Ribuan siswa mengikuti Meeting on Maximizing Motivation (M3) perdana tahun aliran 2026/2027 nan digelar Ganesha Operation di Sabuga, Institut Teknologi Bandung(ISTIMEWA)
PERSAINGAN pendidikan di Indonesia semakin ketat dan tidak hanya dirasakan siswa nan bersiap masuk perguruan tinggi.
Lebih dari 5,4 juta siswa kelas 12 SMA/SMK/MA kudu menghadapi ketatnya seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN). Pada 2026, nyaris 91% peserta seleksi SNBP dan SNBT tidak lolos, dan hanya sekitar 9% nan diterima.
Tekanan serupa mulai dirasakan siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP nan bersiap memasuki jenjang pendidikan berikutnya. Mereka tidak hanya dituntut mempertahankan prestasi akademik, tetapi juga kudu beradaptasi dengan perubahan lingkungan belajar dan menghadapi persaingan untuk mendapatkan bangku di sekolah nan diincar.
Kondisi ini jadi gambaran bahwa persaingan pendidikan nasional memerlukan kesiapan lebih menyeluruh. Kemauan belajar saja tidak cukup tanpa strategi, konsistensi, kesiapan mental, serta support orangtua.
Merespons tantangan itu, Ganesha Operation (GO) kembali menggelar Meeting on Maximizing Motivation (M3) perdana tahun aliran 2026/2027 di Sabuga, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Jawa Barat.
Kegiatan nan diikuti lebih dari 3.800 peserta tersebut digelar dalam dua sesi dengan tema berbeda. Siswa kelas 12 SMA/SMK/MA dan peserta gap year mengikuti sesi Set Your Future, sedangkan siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP mengikuti sesi Grab Your Vision.
Pembagian tema tersebut disesuaikan dengan kebutuhan golongan siswa masing-masing. Siswa kelas 12 dan gap year diarahkan untuk mempersiapkan diri menghadapi persaingan masuk PTN, sedangkan siswa kelas 6 dan kelas 9 didorong agar lebih siap menghadapi masa transisi menuju jenjang pendidikan berikutnya.
PENTINGNYA KONSISTENSI
Direktur Utama Ganesha Operation Prof Bob Foster nan jadi pembicara utama dalam kedua sesi, menekankan pentingnya konsistensi dalam menghadapi kejuaraan pendidikan.
"Angka 9% itu bukan untuk menakuti, tapi untuk menyadarkan bahwa upaya kalian kudu lebih besar dari rata-rata. nan membedakan siswa nan lolos dan tidak adalah konsistensi," tegasnya.
Menurut dia, siswa nan mau menembus PTN perlu memahami pola belajar masing-masing, mengelola waktu secara disiplin, serta menyesuaikan strategi dengan perubahan sistem seleksi masuk perguruan tinggi nan berjalan setiap tahun.
Adapun bagi siswa kelas 6 SD dan kelas 9 SMP, tantangan utama tidak semata-mata berangkaian dengan keahlian akademik. Perubahan kebiasaan belajar, tekanan tugas dan ujian, menurunnya fokus, dan rasa resah menghadapi seleksi sekolah jadi persoalan nan perlu dihadapi sejak dini.
Dalam sesi Grab Your Vision, Prof Bob mengingatkan siswa untuk mulai mengatasi halangan nan berasal dari dalam diri, seperti rasa malas, takut gagal, dan sikap sigap merasa cukup.
"Perubahan itu dimulai dari perihal kecil, seperti berani menyelesaikan satu tugas nan selama ini ditunda. Kalau itu sudah bisa, hal-hal besar bakal lebih mudah dihadapi," katanya.
PERAN ORANGTUA
Persaingan pendidikan nan semakin tinggi juga menempatkan orangtua pada posisi penting. Dukungan moral, pendampingan, dan komunikasi dari family menjadi bagian nan dibutuhkan siswa, terutama ketika mereka menghadapi tekanan akademik maupun masa transisi menuju jenjang baru.
Pesan tersebut diperkuat melalui sesi pembacaan janji dalam M3. Dalam sesi ini, siswa menyampaikan komitmen untuk lebih giat belajar, menetapkan sasaran pengerjaan soal harian, sekaligus meminta angan dan restu kepada orangtua.
Bagi peserta, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya persoalan keahlian akademik, tetapi juga komitmen dan support keluarga.
Hafidzah Farah Hidayat, siswi kelas 12 SMAN 1 Bandung dari unit GO Purnawarman 36, mengaku mendapatkan semangat baru setelah mengikuti M3.
"Set Your Future jenis saya itu ngerjain tugas tiap hari dan berlatih minimal 50 soal per hari. Target saya masuk Fakultas Kedokteran Unpad, dan M3 ini nambah motivasi buat aku," ujarnya.
Sementara itu, Cecillia Rachel Suryandari, siswi kelas 9 SMPN 7 Bandung dari unit GO Purnawarman 31, menargetkan dapat melanjutkan pendidikan ke SMAN 3 Bandung.
"Target saya masuk SMAN 3 Bandung dengan nilai TKA 100 lewat GO Expert. Setelah ikut M3 ini, saya jadi mau mengurangi rasa malas dan lebih semangat lagi," katanya.
Dari sisi orangtua, Edi Hidayat, ayah Hafidzah, menilai pendampingan pada anak tak berfaedah orangtua kudu mengambil alih perjuangan mereka.
"Kita sebagai orangtua hanya bisa mendukung dan mengarahkan. Salah satu pesan Prof Bob nan saya ingat, bukan soal pintar, tapi soal ikhtiar, nan krusial usahanya sudah maksimal," ujarnya.
Selain motivasi, GO memperkenalkan pemanfaatan fitur pada aplikasi GO Expert nan dapat digunakan orang tua untuk memantau perkembangan belajar anak.
Pemantauan itu mencakup pengerjaan soal harian hingga laporan hasil try out berbasis komputer (TOBK), sehingga orangtua mempunyai gambaran berbasis info mengenai perkembangan belajar anak.
M3 menjadi bagian dari pendampingan nan dilakukan GO di beragam kota di Indonesia. Program itu tidak hanya menekankan pencapaian akademik, tetapi juga kesiapan mental siswa dan keterlibatan orangtua dalam menghadapi perubahan serta persaingan pendidikan
English (US) ·
Indonesian (ID) ·