Jakarta, CNBC Indonesia - PT Timah Tbk (TINS) menyiapkan lahan seluas 40 hektare di area Tanjung Ular, Bangka Barat untuk mengembangkan industri hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ).
Wakil Direktur Utama TINS Harry Budi Sidharta menjelaskan bahwa perusahaan tengah merencanakan reaktivasi proyek percontohan nan sudah ada di letak tersebut.
Dia mengatakan, lahan tersebut bakal dimanfaatkan secara berjenjang seiring dengan perkembangan riset dan teknologi pemurnian mineral nan sedang dikaji.
"Tanjung Ular itu sebenarnya banyak luas ya 40-an hektar betul bener, tapi mungkin nggak sebanyak itu ya berjenjang bertahap, sebenarnya kita juga sudah ada pilot project ya di Tanjung Ular itu kelak mungkin kita reaktivasi lagi," katanya dalam sebuah obrolan dengan media di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Nantinya, perusahaan berencana untuk kerja sama dengan PT Perminas sebagai BUMN nan menavigasi pengolahan LTJ nasional. TINS berkedudukan dalam proses penambangan dan penyediaan bahan baku, sementara pembangunan akomodasi pemurnian bakal dieksekusi oleh pihak lain di lahan nan telah disediakan.
"Silakan kelak dari tim Perminas dan penyedia teknologi membangun akomodasi pemurniannya kelak bangunnya juga di sebelah akomodasi kita di Bangka kelak kita bakal istilahnya kita bakal pembayaran ya pembayaran pemurniannya sesuai dengan volume saja," imbuhnya.
Nantinya, perusahaan tidak perlu mengalokasikan biaya modal (capex) untuk pembangunan pabrik pemurnian tersebut. Perusahaan hanya bakal bayar jasa pengolahan kepada Perminas berasas volume mineral nan dimurnikan sebelum akhirnya produk logam tanah jarang tersebut siap dipasarkan secara komersial.
"Jadi penambangan sampai itu jadi logam tanah jarang itu ada di ada di timah seperti itu. Kita sudah ketemu ya dengan calon teknologinya dan kita sudah lihat persentase dia dan sepertinya sih menjanjikan," tandasnya.
Sebelumnya, Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro menjelaskan bahwa kerjasama TINS dan Perminas mencakup dua skema utama dalam pembagian peran rantai pasok mineral. Pihaknya pun bakal bertindak sebagai pemasok bahan baku nan berasal dari sisa hasil produksi (SHP) timah untuk kemudian diolah oleh Perminas menjadi produk lanjutan.
"PT Timah mendapat tugas untuk sebagai supplier untuk bahan-bahan REE alias SHP-nya. Sisa hasil produksi dari timah itu menjadi bahan utama untuk Perminas nan kelak selanjutnya Perminas bakal memproses menjadi produk-produk ikutannya," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (16/4/2026).
Rencana pengembangan tersebut diproyeksikan bisa memberikan kontribusi devisa bagi negara dalam kurun waktu dua tahun mendatang. Pemerintah sebelumnya dijadwalkan meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) akomodasi riset dan industri REE pada 20 Mei 2026 mendatang.
"Kerja sama ini diprogramkan untuk mencapai 2 tahun sudah diharapkan terjadi monetisasi. Jadi sudah bisa menghasilkan produk nan bisa mendapatkan devisa untuk negara," lanjutnya.
Restu menilai penugasan untuk mengelola LTJ menjadi lompatan besar bagi perusahaan guna mendongkrak pendapatan di luar upaya inti timah. Saat ini, pihaknya sudah mulai melakukan pengumpulan bahan baku sisa produksi untuk disiapkan sebagai suplai utama bagi Perminas.
"Kami mendapat lompatan nan cukup baik lantaran dengan adanya program ini, ini kami programkan untuk bisa mendapatkan revenue ataupun keuntungan nan jauh lebih besar dari sebelumnya. Ini nan kami harapkan," tandasnya.
(wia)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·