Jakarta -
PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengungkap besarnya beban pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara nan kudu ditanggung perusahaan. DMO merupakan tanggungjawab perusahaan mengalokasikan sebagian produksinya guna memenuhi kebutuhan dalam negeri.
PTBA mencatat potensi untung nan lenyap akibat pemenuhan DMO di atas tanggungjawab mencapai sekitar Rp 14,5 triliun sepanjang 2018-2025. Menurut Direktur Utama PTBA Bambang Ismawan, realisasi DMO PTBA selalu berada di atas ketentuan pemerintah.
"Sebagai gambaran dari tahun 2021 sampai 2025 selalu dua kali lipat lebih dari 25% nan diharuskan. Kita pernah mencoba berapa penurunan keuntungan lantaran kita melampaui 25% DMO itu dari tahun 2018 sampai 2025 sekitar Rp 14,5 triliun, itu nan penurunan keuntungan lantaran kita memenuhi melampaui DMO nan seharusnya," kata Bambang dalam rapat dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Jakarta, Selasa (15/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada 2025, Bambang menyebut porsi DMO PTBA apalagi mencapai lebih dari 54%. Besarnya porsi tersebut membikin perusahaan kudu mengalokasikan lebih dari separuh penjualan batu baranya untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
Bambang mengatakan persoalan DMO menjadi perhatian PTBA setiap tahunnya. Sebab, menurutnya, tetap terdapat perusahaan batu bara lain nan condong kurang mematuhi tanggungjawab DMO sehingga PTBA menjadi tumpuan pemenuhan kebutuhan dalam negeri.
"Hari ini nan menjadi rumor adalah masalah DMO. DMO ini selalu setiap tahun menjadi persoalan lantaran dari sisi kami melihatnya perusahaan-perusahaan batubara lain dari perusahaan itu condong kurang mematuhi DMO. Sehingga selalu nan menjadi tumpuan adalah PT Bukit Asam," ujarnya.
Karena itu, PTBA meminta agar pemenuhan kebutuhan batu bara dalam negeri dibebankan secara lebih merata kepada perusahaan-perusahaan batu bara. Bambang berambisi tanggung jawab dipikul bersama-sama oleh perusahaan batu bara.
Sementara itu, sepanjang semester I 2026, porsi penjualan batu bara PTBA ke pasar domestik mencapai 51%. Batu bara tersebut diserap sejumlah sektor, antara lain PLN, industri pupuk dan semen, sementara 49% sisanya diekspor ke sejumlah negara seperti Vietnam, Bangladesh, Kamboja dan India.
Dari sisi kinerja, produksi PTBA pada semester I 2026 mengalami penurunan akibat tingginya intensitas hujan sepanjang Januari hingga Maret. Kondisi cuaca turut mengganggu aktivitas pikulan dan penjualan batu bara perusahaan.
Meski demikian, untung bersih PTBA pada semester I 2026 tercatat meningkat sekitar 218% dibandingkan periode nan sama tahun sebelumnya. Laba bersih naik dari Rp 830 miliar menjadi Rp 2,65 triliun.
"Tetapi secara keseluruhan untung bersih mengalami kenaikan nan cukup signifikan ialah sekitar 218% dari tahun lampau Rp 0,83 triliun, untuk semester I tahun ini sudah mencapai Rp 2,65 triliun," tutup Bambang.
(ily/hns)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·