Gaikindo: Teknologi REEV Cocok Buat Pasar Indonesia

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi Baterai Chery Foto: ur_daily_fotografi/Shutterstock

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D Sugiarto, menilai perkembangan teknologi elektrifikasi dunia kian beragam dan tak lagi didominasi battery electric vehicle (BEV).

Ia memandang tren seperti plug-in hybrid hingga range extender electric vehicle (REEV) mulai menguat, termasuk nan ditampilkan di Beijing Auto Show 2026.

Menurutnya, beragam teknologi tersebut mempunyai kesempatan besar untuk masuk ke pasar Indonesia. Hal ini sejalan dengan tren dunia nan menunjukkan mengambil elektrifikasi melangkah dalam beragam pendekatan, tidak hanya bertumpu pada satu teknologi saja.

“Ya, pasti masuk ke Indonesia lah. Enggak mungkin enggak. Dari luar negeri sudah berseliweran, akhirnya masuk juga,” ujar Jongkie saat ditemui di aktivitas Omoda & Jaecoo di Beijing, Sabtu (25/4/2026).

Omoda O4 di Beijing Auto Show 2026. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Ia menjelaskan, teknologi seperti hybrid, plug-in hybrid (PHEV), hingga REEV menawarkan sejumlah kelebihan nan dinilai relevan dengan kondisi pasar domestik. Oleh lantaran itu, dia mengingatkan agar teknologi-teknologi tersebut tidak diabaikan dalam pengembangan industri otomotif nasional.

“Dari dulu saya bilang, jangan diabaikan nan namanya hybrid, plug-in hybrid, dan lain-lain. Mereka sudah membuktikan bahwa ini teknologi nan baik dan bisa diterapkan di Indonesia,” katanya.

Lebih lanjut, Jongkie memaparkan sejumlah kelebihan REEV dan PHEV, mulai dari emisi nan lebih rendah hingga efisiensi bahan bakar. Hal ini dimungkinkan lantaran mesin pembakaran internal (ICE) tidak selalu bekerja penuh, sehingga konsumsi daya bisa ditekan.

“Polusi rendah lantaran mesin ICE-nya jarang jalan. Lalu irit BBM, lantaran mesin kadang aktif, kadang tidak,” ujarnya.

Selain itu, kendaraan dengan teknologi ini dinilai tidak terlalu berjuntai pada prasarana pengisian daya. Dengan kapabilitas baterai nan relatif lebih mini dibandingkan dengan BEV, pengguna tidak sepenuhnya memerlukan charging station untuk operasional harian.

“Tidak perlu charging station, harganya juga lebih terjangkau lantaran baterainya kecil. Kita tahu baterai itu bisa 30-40 persen dari nilai mobil,” katanya.

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan  Bermotor Indonesia (Gaikindo), Jongkie D Sugiarto. Foto: Fitra Andrianto/kumparan

Keunggulan lainnya, teknologi ini tetap menggunakan banyak komponen otomotif konvensional. Artinya, industri pendukung seperti manufaktur komponen tetap bisa melangkah dan tidak terdampak signifikan oleh peralihan teknologi.

“Komponen seperti radiator, filter, knalpot tetap dipakai. Jadi industri komponen tetap jalan,” ujarnya.

Ia pun mendorong agar pemerintah turut memberikan support terhadap pengembangan teknologi selain BEV. Menurutnya, pendekatan multi-teknologi bakal membantu menjaga keseimbangan industri sekaligus memperluas pilihan bagi konsumen.

Filter udara washable. Foto: Muhammad Ikbal / kumparan

“Maka dari itu kudu disupport juga, jangan semata-mata BEV saja,” katanya.

Di sisi lain, Jongkie menilai kebijakan nan membikin nilai kendaraan lebih terjangkau bakal berakibat positif pada pasar. Peningkatan penjualan dinilai bakal berbanding lurus dengan aktivitas produksi di dalam negeri.

“Kalau penjualan meningkat, produksi jalan. Itu nan kita harapkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, kondisi sebaliknya perlu dihindari lantaran penurunan penjualan berpotensi berakibat pada industri secara keseluruhan, termasuk tenaga kerja. Oleh lantaran itu, diperlukan kebijakan nan seimbang antara kepentingan industri dan penerimaan negara.

“Kalau penjualan turun, produksi ikut turun. Itu nan bisa berujung ke perihal nan tidak kita inginkan,” tutupnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan