Geramnya Amran Gula Rafinasi Bocor-Bongkar Buktinya: Aneh bin Ajaib!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman mengungkap adanya kejanggalan dalam tata niaga gula nasional. Hal itu disampaikannya dalam Rapat Kerja berbareng Komisi VI DPR RI, terutama mengenai dugaan rembesan gula rafinasi ke pasar konsumsi.

"Ini memang ada nan agak aneh, Bu (Pimpinan Komisi VI DPR RI). Satu sisi produksi kita kurang, tapi gulanya tidak bisa laku. Jadi produksi kita kurang tapi molase gula tidak bisa laku," ungkap Amran dalam Raker di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026).

Ia menyebut kondisi tersebut sebagai anomali, lantaran di tengah kekurangan produksi, gula dan produk turunannya justru tidak terserap pasar.

"Ibu Ketua, Wakil Ketua pasti tahu di Jawa Timur, dan itu terjadi di Oktober. Tidak bisa laku, jadi ada indikasi tidak bisa laku jadi ada anomali di situ," katanya.

Amran mengungkap, salah satu penyebab kondisi tersebut adalah masuknya gula rafinasi, nan berasal dari impor, ke pasar konsumsi.

"Yang terjadi di lapangan, Bu, rafinasi banjir. Kalau bocor sedikit, ini banjir. Nah itu terjadi, kami langsung telepon, lantaran ada laporan dari petani di Jawa Tengah, Kalimantan Timur, Sulawesi Selatan, itu rafinasi nan langsung masuk ke lapangan, ke pasar," sebut dia.

Ia menjelaskan, secara bentuk gula rafinasi susah dibedakan dengan gula konsumsi sehingga memperparah kondisi di lapangan.

"Dan memang, Bu, itu ICUMSA (International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis) istilahnya, tingkat keputihannya, white sugarnya Indonesia, rafinasinya luar negeri, itu mirip warnanya. Ini persoalan besar. Jadi nan memukul petani kita, kita sendiri," katanya.

Saat ditemui usai rapat, Amran kembali menegaskan adanya anomali tersebut dan dampaknya terhadap pasar gula domestik.

"Dulu harganya tetes tebu alias molase itu Rp1.900 per kg, sekarang turun sampai Rp1.000 (per kg), ada apa? Kemudian gula tidak bisa laku, apalagi PTPN (PT Perkebunan Nusantara) terpukul, rugi tadi disampaikan itu Rp600 miliar. Jadi, harusnya semua gula PTPN laku, tetapi tidak bisa laku, kenapa? Ada rembesan gula rafinasi, sehingga solusinya adalah Bapak Presiden perintahkan larangan terbatas (lartas) dan itu sudah terbit," jelas Amran.

Ia juga mengungkap temuan di lapangan mengenai pengedaran gula rafinasi nan masuk ke pasar konsumsi.

"Waktu itu rembesannya kita tangkap di Jawa Tengah, kemudian Kalimantan Selatan dan beberapa wilayah lainnya, rembesan dari gula rafinasi tetapi dikategorikan, dimasukkan ke pasar sebagai white sugar alias gula konsumsi, ini membahayakan," katanya.

Ia menilai, kondisi ini membikin situasi menjadi janggal.

"Nah gara-gara nan tadi, rembesan rafinasi bisa keluar (jadi seakan-akan white sugar alias gula konsumsi), jadi asing bin ajaib. Kita impor tapi gula kita tidak bisa laku, kita impor tapi molase kita tidak bisa laku, asing banget kan?" pungkas dia.

Rapat Kerja Komisi VI DPR RI berbareng Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, dan Danantara di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)Foto: Rapat Kerja Komisi VI DPR RI berbareng Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)
Rapat Kerja Komisi VI DPR RI berbareng Menteri Pertanian, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan, dan Danantara di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (8/4/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizky)

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News