Gelombang PHK Terbaru, "Raksasa-Raksasa" Kini Juga Kena

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri teknologi bumi kembali memanas setelah Meta dan Microsoft mengumumkan potensi pemangkasan lebih dari 20.000 tenaga kerja pada hari Kamis. Langkah drastis ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan master ekonomi bahwa krisis tenaga kerja akibat kepintaran buatan alias Artificial Intelligence (AI) bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realita pahit hari ini.

Fenomena ini menjadi ironi lantaran perusahaan-perusahaan raksasa tersebut justru tengah menggelontorkan biaya kolektif hingga ratusan miliar dolar AS untuk membangun prasarana AI. Mengutip CNBC International, langkah ini merupakan bagian dari upaya efisiensi besar-besaran di mana perusahaan mencoba menggantikan peran manusia dengan teknologi sembari melakukan penyesuaian setelah perekrutan berlebih selama masa pandemi.

Pergeseran Struktural Permanen

Para mahir memandang tren ini bukan sekadar koreksi pasar biasa, melainkan transformasi esensial dalam pengorganisasian kerja di beragam industri. Anthony Tuggle, seorang pembimbing pelaksana dan master kepemimpinan nan sebelumnya berkecimpung di bumi AI, memberikan pandangannya mengenai situasi ini.

"Ini mewakili pergeseran struktural nan mendasar daripada sekadar koreksi pasar sementara. Kita sedang menyaksikan awal dari transformasi permanen dalam gimana pekerjaan diorganisir dan dilaksanakan di seluruh industri," ujar Tuggle dalam analisisnya, dikutip Senin (27/4/2026).

Berdasarkan info dari Layoffs.fyi, lebih dari 92.000 pekerja teknologi telah terkena PHK sepanjang tahun 2026 hingga pekan ini. Angka tersebut menambah total akumulasi pekerja nan kehilangan pekerjaan menjadi nyaris 900.000 orang sejak tahun 2020. Kecemasan bakal keamanan kerja terus meningkat sejak kemunculan ChatGPT dan perangkat AI lainnya nan bisa mengerjakan tugas seluruh bagian upaya secara efisien.

Meta secara spesifik memberikan sinyal efisiensi dalam memo internal nan dikirimkan kepada para karyawannya. Perusahaan besutan Mark Zuckerberg tersebut berencana memangkas 10% tenaga kerjanya alias setara dengan 8.000 posisi nan bakal dimulai pada 20 Mei mendatang. Selain itu, Meta juga membatalkan rencana pengisian 6.000 posisi nan tetap kosong.

"Ini semua adalah bagian dari upaya berkepanjangan kami untuk menjalankan perusahaan dengan lebih efisien dan memungkinkan kami mengimbangi investasi lain nan sedang kami lakukan," tulis Meta dalam memo tersebut.

Di saat nan nyaris bersamaan, Microsoft mengonfirmasi langkah nan belum pernah terjadi sebelumnya dalam 51 tahun sejarah perusahaan dengan menawarkan program pengunduran diri sukarela (voluntary buyout). Sebanyak 7% tenaga kerja di Amerika Serikat alias sekitar 8.750 orang memenuhi syarat untuk program ini guna menekan biaya operasional.

Rajat Bhageria, CEO startup AI bentuk Chef Robotics, menyatakan bahwa meskipun AI kemungkinan bakal menciptakan lapangan kerja baru di masa depan, corak pekerjaan tersebut tetap menjadi tanda tanya besar.

"Kita baru mulai memahami seberapa banyak pekerjaan harian kita nan dapat ditangani oleh AI di beragam jenis pekerjaan nan berbeda," ungkap Bhageria.

Efisiensi Finansial dan Dana AI nan Fantastis

Langkah pengurangan tenaga kerja ini diprediksi bakal memberikan akibat signifikan pada arus kas perusahaan. Analis dari TD Cowen dalam catatannya menyebut bahwa eliminasi 20.000 hingga 30.000 pekerjaan dapat menghasilkan tambahan arus kas bebas (free cash flow) senilai US$ 8 miliar hingga US$ 10 miliar (sekitar Rp 138 triliun hingga Rp 172,5 triliun) bagi perusahaan seperti Oracle.

Meskipun memangkas ribuan orang, pengeluaran perusahaan teknologi tetap tidak terbendung. Alphabet, Microsoft, Meta, dan Amazon diperkirakan bakal mengeluarkan biaya campuran nyaris US$ 700 miliar (sekitar Rp 12.077 triliun) tahun ini hanya untuk membangun prasarana AI.

Di sisi lain, Chief Economist Glassdoor, Daniel Zhao, mencatat bahwa saat ini semakin sedikit orang nan berani mengundurkan diri secara sukarela lantaran takut bakal pasar kerja nan tidak stabil. Dinamika ini justru membikin perusahaan mengambil langkah nan lebih agresif.

"Karena pengunduran diri alami tidak banyak terjadi, perusahaan menjadi lebih garang dalam mendorong orang keluar dari pintu. Entah itu berfaedah PHK definitif alias meningkatkan standar tinjauan kinerja, ada beragam tindakan nan diambil pemberi kerja untuk memotong biaya tenaga kerja," jelas Zhao.

Efisiensi berbasis AI ini juga dirasakan oleh Snap Inc. nan memangkas 16% stafnya alias sekitar 1.000 orang. CEO Snap, Evan Spiegel, secara terang-terangan menyebut bahwa efisiensi nan didorong oleh AI menjadi argumen utama dalam suratnya kepada staf. Hal senada diungkapkan CEO Salesforce, Marc Benioff, nan memangkas 4.000 peran support pengguna lantaran dia merasa memerlukan lebih sedikit staf dalam operasional perusahaannya.

(tps/tps)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News