryadi.

"Tapi, misalnya kondisi tidak ada pasokan sama sekali itu kita memperkuat 21 hari tapi rupanya kan kita kudu jelaskan bahwa pasokan melangkah secara stabil apalagi saya sering koordinasi dengan Pertamina, kita itu dari selat hormuz itu hanya sekitar 15-18%," sambungnya.

Bambang Haryadi mengatakan pasokan BBM kebanyakan mengambil di luar negara Timur Tengah. Ia mempertanyakan kenapa hoaks tersebut dibuat.

"Selain itu banyak tidak mengambil dari Middle East tapi banyak dari Angola, dari Nigeria, apalagi sebagian ada dari Amerika. Jadi hoaks-hoaks nan diciptakan dalam media sosial sangat sigap dan masif entah siapa nan bekerja membikin kepanikan seolah-olah BBM kita tidak ada," imbuhnya.

(dwr/rfs)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News