Jakarta, CNBC Indonesia - Para pemimpin bumi berpacu dengan waktu untuk menyelamatkan pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran di tengah meningkatnya akibat runtuhnya gencatan senjata nan baru saja diumumkan. Upaya diplomasi semakin tertekan seiring serangan Israel di Lebanon nan terus berlanjut, memicu kekhawatiran bakal kembalinya bentrok berskala besar di Timur Tengah.
Ketika pesawat Air Force Two membawa Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance menuju Pakistan untuk melakukan pembicaraan dengan pejabat Iran, posisi gencatan senjata nan dimediasi Presiden Donald Trump terlihat semakin rapuh.
Dilansir dari The New York Times, gencatan senjata nan diumumkan pada Selasa lampau itu sekarang terancam batal, terutama lantaran Iran menilai serangan Israel ke Lebanon melanggar kesepakatan nan mencakup penghentian serangan terhadap Iran dan sekutunya, dengan hadiah kelancaran jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak tekanan internasional untuk menghentikan operasi militer terhadap golongan Hezbollah nan didukung Iran di Lebanon selatan. Sikap ini menjadi sumber ketegangan utama nan berpotensi menggagalkan pembicaraan krusial antara Washington dan Teheran nan dijadwalkan berjalan di Islamabad.
Iran sempat menakut-nakuti membatalkan pertemuan dengan Vance nan direncanakan berjalan Sabtu waktu setempat. Namun, kehadiran delegasi Iran di Islamabad pada Jumat memberi sinyal bahwa pembicaraan kemungkinan tetap berjalan, meski situasinya penuh ketidakpastian.
Kekhawatiran terhadap akibat bentrok ini tidak hanya berkarakter geopolitik, tetapi juga ekonomi global. Presiden Bank Dunia Ajay Banga memperingatkan bahwa jika perang kembali pecah dan Iran mengganggu jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz, pertumbuhan ekonomi dunia bisa melambat secara signifikan dan inflasi bakal meningkat.
Sejumlah negara pun bergerak aktif menjaga jalur diplomasi tetap terbuka. Presiden Prancis Emmanuel Macron menekan Israel untuk menghentikan serangan di Lebanon. Perdana Menteri Inggris menyelesaikan kunjungan tiga hari ke negara-negara Teluk untuk membahas pembukaan kembali jalur pelayaran. Sementara itu, Arab Saudi mendesak China untuk terus menekan Iran agar tetap terlibat dalam proses diplomasi.
Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyebut pertemuan antara Amerika Serikat dan Iran sebagai momen "penentu hidup alias mati". Ia mengungkapkan telah menerima banyak komunikasi dari para pemimpin dunia, termasuk dari Qatar, Jerman, Australia, dan Inggris, nan menunjukkan tingginya perhatian dunia terhadap perkembangan situasi ini.
Meski pembicaraan tetap berlangsung, para analis menilai bentrok di Lebanon telah merusak atmosfer perundingan. Profesor Vali R. Nasr dari Johns Hopkins mengatakan, "Lebanon telah mengubah konteks pembicaraan."
Ia menambahkan bahwa ketegangan ini memperdalam ketidakpercayaan nan sudah lama ada antara kedua negara, apalagi setelah lima minggu bentrok dan sejarah panjang perselisihan.
Menurut Nasr, perbedaan tajam mengenai program nuklir Iran, keamanan Selat Hormuz, dan rumor strategis lainnya bakal semakin susah dijembatani. Bahkan, para diplomat veteran meragukan kemungkinan tercapainya kesepakatan besar tanpa memperpanjang pemisah waktu dua minggu nan ditetapkan dalam gencatan senjata.
Ia juga menggarisbawahi kecurigaan Iran terhadap Presiden Trump, dengan mengatakan, "Jika Anda sudah berpikir bahwa orang ini, Tuan Trump, mungkin bakal menipu Anda, itu pertanda buruk." Ketidakpercayaan ini diperkuat oleh pengalaman masa lalu, termasuk keputusan Trump keluar dari kesepakatan nuklir 2015 dan tindakan militer mendadak terhadap Iran dalam setahun terakhir.
