Fenomena Bromo Bersalju Saat RI Musim Kemarau, Ini Penjelasan BMKG

Sedang Trending 56 menit yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Penampakan langka muncul di area Gunung Bromo pada Senin pagi (8/6/2026). Yaitu, munculnya kejadian bak salju, namalain embun upas alias embun kaku di area area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur.

Melansir detikjatim, tampak lapisan kristal es menutupi rerumputan, dedaunan, hingga hamparan pasir di sekitar kaldera Bromo. Fenomena langka ini pun menarik perhatian para visitor lantaran Indonesia nan juga beriklim tropis sedang mengalami Musim Kemarau.

BMKG mencatat, hasil monitoring perkembangan musim pada akhir bulan Mei 2026, dari 699 Zona Musim (ZOM) di Indonesia, sebanyak 200 Zona Musim alias 11,83 dari luas daratan di Indonesia sedang mengalami Musim Kemarau.

Musim Kemarau kali ini diwarnai kejadian El Nino dengan potensi kategori Moderat-Kuat, nan dapat mengurangi curah hujan di Indonesia. Musim tandus tahun ini diprediksi lebih kering dan lebih panjang.

Lantas apa pemicu kejadian ini muncul?

Dikatakan, kejadian embun upas adalah kejadian tahunan di area Bromo dan Semeru saat puncak musim kemarau. Meski, tetap tergantung pada kondisi cuaca dan suhu di malam hingga awal hari.

"Fenomena embun kaku (frost) terjadi akibat pendinginan radiasi nan sangat kuat pada malam hingga awal hari, terutama saat kelembaban udara nan rendah, langit cerah, dan wilayah berada di dataran tinggi," kata Direktur Meteorologi Publik BMKG Ida Pramuwardhani saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (10/6/2026).

Dalam kondisi seperti ini, jelas Ida, panas nan tersimpan di permukaan bumi pada siang hari lebih sigap dilepaskan kembali ke atmosfer pada malam hari, sehingga suhu permukaan turun drastis.

"Jika suhu udara alias suhu permukaan mendekati 0°C alias lebih rendah, embun nan terbentuk dapat membeku menjadi kristal es alias frost/embun beku. Kondisi ini juga diperkuat oleh masuknya massa udara kering dan relatif dingin dari Australia pada periode Monsun Australia," terangnya.

"Fenomena ini tetap tergolong wajar selama terjadi sesuai pola musimnya, pada musim tandus kondisi kelembapan udara umumnya lebih rendah, tutupan awan berkurang, malam hari condong lebih cerah, serta aliran massa udara kering dari Australia semakin dominan," lanjutnya.

Hal ini, sambung dia, lantaran kondisi langit cerah. Padahal, awan semestinya menahan panas.

"Awan berkedudukan seperti "selimut" nan menahan panas bumi. Saat langit cerah tanpa awan, panas dari permukaan lebih mudah lepas ke atmosfer sehingga suhu malam hingga pagi hari turun lebih cepat," ucapnya.

"Kondisi ini umumnya lebih terasa di wilayah dataran tinggi alias pegunungan, serta sebagian wilayah Indonesia bagian selatan nan lebih banyak dipengaruhi aliran udara kering dan relatif dingin dari Australia," papar Ida.

Fenomena Bediding Dimulai

Menurut Ida, wilayah nan mulai berpotensi mengalami suhu dingin/bediding umumnya merupakan wilayah nan telah memasuki alias sedang menuju musim kemarau, terutama di Indonesia bagian selatan.

"Daerah nan biasanya lebih awal dan lebih jelas merasakan kondisi ini antara lain Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali, wilayah selatan Jawa hingga area dataran tinggi di Pulau Jawa, serta sebagian wilayah Sumatra bagian selatan seperti Sumatra Selatan dan Lampung," kata Ida.

"Meski demikian, kejadian bediding tidak merata lantaran dipengaruhi oleh perbedaan tutupan awan, kelembapan udara, angin, topografi, ketinggian tempat, dan karakter permukaan wilayah," lanjutnya.

Wilayah dataran tinggi, wilayah pegunungan, lembah, serta wilayah nan jauh dari pengaruh laut biasanya lebih mudah merasakan suhu dingin dibandingkan wilayah pesisir alias perkotaan. Sebaliknya, wilayah pesisir, perkotaan, alias wilayah nan tetap lembap biasanya tidak mengalami bediding secara kuat lantaran suhu udara lebih stabil dan pelepasan panas tidak secepat wilayah terbuka alias dataran tinggi.

"BMKG mengimbau khususnya masyarakat di sekitar Bromo serta Dieng untuk mewaspadai suhu dingin terutama pada malam hingga pagi hari, dengan menggunakan busana hangat, menjaga kondisi tubuh, serta berhati-hati saat berkendara lantaran udara dingin dan kabut dapat mengurangi jarak pandang," kata Ida.

"BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk secara berkala memantau info prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi melalui beragam kanal info BMKG, antara lain laman www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg, serta melakukan langkah-langkah antisipatif di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi akibat cuaca ekstrem," pungkasnya.

Fenomena embun upas alias embun kaku mulai terlihat di area Gunung Bromo pada Senin (8/6). Hamparan kristal es tampak menutupi rerumputan, dedaunan, hingga lautan pasir setelah suhu awal hari turun di bawah 5 derajat Celsius. (Dok. Bams Tour Bromo/DetikJatim)Fenomena embun upas alias embun kaku mulai terlihat di area Gunung Bromo pada Senin (8/6). Hamparan kristal es tampak menutupi rerumputan, dedaunan, hingga lautan pasir setelah suhu awal hari turun di bawah 5 derajat Celsius. (Dok. Bams Tour Bromo/DetikJatim) Foto: Fenomena embun upas alias embun kaku mulai terlihat di area Gunung Bromo pada Senin (8/6). Hamparan kristal es tampak menutupi rerumputan, dedaunan, hingga lautan pasir setelah suhu awal hari turun di bawah 5 derajat Celsius. (Dok. Bams Tour Bromo/DetikJatim)

(dce/dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News