Generasi 20-an dan Dilema Memilih Bank: Konvensional atau Syariah?

Sedang Trending 57 menit yang lalu
Ilustrasi Bank Syariah. Foto: Shutterstock

Pernah dengar komentar seperti ini di lingkungan sekitar: "Ah, bank syariah sama aja kok. Bagi hasilnya mirip-mirip sama kembang bank biasa." Kalau Anda sering berbaur di lingkungan nan melek keuangan, nyaris pasti pernah.

Jujur saja, pertanyaan itu sah. Karena jika Anda cek angkanya bulan ini, bagi hasil tabungan syariah memang kadang terlihat sangat mirip dengan kembang tabungan konvensional. Lalu bedanya di mana?

Mari kita bongkar ini pelan-pelan. Bukan dari perspektif pandang dakwah, tapi dari perspektif pandang sistem finansial nan sebenarnya.

Dari Mana Bank Syariah Mendapatkan Uang?

Ini pertanyaan nan wajar dan jarang dijawab dengan jelas. Bank konvensional hidup dari selisih bunga; mereka pinjam uangmu dengan kembang rendah, lampau pinjamkan ke orang lain dengan kembang lebih tinggi. Selisihnya adalah untung mereka.

Bank syariah punya beberapa jalur pendapatan nan berbeda. Pertama adalah margin murabahah di mana bank membeli aset alias peralatan terlebih dahulu, lampau menjualnya ke pengguna dengan nilai lebih tinggi nan sudah disepakati berbareng sejak awal. Ini secara prinsip adalah jual beli biasa, bukan bunga. Kedua adalah bagi hasil dari skema mudharabah dan musyarakah, di mana bank ikut "berinvestasi" dalam upaya pengguna dan mendapat porsi dari keuntungannya. Ketiga adalah ujrah alias fee atas jasa-jasa perbankan seperti transfer dan pengelolaan rekening. Dan keempat adalah ijarah ialah pendapatan dari transaksi sewa aset.

Jadi bank syariah tetap profit. Hanya saja sumber dan sistem pendapatannya berbeda secara struktural.

Credit by: unsplash.com

Lalu Apa Bedanya dengan Bagi Hasil dengan Bunga?

Secara konsep, perbedaannya fundamental.

Bunga ditetapkan di awal dan berkarakter tetap, contohnya Anda pinjam Rp100 juta dengan kembang 12% per tahun, maka setiap bulan Anda bayar sekitar Rp1 juta sebagai bunga, tidak peduli usahamu sedang untung besar alias merugi. Risiko sepenuhnya ada di pundak peminjam.

Bagi hasil bekerja sebaliknya. Angkanya tidak ditetapkan, melainkan disepakati dalam corak nisbah alias rasio. Misalnya 70:30 dari untung upaya nan nyata, 70% untuk pengguna dan 30% untuk bank. Bulan ini untung Rp10 juta? Bank dapat Rp3 juta. Bulan depan upaya sunyi dan untung hanya Rp2 juta? Bank hanya dapat Rp600 ribu. Keduanya merasakan naik-turunnya kondisi upaya secara bersamaan.

Perbedaan inilah nan dalam pengetahuan ekonomi disebut risk-sharing alias pembagian akibat nan lebih setara antara pemilik modal dan pengguna modal. Ini bukan sekadar soal legal alias haram, tapi soal siapa nan menanggung akibat dari setiap keputusan ekonomi.

Credit by: unsplash.com

Tapi Angkanya Sering Mirip, Gimana Penjelasannya?

Ini bagian nan jarang dibahas dengan jujur. Memang betul dalam praktiknya di Indonesia, bagi hasil nan diterima pengguna bank syariah sering terlihat "kebetulan" mirip dengan kembang bank konvensional. Bukan lantaran prinsipnya sama, tapi lantaran keduanya beraksi di ekosistem ekonomi nan sama.

Bank syariah di Indonesia tetap sangat dipengaruhi oleh BI Rate ialah suku kembang referensi nan ditetapkan Bank Indonesia. Ketika BI Rate naik, imbal hasil produk bank syariah ikut naik. Ketika turun, bagi hasilnya juga condong turun. Hal ini lantaran bank syariah pun kudu berkompetisi menarik pengguna nan membandingkan produk mereka dengan bank konvensional.

Jadi kritiknya lebih tepat diarahkan ke implementasi, bukan ke konsepnya. Ibarat kendaraan listrik nan tetap mengisi daya dari pembangkit batu bara; teknologinya berbeda, tapi ekosistemnya belum sepenuhnya mendukung perbedaan itu terlihat nyata.

Jadi, Haruskah Berpindah ke Bank Syariah?

Itu bukan pertanyaan nan bisa dijawab satu ukuran untuk semua orang. nan lebih krusial adalah memahami apa nan Anda pilih dan mengapa.

Jika Anda mencari instrumen nan secara prinsip menerapkan keadilan berbagi risiko, bank syariah menawarkan kerangka nan berbeda. Jika Anda semata-mata mengejar return tertinggi tanpa mempertimbangkan mekanismenya, maka komparasi nomor adalah perihal nan relevan.

Yang tidak tepat adalah menyamakan keduanya hanya lantaran nomor akhirnya kadang mirip. Itu seperti menyebut kereta api dan mobil "sama saja" lantaran keduanya bisa membawa Anda dari Jakarta ke Bandung. Tujuannya sama, tapi langkah kerjanya dan konsekuensinya berbeda.

Pertanyaan nan lebih produktif bukan "sama alias beda?" tapi "Mekanisme mana nan lebih sejalan dengan nilai dan tujuan keuanganku?" untuk menjawab itu, Anda perlu memahami keduanya bukan hanya percaya pada klaim salah satu pihak.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan