Fenomena ‘Sengaja Menghilang’ di Tengah Budaya Serba Terhubung

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Ilustrasi seorang wanita sedang duduk sendiri (ilustrasi dibuat menggunakan Gemini AI)

Di era ketika segala sesuatu bisa diakses dalam hitungan detik, justru muncul paradoks nan menarik: semakin banyak pilihan, semakin susah seseorang merasa betul-betul puas. Fenomena ini tampak sederhana, tetapi diam-diam membentuk langkah kita menjalani hidup sehari-hari. Kita tidak lagi sekadar memilih, melainkan terus membandingkan dan tanpa sadar, kelelahan.

Dulu, keputusan hidup sering kali berkarakter terbatas. Pilihan pekerjaan, pasangan, apalagi style hidup condong ditentukan oleh lingkungan dan keadaan. Kini, pemisah itu nyaris lenyap. Seseorang bisa menjadi apa saja, pergi ke mana saja, dan menjalani beragam kemungkinan hidup sekaligus setidaknya secara imajinatif melalui layar. Namun, di kembali kebebasan itu, tersimpan tekanan nan tidak kecil: ketakutan memilih jalan nan “salah”.

Setiap pilihan nan diambil terasa seperti menutup kemungkinan lain nan mungkin lebih baik. Akibatnya, keputusan tidak lagi menjadi titik tenang, melainkan sumber kegelisahan. Bahkan setelah memilih, seseorang tetap dihantui pertanyaan: “Bagaimana jika tadi saya memilih nan lain?” Perasaan ini tidak selalu muncul secara terang, tetapi cukup untuk mengganggu rasa cukup dalam diri.

Media digital memperkuat kondisi ini. Kita tidak hanya memandang kehidupan orang lain, tetapi juga jenis terbaiknya. Liburan nan tampak sempurna, pekerjaan nan melesat, relasi nan selaras semuanya datang sebagai pembanding nan seolah nyata dan mudah dicapai. Padahal, nan terlihat hanyalah potongan mini nan sudah diseleksi. Namun, pikiran kita jarang bekerja sejernih itu. Kita tetap membandingkan, tetap merasa tertinggal.

Menariknya, di tengah kondisi ini, muncul kesadaran baru: bahwa mungkin nan dibutuhkan bukanlah lebih banyak pilihan, melainkan keahlian untuk menerima pilihan nan sudah diambil. Kepuasan tidak selalu datang dari menemukan nan paling sempurna, tetapi dari berbaikan dengan nan sudah ada. Ini bukan sikap pasrah, melainkan corak kedewasaan dalam memandang hidup.

Belajar merasa cukup menjadi perihal nan tidak mudah di era sekarang. Ia bertentangan dengan arus nan terus mendorong kita untuk mencari lebih, menjadi lebih, dan mempunyai lebih. Namun, justru di situlah letak tantangannya. Ketika seseorang bisa berakhir sejenak dan berkata, “ini sudah cukup,” ada ketenangan nan tidak bisa diberikan oleh banyaknya opsi.

Pada akhirnya, hidup mungkin bukan tentang memilih nan paling betul di antara sekian banyak kemungkinan, melainkan tentang gimana kita menjalani pilihan itu dengan utuh. Sebab, terlalu sibuk mencari pengganti sering kali membikin kita lupa untuk betul-betul datang dalam kehidupan nan sedang dijalani.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan