Sejumlah petani tampak sibuk mengemas karung-karung garam hasil panen di tambak garam Desa Pengarengan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Kamis (30/7/2026).
Fenomena El Nino nan memicu cuaca lebih panas dan kering di Indonesia menyebabkan petani tanaman pangan menghadapi ancaman kandas panen akibat kekeringan berkepanjangan, sementara petani garam justru menikmati lonjakan produksi berkah musim tandus nan lebih panjang.
Di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, para petani garam memanfaatkan cuaca cerah untuk mempercepat proses penguapan air laut di tambak garam. Dengan minimnya curah hujan, kristal garam dapat terbentuk lebih sigap dan berbobot lebih baik dibandingkan musim sebelumnya.
Dilansir dari Reuters, "Bagi kami, El Nino adalah berkah dan anugerah. Ini adalah sesuatu nan kudu kita syukuri," ujar Ketua Kelompok Petani Garam Cirebon, Dadang Darmawan.
Menurutnya, hujan nan sangat minim selama lebih dari sebulan terakhir membikin proses produksi melangkah nyaris tanpa gangguan. Bahkan, para petani berambisi kondisi serupa dapat berjalan lebih lama lantaran bisa meningkatkan hasil panen secara signifikan.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Cirebon mencatat produksi garam pada Juli 2026 mencapai nyaris 600 ton, melonjak dari 25-30 ton pada periode nan sama tahun lalu, dan diperkirakan terus meningkat seiring musim tandus nan diprediksi berjalan hingga Oktober.
Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kejadian El Nino bakal terus berjalan hingga awal 2027. Lebih dari separuh wilayah musim di Indonesia telah mengalami musim tandus nan lebih panjang dari biasanya, dengan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus. Kondisi tersebut juga meningkatkan akibat kekeringan, kebakaran hutan, dan penurunan hasil pertanian.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·