Fenomena Tinggal Serumah: Kebebasan atau Kemunduran?

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
Fenomena tinggal serumah bukan sekadar soal kebebasan, melainkan juga tentang tanggung jawab, moral, dan arah nilai generasi muda di masa depan. Foto: Generated by AI

Di tengah perkembangan style hidup modern, kejadian tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan semakin sering dianggap sebagai perihal nan biasa, khususnya di kalangan anak muda perkotaan. Dengan argumen efisiensi biaya, kenyamanan, hingga kebebasan pribadi, banyak pasangan memilih hidup berbareng sebelum menikah.

Bahkan, tidak sedikit nan menyamarkannya dengan argumen “teman sekamar” alias “rekan kost” demi menghindari penilaian lingkungan sekitar. Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan langkah pandang generasi muda terhadap hubungan, moral, dan nilai sosial nan selama ini dijunjung dalam masyarakat Indonesia. Pertanyaannya: Apakah ini betul-betul corak kebebasan individu, alias justru tanda kemunduran nilai dan tanggung jawab sosial?

Sebagian orang menganggap tinggal serumah merupakan kewenangan pribadi nan tidak semestinya dicampuri oleh masyarakat. Mereka beranggapan bahwa setiap perseorangan mempunyai kebebasan menentukan pilihan hidup selama tidak merugikan orang lain.

Pengaruh budaya luar, media sosial, dan style hidup nan semakin terbuka turut membentuk pola pikir tersebut. Tinggal berbareng dianggap sebagai langkah untuk saling mengenal pasangan lebih dalam sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Namun, di sisi lain, kejadian ini tidak dapat dipandang hanya sebagai persoalan kebebasan pribadi. Indonesia dikenal sebagai negara nan tetap menjunjung nilai agama, etika, dan norma sosial. Ketika tinggal serumah tanpa ikatan sah mulai dinormalisasi, perlahan pemisah antara kebebasan dan pelanggaran nilai menjadi kabur. Hal ini dapat memengaruhi pola pikir generasi muda lainnya, terutama ketika perilaku tersebut dianggap lumrah dan tidak lagi mempunyai akibat sosial.

Ilustrasi tinggal serumah. Foto: Prostock-studio/Shutterstock

Fenomena ini juga memperlihatkan adanya krisis tanggung jawab dalam hubungan. Banyak anak muda nan memilih hidup berbareng tanpa kesiapan mental maupun komitmen jangka panjang. Tidak sedikit pula nan membohongi orang tua dengan argumen tinggal di kost biasa, padahal hidup serumah dengan pasangan nan belum sah.

Kebiasaan menutupi realita demi mendapatkan kebebasan justru menunjukkan bahwa tindakan tersebut sebenarnya tetap bertentangan dengan nilai nan bertindak di masyarakat. Jika memang dianggap benar, kenapa kudu disembunyikan?

Selain berakibat pada nilai sosial, normalisasi tinggal serumah juga berpotensi menimbulkan persoalan lain, seperti bentrok hubungan, kekerasan dalam relasi, hingga kehamilan nan tidak direncanakan. Sayangnya, banyak anak muda lebih konsentrasi pada tren dan kenyamanan sesaat tanpa memikirkan akibat jangka panjang bagi diri sendiri maupun lingkungan sosialnya.

Pada akhirnya, kejadian tinggal serumah bukan sekadar persoalan mengikuti perkembangan zaman, melainkan juga persoalan gimana masyarakat memaknai kebebasan dengan tetap mempertimbangkan moral, tanggung jawab, dan norma sosial. Kebebasan semestinya tidak dijadikan argumen untuk mengabaikan nilai nan telah menjadi dasar kehidupan bermasyarakat.

Generasi muda perlu lebih bijak dalam menentukan pilihan hidup, tidak hanya berasas tren alias pengaruh lingkungan, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya di masa depan. Sudah saatnya masyarakat, keluarga, dan lingkungan pendidikan bersama-sama membangun kesadaran bahwa modernitas tidak kudu menghilangkan nilai dan etika nan selama ini menjadi identitas bangsa.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan