ilustrasi(Antara)
Gencatan senjata sementara antara Amerika Serikat dan Iran nan dimediasi Pakistan menjadi katalis positif bagi pasar finansial global, termasuk Indonesia. Pengamat pasar duit dan komoditas Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah bakal menguat dan harga emas berpotensi menembus rekor.
Ia menjelaskan perkembangan ini terjadi secara tak terduga, ketika Presiden AS Donald Trump dan Iran sepakat menunda perang. Menurut Ibrahim, langkah ini di luar perkiraan, terutama setelah adanya indikasi persenjataan Iran bisa melumpuhkan pesawat-pesawat canggih milik Amerika Serikat. Kondisi tersebut dinilai membikin Amerika mempertimbangkan jalur diplomasi, hingga akhirnya menerima sejumlah poin nan diajukan Iran dalam perundingan.
Kesepakatan ini mencakup gencatan senjata selama dua minggu, termasuk pembukaan kembali jalur strategis Selat Hormuz. Selama periode tersebut, aktivitas transportasi dan pengedaran daya diperkirakan kembali normal seperti sebelum bentrok meningkat.
Pembukaan jalur ini memberikan sentimen positif bagi ekonomi global, terutama lantaran sebelumnya nilai minyak sempat mengalami kenaikan tajam, namun sekarang berpotensi turun seiring meredanya ketegangan.
"Rupiah pun bakal menguat cukup signifikan dalam dua minggu ke depan. Level Rp.17.120 per dolar AS kemungkinan besar bakal terhenti," ungkapnya dalam keterangan resmi, Rabu (8/4).
Penguatan ini didorong oleh kombinasi faktor, termasuk meredanya akibat geopolitik dan pelemahan indeks dolar AS. Dalam kondisi ini, penguatan rupiah dinilai wajar, apalagi pasar merespons positif kesempatan stabilisasi pasokan daya dunia nan kembali lancar melalui Selat Hormuz.
Stabilnya pengedaran minyak juga membuka kesempatan bagi negara-negara untuk menurunkan nilai bahan bakar nan sebelumnya sempat dinaikkan akibat tekanan nilai minyak dunia. Dengan demikian, dalam jangka pendek bakal tercipta ketenangan di pasar daya global.
Di sisi lain, nilai emas bumi justru diperkirakan mengalami kenaikan. Dalam dua minggu ke depan, nilai emas disebut berpotensi mendekati 5.000 dolar AS per troy ons. Kenaikan ini juga bakal berakibat pada nilai emas domestik.
"Logam mulia diproyeksikan bisa mendekati Rp3 juta per gram," ramalnya.
Kondisi ini dipengaruhi oleh pelemahan dolar serta meningkatnya minat terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.
Selain aspek geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga menjadi perhatian.
Ada indikasi perubahan kepemimpinan di bank sentral AS, di mana Ketua Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell disebut mendekati akhir masa jabatannya dan berpotensi digantikan oleh Kevin Walsh. Pergantian ini dinilai bisa mendorong kebijakan nan lebih akomodatif, termasuk penurunan suku bunga.
Ibrahim menambahkan, penurunan nilai energi, termasuk minyak dan bensin di Amerika Serikat, juga berpotensi menekan inflasi. Dengan inflasi nan lebih stabil, bank sentral AS mempunyai ruang untuk kembali menurunkan suku bunga, nan pada akhirnya turut memengaruhi pergerakan pasar global.
Di tengah dinamika tersebut, bank sentral dunia dan penanammodal besar mulai meningkatkan alokasi ke emas sebagai aset lindung nilai. Peralihan dari dolar ke emas dinilai semakin kuat, terutama setelah dolar sebelumnya kerap digunakan sebagai instrumen dalam bentrok ekonomi. Dengan beragam aspek pendukung, mulai dari geopolitik, kebijakan moneter, hingga dinamika permintaan dan pasokan.
"Harga emas bumi diperkirakan terus mengalami kenaikan, apalagi berpotensi mencapai 6.000 dolar AS per troy ons pada akhir tahun," tandas Ibrahim. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·