Ilustrasi(Dok Antara)
SERANGAN penyakit Inspeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan Pneumonia di Provinsi Kalimantan Selatan melonjak tajam di tengah semakin menurunnya kualitas udara akibat kabut asap. Kabut asap muncul sebagai akibat dari maraknya kebakaran rimba dan lahan (karhutla).
Data Dinas Kesehatan Provinsi Kalsel, hingga Juli 2026 tercatat sebanyak 7.995 penduduk terserang penyakit ISPA dan Pneumonia. Jumlah ini meningkat tajam dua kali lipat dibanding periode sama tahun sebelumnya. Daerah terbanyak muncul penyakit ini adalah Kota Banjarmasin, Kota Banjarbaru dan Kabupaten Banjar.
"Kabut asap akibat karhutla telah berakibat pada menurunnya kualitas udara dan meningkatnya jumlah penduduk terserang penyakit ISPA dan pneumonia," ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kalsel, Diauddin, Selasa (28/7).
Guna mengantisipasi meningkatnya serangan ISPA dan pneumonia ini, Dinas Kesehatan provinsi dan kabupaten/kota di Kalsel mulai memperkuat stok dan membagikan masker kepada masyarakat.
"Kita mengimbau penduduk untuk menggunakan masker dan tidak melakukan aktivitas di luar lapangan jika tidak penting. Kita juga memperkuat stok masker, obat-obatan dan posko di lapangan," ujarnya.
Meski karhutla terus terjadi, dalam dua hari terakhir hujan dengan intensitas sedang turun di beberapa wilayah seperti Kota Banjarmasin dan Kota Banjarbaru. Turunnya hujan cukup membantu upaya pemadaman karhutla di Kalsel.
"Hujan nan turun adalah hujan alami bukan OMC. Ini cukup membantu kita dalam operasi pemadaman baik lewat darat maupun udara (water bombing)," tutur Kepala BPBD Kalsel, Ronny Eka Saputra.
Pusdalops BPBD Kalsel mencatat pada Senin (27/7) karhutla melanda delapan wilayah dengan luas rimba dan lahan terbakar diperkirakan mencapai 20 hektare.
Selain Satgas darat, tiga helikopter water bombing ialah RA-22834, Super Puma AS332 C1/PK-DAN serta N711BF kudu berjibaku memadamkan karhutla di Kalsel. (DY/E-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·