Ilustrasi.(DOK. 123RF)
GEMPA bumi berkekuatan magnitudo 7,8 nan mengguncang selatan Mindanao, Filipina, Senin (8/6) menjadi peringatan serius bagi Indonesia bakal besarnya potensi ancaman gempa dan tsunami dari sistem subduksi aktif di area timur Indonesia. Pasalnya area ini kurang mendapat perhatian daripada area megathrust Sumatra dan Jawa.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengatakan gempa Mindanao bukanlah peristiwa tunggal, melainkan bagian dari proses pelepasan daya tektonik nan telah lama tersimpan di bawah laut.
"Gempa M7,8 nan mengguncang selatan Filipina dan sebagian wilayah Sulawesi Utara semestinya tidak dibaca sebagai peristiwa tunggal. Ia adalah sirine keras, bukan hanya bagi Filipina, tetapi juga bagi Indonesia," ujarnya dalam keterangan tertulis, Selasa (9/6).
Menurut Daryono, area Filipina selatan hingga Maluku Utara dan Sulawesi Utara merupakan wilayah dengan kompleksitas tektonik tertinggi di dunia. Di area tersebut terdapat hubungan tiga sumber gempa utama, ialah Subduksi Lempeng Laut Filipina, Subduksi Cotabato, dan sistem subduksi dobel Laut Maluku (Molucca Sea Double Subduction).
Ia menjelaskan bahwa zona-zona subduksi tersebut terus mengakumulasi daya selama puluhan hingga ratusan tahun. Ketika tekanan nan tersimpan tidak lagi bisa ditahan, daya dilepaskan dalam corak gempa besar nan berpotensi memicu tsunami.
Daryono menyoroti bahwa sejumlah penelitian menunjukkan area Maluku Utara, Sulawesi Utara hingga Filipina mempunyai potensi menghasilkan gempa berkekuatan hingga magnitudo 8,2. Namun, wilayah tersebut belum memperoleh perhatian sebesar area megathrust di barat Indonesia.
"Seolah sistem subduksi di area ini menjadi area megathrust nan terlupakan di timur Indonesia," katanya.
Ia mengingatkan bahwa sejarah mencatat sejumlah gempa besar dan tsunami mematikan di area tersebut. Gempa berkekuatan 8,3 pada 1918 dan gempa 8,1 pada 1976 di wilayah Cotabato, Filipina, memicu tsunami besar nan menewaskan lebih dari 5.000 orang.
Selain itu, gempa berkekuatan 7,6 di lepas pantai timur Filipina pada 2012 dan gempa Hinatuan bermagnitudo 7,6 pada 2023 juga memicu tsunami.
Sementara di Laut Maluku dan sekitarnya, gempa besar seperti Halmahera 2019 bermagnitudo 7,2 serta gempa Minahasa 1996 bermagnitudo sekitar 7,9 menunjukkan tingginya aktivitas seismik di area tersebut.
Berdasarkan kajian letak episenter, kedalaman hiposenter, dan sistem sumber gempa, Daryono meyakini gempa Mindanao M7,8 nan terjadi pada 8 Juni 2026 berasal dari Zona Subduksi Cotabato dengan sistem sesar naik (thrust fault).
Ia menilai rangkaian aktivitas gempa tersebut menunjukkan area Filipina selatan hingga Laut Maluku merupakan salah satu sistem tektonik paling aktif di bumi dengan potensi gempa besar dan tsunami nan kudu terus diwaspadai.
Karena itu, Daryono meminta pemerintah dan masyarakat tidak bersikap reaktif terhadap bencana. Ia menekankan pentingnya peningkatan edukasi kebencanaan, penerapan tata ruang berbasis risiko, serta penguatan sistem mitigasi hingga tingkat komunitas.
"Gempa nan terjadi saat ini bukan sekadar berita. Ia adalah peringatan keras, dan mengabaikan peringatan dari bumi adalah kesalahan nan selalu dibayar mahal," tegasnya.
Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi kunci untuk mengurangi akibat korban dan kerugian andaikan gempa besar akibat area Megathrust nan bisa kembali terjadi di area timur Indonesia. (H-4)
Published By Indriyani Astuti (9/6/2026, 10.01.53)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·