Delegasi Amerika Serikat nan dipimpin Vance bakal didampingi utusan unik Steve Witkoff dan Jared Kushner. Mereka dijadwalkan berjumpa dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi serta Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Namun, belum jelas apakah pertemuan bakal dilakukan secara langsung alias melalui perantara Pakistan.
Pembicaraan ini bakal berjalan di Hotel Serena Islamabad, nan sebelumnya diminta mengosongkan tamu lantaran digunakan pemerintah Pakistan untuk aktivitas krusial tersebut. Para diplomat menilai pertemuan langsung lebih efektif, meski juga berisiko secara politik lantaran bisa dianggap terlalu kompromistis.
Peran negara lain juga sangat menentukan, terutama China nan sangat berjuntai pada pasokan daya dari area Teluk melalui Selat Hormuz. Ryan Hass dari Brookings Institution mengatakan bahwa eskalasi bentrok bakal bertentangan dengan kepentingan China dalam menjaga stabilitas pasar daya global. Hal ini memperkuat laporan bahwa Beijing mendorong Teheran menerima gencatan senjata.
Seorang pejabat Arab Saudi juga menyebut Riyadh mendorong China tetap aktif dalam proses diplomasi. Sementara itu, ahli bicara Kedutaan Besar China di Washington, Liu Pengyu, menyatakan bahwa negaranya terus bekerja sejak awal bentrok "untuk membantu mewujudkan gencatan senjata dan mengakhiri konflik."
Para mahir menilai gencatan senjata tetap memperkuat meski penuh kelemahan lantaran kedua pihak mempunyai kepentingan besar untuk menghindari eskalasi. Iran menghadapi tekanan militer dan ekonomi nan berat, tetapi mempunyai pengaruh besar melalui kemampuannya mengganggu jalur pelayaran di Selat Hormuz. Di sisi lain, Trump menghadapi kenaikan nilai bahan bakar, support publik nan melemah, serta tekanan dari pedoman politiknya sendiri.
Namun, sedikit nan memperkirakan bahwa Lebanon bakal menjadi aspek paling rawan dalam upaya perdamaian ini. Bagi Netanyahu, Lebanon sangat krusial lantaran menjadi pedoman Hezbollah, golongan nan telah lama menjadi ancaman bagi Israel dan terlibat bentrok lintas pemisah selama bertahun-tahun.
Setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, Netanyahu semakin berkeinginan untuk melucuti alias menghancurkan Hezbollah sesuai mandat PBB nan selama ini mandek. Meskipun Trump sempat meminta Israel mengurangi serangan, dan Netanyahu menyatakan bakal berasosiasi dalam pembicaraan dengan pemerintah Lebanon, kenyataannya di lapangan belum menunjukkan penurunan intensitas serangan.
Trump sempat menyatakan bahwa Israel bakal "mengurangi" operasinya di Lebanon, namun Netanyahu justru menegaskan bahwa dia tidak pernah menyetujui gencatan senjata di Lebanon dan bakal terus "menyerang Hezbollah dengan kekuatan penuh."
Upaya menekan Israel terus dilakukan. Presiden Prancis Emmanuel Macron apalagi mengecam serangan nan disebutnya sebagai "serangan tanpa pandang bulu" di Lebanon. Sementara itu, Duta Besar Israel untuk AS, Yechiel Leiter, menegaskan bahwa negaranya menolak membahas gencatan senjata dengan Hezbollah nan disebutnya sebagai penghambat utama perdamaian.
Nasr menilai bahwa dari perspektif pandang Iran, situasi di Lebanon menjadi ujian krusial terhadap kredibilitas Trump. Ia mengatakan, "Jika Trump tidak bisa membikin Netanyahu mundur di Lebanon, itu berfaedah AS tidak bisa mengendalikan Israel, dan itu tidak memberi kepercayaan bagi Iran."
Ia menambahkan, "Dalam skenario terburuk, itu berfaedah mereka sebenarnya bisa mengendalikan, dan mungkin ada rencana lain nan sedang disiapkan."
Dengan ketegangan nan terus meningkat dan kepentingan dunia nan besar, nasib pembicaraan di Islamabad sekarang menjadi penentu apakah bumi bakal bergerak menuju stabilitas alias kembali terjerumus ke dalam bentrok nan lebih luas.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·