Jakarta -
Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendali Lingkungan Hidup Moh Jumhur Hidayat, Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas, Gubernur NTB Lalu Muhammad Iqbal, dan masyarakat melakukan penanaman mangrove di Desa Labuan Alas, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Kegiatan ini mendukung Program Mangrove Nasional sekaligus menandai rampungnya program PTFI dalam penanaman 1,5 juta bibit mangrove di area seluas 484 hektar di NTB.
Jumhur Hidayat mengatakan rehabilitasi mangrove merupakan tanggung jawab berbareng dan menyambut baik komitmen PT Freeport Indonesia dalam mendukung program penanaman mangrove nasional. Penanaman nan dilakukan ini sejalan dengan program Kementerian Lingkungan Hidup dalam mendorong penanaman 2 miliar pohon sebagai respons terhadap krisis lingkungan global.
"PTFI telah merehabilitasi nyaris 500 hektare mangrove di Nusa Tenggara Barat dan menargetkan rehabilitasi 12.000 hektar di seluruh Indonesia, terutama di Papua. Mangrove mempunyai peran krusial dalam melindungi ekosistem pesisir, menyerap karbon, dan mendukung mata pencaharian masyarakat. Karena itu, kerjasama antara pemerintah, bumi usaha, dan masyarakat perlu terus diperkuat untuk mempercepat pemulihan lingkungan," kata Jumhur dalam keterangan tertulis, Rabu (8/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, Tony Wenas menjelaskan total luasan area penanaman mangrove di NTB adalah 484 Ha (73 persen dari total nan dilakukan PTFI di luar area kerja PTFI di Papua). Adapun rincian ialah 445 hektare di Kabupaten Sumbawa dan 39 hektare di Kabupaten Lombok Timur. Penanaman dilakukan pada tahun 2025 dan tahun 2026 dengan total 1,5 juta bibit mangrove.
Adapun program penanaman mangrove di Nusa Tenggara Barat (NTB) merupakan tindak lanjut dari Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), dan PTFI nan ditandatangani pada tahun 2023. Program ini adalah upaya PTFI mendukung restorasi mangrove nasional di luar wilayah operasional perusahaan (Papua) dengan sasaran 2.000 hektare. Penentuan letak penanaman mangrove dilakukan berasas usulan Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) nan kemudian diverifikasi oleh Universitas Gadjah Mada (UGM).
Saat ini, letak nan telah terverifikasi untuk penyelenggaraan program rehabilitasi mangrove PTFI mencapai 834 hektare. Pencapaian penanaman di luar Papua seluas 666 hektare dengan jumlah penanaman dua juta bibit mangrove. Lokasinya tersebar pada delapan provinsi ialah NTB, Bali, Kaltim, Kalsel, Bangka Belitung, Riau Sumbar, Sumut. Ribuan masyarakat terlibat aktif dalam program penanaman mangrove ini.
"Kemudian untuk Papua khususnya di Kabupaten Mimika, PTFI telah menanam sekitar 5,5 juta bibit mangrove di area seluas lebih dari 2.184 hektare di Papua," ujar Tony.
Tony menambahkan penanaman 1,5 juta bibit mangrove di NTB melibatkan sekitar 1.500 masyarakat lokal dalam beragam tahapan kegiatan, mulai dari pembibitan, penanaman, hingga pemeliharaan. Selain mendukung keberhasilan rehabilitasi area pesisir, keterlibatan tersebut menjadi sarana untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap pelestarian mangrove serta pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan.
Kegiatan penanaman mangrove di Labuhan Alas menjadi simbol keberlanjutan kerjasama antara pemerintah, bumi usaha, akademisi, dan masyarakat dalam menjaga ekosistem mangrove sebagai pelindung alami pesisir, kediaman keanekaragaman hayati, sekaligus penyerap karbon nan berkedudukan krusial dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
"PTFI berambisi kerjasama ini dapat terus memperkuat upaya rehabilitasi ekosistem pesisir serta menciptakan faedah lingkungan, sosial, dan ekonomi nan berkepanjangan bagi generasi mendatang," tutur Tony.
Sementara itu, seorang personil Komunitas Mangrove Sumbawa, Muhammad Tisnaini mengapresiasi program penanaman mangrove nan memberikan faedah nyata bagi masyarakat pesisir. Dia berambisi semakin banyak masyarakat, khususnya di wilayah pesisir, ikut menjaga dan merawat mangrove agar manfaatnya terus dirasakan oleh generasi mendatang.
"Kami telah membina lima golongan masyarakat nan sekarang bisa memproduksi bibit hingga melakukan penanaman secara mandiri. Keberadaan mangrove juga membantu nelayan lantaran menjadi kediaman beragam jenis ikan, sehingga mereka tidak perlu melaut terlalu jauh untuk mendapatkan hasil tangkapan," tutup Tisnaini.
(ega/ega)
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·