Jakarta -
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terjadi peningkatan jumlah masyarakat Indonesia nan beranjak ke luar negeri. Hal ini terjadi di tengah sempat ramainya kejadian #KaburAjaDulu di media sosial.
Hal itu berasas hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025. Tercatat nomor migrasi neto internasional minus 0,53, nan berfaedah terdapat pengurangan masyarakat rata-rata 53 orang per 100 ribu masyarakat setiap tahunnya akibat migrasi internasional.
"Berdasarkan hasil SUPAS 2025, nomor migrasi neto internasional tercatat minus 0,53 nan berfaedah pads periode LF SP 2020 dan SUPAS 2025 terdapat pengurangan masyarakat akibat migrasi internasional rata-rata 53 orang per 100 ribu masyarakat setiap tahunnya," kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konvensi pers di kantornya, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Angka migrasi neto internasional berasas SUPAS 2025 nan minus 0,53 lebih tinggi dibandingkan dengan hasil LF SP2020 nan minus 0,11. Hasil itu juga lebih tinggi dibandingkan SUPAS 2015 nan minus 0,50.
Angka migrasi internasional neto nan negatif pada 2025 itu disebabkan migrasi masuk ke Indonesia tercatat sebesar 61 orang per 100 ribu masyarakat tiap tahunnya. Sedangkan nomor migrasi keluar 114 orang per 100 ribu masyarakat setiap tahunnya.
Dengan nomor migrasi keluar internasional nan lebih besar dari migrasi masuk, menunjukkan bahwa lebih banyak masyarakat Indonesia nan beranjak ke luar negeri.
Jika dihitung dengan membandingkan jumlah masyarakat Indonesia pada SUPAS 2025 nan sebanyak 284,67 juta orang, maka migrasi neto internasional nan sebanyak 53 per 100 ribu masyarakat rata-rata tiap tahun, migrasi ke luar negeri penduduk Indonesia setara 150.875 orang.
"SUPAS 2025 mencatat arus migrasi internasional ke dan dari Indonesia selama periode 2022 sampai 2025," jelas Amalia.
(aid/fdl)
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·