FIFA Proyeksikan Gelaran Piala Dunia 2026 di AS Raup USD 13 Miliar

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berswafoto dengan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, PM Kanada Mark Carney, dan Presiden FIFA Gianni Infantino saat pengundian Piala Dunia 2026 di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (5/12/2025). Foto: Jim Watson/AFP

Piala Dunia 2026 diprediksi bukan hanya menjadi arena sepak bola terbesar, tetapi juga kejuaraan paling menguntungkan dalam sejarah olahraga.

Mengutip The Guardian, Presiden FIFA Gianni Infantino menyebut turnamen ini sebagai aktivitas terbesar nan pernah dilihat umat manusia, sebuah pernyataan nan didukung oleh nomor angka dahsyat dalam neraca finansial lembaga tersebut.

FIFA melaporkan proyeksi pendapatan sebesar USD 13 miliar alias sekitar Rp 226,36 triliun (kurs Rp 17.413 per dolar AS) untuk siklus empat tahun nan puncaknya terjadi pada musim panas tahun ini.

Sebagai perbandingan, Olimpiade Paris 2024 hanya menghasilkan sekitar USD 5,24 miliar.

Lonjakan pendapatan ini sebagian besar dipicu oleh keputusan FIFA untuk membawa turnamen ke Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Sumber Pendapatan Utama FIFA

Trofi FIFA World Cup 2026 diperlihatkan kepada media saat Trophy Tour di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (22/1/2026). Foto: Asprilla Dwi Adha/ANTARA FOTO

Pundi pundi duit FIFA berasal dari tiga pilar utama nan mengalami pertumbuhan signifikan pada siklus kali ini. Pertama dari kewenangan siar televisi, penjualan tiket, hospitality, sponsor, dan lisensi.

"Penjualan kewenangan siar dunia tetap menjadi penyumbang terbesar. Keputusan ekspansi peserta dari 32 menjadi 48 tim meningkatkan jumlah pertandingan dari 64 menjadi 104 laga," tulis The Guardian seperti nan dikutip kumparan, Rabu (6/5).

Hal ini memberikan lebih banyak konten untuk dijual kepada penyiar di pasar besar seperti Amerika Utara dan Eropa. Berikutnya sasaran penjualan tiket dan hospitality melonjak menjadi USD 3 miliar.

FIFA menerapkan skema nilai bergerak nan memicu kritik pedas. Tiket termahal untuk laga final di Stadion MetLife New York New Jersey dibanderol mencapai USD 10.990, nyaris tujuh kali lipat dari nilai final di Qatar dua tahun lalu.

Sementara itu, kemitraan komersial dengan merek dunia seperti Adidas, Aramco, dan Coca Cola diproyeksikan menyumbang USD 2,7 miliar. FIFA sekarang lebih elastis dengan menawarkan paket sponsor regional nan dapat disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan.

Sebagai organisasi nirlaba, FIFA menyatakan bakal menginvestasikan kembali setidaknya USD 11,67 miliar untuk pengembangan sepak bola global. Namun, pengedaran biaya ini tetap menjadi perdebatan.

Setiap federasi personil dari 211 negara bakal menerima pembayaran tetap sebesar USD 5 juta tiap siklus untuk biaya operasional. Selain itu, total biaya bingkisan untuk 48 tim peserta telah ditingkatkan menjadi USD 871 juta. Setiap negara peserta sekarang dijamin mendapatkan minimal USD 12,5 juta, sementara sang juara bakal membawa pulang USD 50 juta.

Beban Tuan Rumah

Di kembali untung besar FIFA, kota kota tuan rumah di Amerika Serikat justru menghadapi tantangan finansial. Berdasarkan perjanjian kontrak, FIFA mengambil seluruh pendapatan dari tiket, sponsor, apalagi biaya parkir. Sebaliknya, kota tuan rumah wajib menanggung biaya keamanan dan transportasi.

Gubernur New Jersey Mikie Sherrill mengkritik FIFA lantaran tidak berkontribusi pada biaya transportasi publik. Akibatnya, jasa transit New Jersey kudu membebankan biaya USD 150 untuk perjalanan pulang pergi dari Manhattan ke stadion guna menutupi tagihan sebesar USD 48 juta agar tidak membebani pembayar pajak kota.

Laporan finansial terbaru juga mengungkap peningkatan paket penghasilan Gianni Infantino. Bonus tahunan sang presiden meningkat dari USD 2 juta menjadi USD 3 juta, sehingga total paket penghasilannya sekarang mencapai USD 6 juta per tahun.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan