Jakarta -
PT Pertamina (Persero) memperkuat strategi ketahanan daya nasional melalui pengelolaan portofolio LNG nan semakin elastis dan terintegrasi, dengan mengombinasikan sumber pasokan domestik dan dunia serta didukung prasarana LNG dan gas di beragam wilayah Indonesia.
Strategi tersebut menjadi salah satu konsentrasi nan dibawa Pertamina dalam Gastech 2026 di Bangkok, Thailand. Kehadiran Pertamina dalam forum daya dunia ini menjadi bagian dari upaya memperluas konektivitas dengan pelaku industri daya dunia, sekaligus memperkuat kesempatan pengembangan portofolio dan upaya LNG di tengah perubahan lanskap daya global.
Volatilitas pasar, dinamika geopolitik, serta pertumbuhan kebutuhan daya membikin ketahanan daya tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya volume pasokan, tetapi juga keahlian untuk memperoleh sumber daya nan tepat, pada waktu dan letak nan tepat, dengan biaya nan kompetitif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron mengatakan, diversifikasi sumber dan elastisitas portofolio menjadi bagian krusial dalam menjaga ketahanan daya di tengah dinamika pasar global.
"Bagi Pertamina, ketahanan daya bukan hanya mengenai seberapa besar pasokan nan tersedia, tetapi juga keahlian untuk mendapatkan daya dari sumber nan tepat, pada waktu nan tepat, dengan biaya nan kompetitif. Karena itu, diversifikasi sumber dan elastisitas portofolio LNG menjadi krusial untuk memperkuat ketahanan daya Indonesia," ujar Baron dalam keterangan tertulis, Selasa (15/9/2026).
Untuk meningkatkan elastisitas tersebut, Pertamina mengembangkan portofolio LNG dari beragam sumber. Selain mengoptimalkan pasokan domestik, Pertamina mempunyai portofolio internasional, antara lain dari Australia dan Amerika Serikat. Diversifikasi ini memberikan ruang bagi Pertamina untuk menyesuaikan sumber pasokan dan pola pengiriman sesuai kebutuhan, kondisi pasar, serta pertimbangan keekonomian.
Fleksibilitas pasokan tersebut diperkuat dengan prasarana LNG dan gas Pertamina Group, antara lain Perta Arun Gas, Nusantara Regas, akomodasi penerimaan LNG Jawa-1, serta jaringan pipa gas PGN nan tersebar di beragam wilayah Indonesia.
Integrasi antara sumber pasokan, prasarana penerimaan dan penyimpanan, regasifikasi, jaringan pipa, serta pengedaran menjadi fondasi untuk membangun rantai pasok LNG nan lebih adaptif. Dengan ekosistem tersebut, LNG dapat dikelola sesuai kebutuhan, mulai dari penerimaan dan penyimpanan hingga regasifikasi dan pengedaran ke beragam wilayah.
"Pertamina mempunyai portofolio LNG dan prasarana gas nan saling melengkapi. Integrasi dari sumber pasokan, akomodasi penerimaan dan penyimpanan, regasifikasi hingga jaringan pengedaran memberikan elastisitas bagi Pertamina untuk menyesuaikan pasokan dengan kebutuhan daya di beragam wilayah," jelas Baron.
Salah satu prasarana nan mempunyai posisi strategis adalah Perta Arun Gas di Aceh. Berada di Selat Malaka nan menjadi salah satu jalur perdagangan daya utama dunia, Arun mempunyai kesempatan untuk berkembang sebagai hub LNG regional nan menghubungkan pasokan internasional dengan kebutuhan Indonesia maupun pasar di Asia Tenggara.
Posisi tersebut memberikan beragam opsi pengelolaan LNG, mulai dari menerima dan menyimpan LNG hingga reload, transhipment, regasifikasi dan distribusi. Fleksibilitas ini memungkinkan pengelolaan LNG disesuaikan dengan kebutuhan pasar dan pertimbangan keekonomian.
Penguatan portofolio dan prasarana menjadi semakin relevan seiring perubahan lanskap LNG Indonesia. Di tengah pertumbuhan kebutuhan daya dan industri, Indonesia nan selama ini dikenal sebagai salah satu produsen dan eksportir LNG juga menghadapi potensi peningkatan kebutuhan LNG domestik pada masa mendatang.
Perubahan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Dengan menghubungkan pasokan global, produksi LNG domestik, prasarana nasional dan kebutuhan regional, Pertamina dapat mengoptimalkan portofolio LNG sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok LNG.
Menurut Baron, strategi LNG Pertamina ke depan tidak hanya berorientasi pada pemenuhan volume, tetapi juga pada keahlian mengelola dan mengoptimalkan pasokan secara elastis untuk memberikan nilai nan lebih besar.
"Ke depan, nan menjadi pembeda bukan hanya keahlian memperoleh LNG, tetapi keahlian mengelola, mengoptimalkan dan menyalurkannya ke tempat nan memberikan faedah terbesar. Pertamina mau menghubungkan pasokan LNG dunia dengan ketahanan daya Indonesia sekaligus menangkap kesempatan pertumbuhan," tutup Baron.
(akd/ega)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·