Jakarta -
PT Freeport Indonesia (PTFI) memproyeksikan produksi emas naik pada 2027 seiring pemulihan aktivitas pertambangan Grasberg Block Cave (GBC). Produksi emas diperkirakan meningkat dari sekitar 21 ton pada 2026 menjadi 31 ton pada 2027.
Direktur Utama PTFI Tony Wenas mengatakan 2026 ini Freeport memproduksi 800 juta pound tembaga dan 700 ribu ounces emas nan setara 21 ton. Sementara tahun 2027 produksinya bakal naik menjadi 1,3 miliar pound tembaga dan 1 juta ounces emas nan setara 31 ton.
"Kalau di diagram nan bawahnya, itu kita bisa memandang produksi emas nan bakal meningkat tajam di tahun 2027. Ini sejalan dengan Grasberg Block Caving Production Block 1 nan sudah bakal mulai beraksi di tahun 2027," kata Tony dalam rapat dengan Komisi XII DPR, di Gedungn DPR Jakarta, Selasa (15/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2028 dan tahun-tahun berikutnya, produksi emas Freeport diproyeksikan mencapai 1,3 juta ounces alias sekitar 39-40 ton. Sementara produksi tembaga diperkirakan mencapai 1,6 miliar pound.
Peningkatan tersebut menjadi bagian dari proses pemulihan produksi Freeport setelah kejadian longsoran material basah pada September 2025. Insiden tersebut membikin tingkat produksi tambang perusahaan pada 2026 tetap berada di bawah kapabilitas normal.
"Di tahun 2028 dan seterusnya, itu tembaga bakal bisa mencapai 1,6 miliar pound dan juga untuk emasnya bisa 1,3 juta ounces alias sekitar 39 sampai 40 ton dan begitu pun seterusnya. Kenaikan tingkat produksi ini sejalan dengan pemulihan GBC nan terkena longsor di tahun nan lalu," jelas Tony.
Tahun ini PTFI memproyeksikan penambangan sekitar 124 ribu ton bijih per hari. Angka tersebut baru sekitar 65% dari kapabilitas normal perusahaan nan berada di kisaran 200 ribu ton bijih per hari.
Pada 2027, volume penambangan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 170 ribu ton bijih per hari. Produksi kemudian diproyeksikan mendekati kapabilitas penuh pada 2028 dengan mencapai sekitar 208 ribu ton bijih per hari.
Pemulihan produksi juga berakibat terhadap operasional smelter Manyar Freeport di Gresik. Smelter tersebut sempat berakhir beraksi setelah longsor lantaran pasokan konsentrat nan tersedia hanya mencukupi kebutuhan PT Smelting.
"Baru di bulan Agustus nan lalu, feeding-nya ke smelter baru Freeport Indonesia itu mulai, dan mulai bisa diproduksi di bulan September ini dengan sekitar 5 ribu ton katoda tembaga. Dan jika kita lihat di bulan Oktober, nan 35 ribu ton itu adalah produksi katodat tembaga dari smelter nan baru," jelas Tony.
(ily/hns)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·