Liputan6.com, Jakarta - Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) tidak hanya merusak tempat tinggal warga, tetapi juga menyebabkan arsip kependudukan seperti KTP elektronik, Kartu Keluarga (KK), dan akta kelahiran lenyap alias rusak.
Kondisi tersebut mendorong Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri turun langsung ke Pulau Flores untuk memulihkan jasa manajemen kependudukan bagi penduduk terdampak.
Dirjen Dukcapil Kemendagri Teguh Setyabudi tiba di Flores pada Senin (24/8/2026). Kunjungan kerja nan berjalan hingga Kamis (27/8/2026) itu dilakukan atas perintah Menteri Dalam Negeri untuk mempercepat pemulihan jasa adminduk sekaligus mengganti arsip penduduk nan lenyap alias rusak akibat gempa.
Usai transit di Bandar Udara Internasional Komodo, Labuan Bajo, Teguh berbareng rombongan melanjutkan penerbangan menuju Bandar Udara Soa, Bajawa, Kabupaten Ngada.
Setibanya di Bajawa, Teguh langsung menggelar pertemuan koordinasi dengan Bupati Ngada Raymundus Bena dan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Ditjen Dukcapil Muhammad Nuh Al Azhar nan telah tiba lebih awal di letak bencana.
Teguh mengatakan pemulihan arsip kependudukan menjadi bagian krusial dalam penanganan penduduk di tengah kondisi darurat. Sebab, hilangnya arsip kependudukan dapat menghalang penduduk mengakses beragam kewenangan dan jasa pemerintah.
"Bapak Menteri Dalam Negeri memerintahkan kami turun langsung ke lapangan. Gempa ini tidak hanya merusak tempat tinggal, tetapi juga memusnahkan dokumen-dokumen krusial seperti KTP elektronik, Kartu Keluarga, dan Akta Kelahiran milik warga. Kami membawa peralatan komplit untuk perekaman dan pencetakan sigap agar penduduk bisa segera mengurus dokumennya kembali tanpa pungutan biaya," ujar Teguh Setyabudi.
Bupati Ngada Raymundus Bena mengatakan arsip kependudukan nan sah menjadi salah satu kebutuhan krusial dalam proses penyaluran bantuan dan pemulihan pascabencana.
Menurut dia, sebagian arsip penduduk ikut tertimbun alias lenyap ketika rumah mereka terdampak gempa.
"Kami sangat berterima kasih atas respon sigap dari Ditjen Dukcapil. Di saat penduduk kami kehilangan tempat tinggal, arsip kependudukan sering kali ikut tertimbun alias hilang. Padahal, KTP-el dan KK itu menjadi syarat utama bagi penduduk untuk menerima support logistik, jasa kesehatan, hingga rehabilitasi rumah dari pemerintah," kata Raymundus.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·