Jakarta, CNBC Indonesia - Aktivitas di sejumlah warung kopi terlihat seperti melangkah normal. Pelanggan tetap datang untuk beristirahat, alias sekadar menghabiskan waktu sembari mengopi.
Namun di kembali kondisi tersebut, pedagang mulai memandang adanya perubahan perilaku shopping masyarakat. Perubahan itu terlihat dari pola konsumsi pengguna nan semakin irit dalam memilih menu dan mengeluarkan uang.
Jika sebelumnya pengguna datang sembari memesan makanan seperti mi, bubur kacang hijau dan minuman, sekarang sebagian hanya membeli minuman alias menu dengan nilai paling terjangkau seperti gorengan.
"Ada nan makan, ada nan beli es doang," ujar penjaga warung kopi di Ciputat, Tangerang Selatan, Doni, Selasa saat ditemui CNBC Indonesia, Selasa lampau (9/6/2026).
Sebagian pengguna tetap memesan makanan seperti biasa, namun tidak sedikit pula nan hanya membeli minuman ringan alias sekadar singgah tanpa banyak berbelanja.
Meski demikian, Doni mengaku jumlah visitor nan datang ke warungnya sejauh ini belum mengalami penurunan signifikan. Aktivitas di warung tetap berjalan nyaris sepanjang hari lantaran lokasinya nan beraksi selama 24 jam.
Suasana warung kopi nan telah berdagang selama 25 tahun di Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (9/6/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi) Foto: Suasana warung kopi nan telah berdagang selama 25 tahun di Ciputat, Tangerang Selatan, Selasa (9/6/2026). (CNBC Indonesia/Ferry Sandi)
"Alhamdulillah sih jika dari dulu sampai sekarang itu nggak ada nan namanya berkurang (berkunjung). Paling orang-orang hanya singgah doang, mampir gitu kan," katanya.
Warung kopi tetap menjadi tempat nan terjangkau untuk berkumpul dan beristirahat. Pelanggan nan memang datang dalam kondisi lapar biasanya tetap membeli makanan. Hanya saja, tiap pengguna mempunyai pola konsumsi nan sama.
"Tapi jika nan laper kadang-kadang pesen makan juga," ujar Doni.
Sinyal serupa juga dirasakan pedagang warung kopi lainnya. Iis, pemilik warung kopi nan telah berdagang sekitar 25 tahun di Tangsel, menilai masyarakat sekarang semakin berbilang dalam membelanjakan uangnya untuk kebutuhan makan di luar rumah.
Menurutnya, pengguna lebih memilih makanan nan murah namun tetap mengenyangkan dibanding membeli menu nan lebih komplit seperti sebelumnya.
"Iya, mending gorengan saja dah, nan krusial kenyang, ada nan jajan Rp5 ribu juga, alias di bawah Rp10 ribu tapi Alhamdulillah," kata Iis.
Iis mengaku tekanan terhadap usahanya terasa lebih nyata lantaran omzet harian mengalami penurunan cukup besar dibanding beberapa tahun lalu. Kenaikan biaya operasional juga membikin ruang untung semakin menipis.
Pedagang memandang perubahan ini sebagai bagian dari penyesuaian masyarakat terhadap tekanan biaya hidup nan terus meningkat. Ketika nilai kebutuhan sehari-hari naik, konsumsi di luar rumah menjadi salah satu pengeluaran nan paling mudah dikurangi. Bahkan Iis menilai kondisi tersebut sudah berjalan cukup lama dan semakin terasa dalam beberapa bulan terakhir.
"Kalau Ibu sih era Covid lah. Sebelum Covid mah Ibu lezat banget jualan. Kalau makin ke sini makin parah, makin parah hari ini, bulan-bulan ini," katanya.
Sementara itu, Maman pedagang warung kopi nan sebelumnya berdagang di Jakarta, mengatakan kejadian penurunan penjualan bukan hanya terjadi di satu lokasi. Menurutnya, banyak pelaku upaya mini merasakan kondisi nan sama.
"Saya baru disini, sebelumnya jaga warkop di wilayah Kota (Jakpus), sama belakangan menurun juga," kata Maman.
Kondisi di Tangsel ternyata tak jauh berbeda di Jakarta. Yuyun contohnya, sebagai pelaku upaya Warkop di wilayah Pancoran, Jakarta Selatan dia mengaku pelanggannya semakin irit saat jajan ke tempat usahanya. Biasanya, orang-orang membeli kopi komplit dengan mi instan dan telur, tetapi sekarang mereka hanya membeli satu alias dua menu saja.
"Paling beli es kopi doang, nan beli Indomie juga udah mulai jarang apalagi siang-siang begini," ujar dia kepada CNBC Indonesia, Rabu (10/6/2026).
Tak jarang juga Yuyun menemui pengguna nan hanya mau masak mi instan seperti Indomie di Warkop tempat dia berjualan. Pada akhirnya, Yuyun pun menyadari ada penurunan daya beli di masyarakat.
Bahkan, Yuyun juga sempat berbincang dengan pelaku upaya Warkop lainnya dan ditemukan kebenaran bahwa omzet Warkop ambruk dalam beberapa waktu terakhir.
Masih di wilayah Pancoran, seorang tenaga kerja Warkop berjulukan Asep mengaku bahwa ada sedikit perubahan perilaku para pengguna jelang akhir bulan. Biasanya, pada awal bulan masyarakat memesan menu sesuai selera seperti nasi goreng, magelangan, hingga mi instan telur. Sebaliknya, saat memasuki akhir bulan kebanyakan dari mereka hanya membeli menu nasi telur seharga Rp 10.000 per porsi.
"Kebanyakan jika beli Indomie single (satu bungkus) enggak pakai telur, tapi tambah nasi jadi Rp 13.000," ungkap Asep.
Bahkan, saat ini sebagian pengguna Warkop juga sudah mulai jarang memesan menu mi instan dengan telur, lebih banyak pesan mi instan ditambah nasi putih. Kendati begitu, Asep memandang, penjualan menu kopi tetap stabil hingga saat ini lantaran masyarakat belum bisa lepas dari kebiasaan mengkonsumsi kopi.
"Biasanya ramenya abis maghrib sama tadi jam 12 pas makan siang," terang dia.
Beralih ke Warkop lainnya, Iqbal selaku tenaga kerja memandang omzet di tempat dia bekerja sudah mulai menurun. Hal ini menjadi salah satu bukti pengeluaran masyarakat sudah mulai terbatas saat jajan ke Warkop.
Saat ini, Warkop tempat Iqbal bekerja sudah mulai sunyi pembeli di luar waktu malam hari. Bahkan, jumlah visitor Warkop di siang hari bisa terhitung jari. Namun untungnya, penjualan mi instan dan kopi di Warkop tempat Iqbal bekerja tetap relatif stabil.
Di sisi lain, penjualan menu bubur kacang tidak begitu banyak. Apalagi, nilai kacang hijau sedang mengalami kenaikan, sehingga satu porsi bubur kacang nan sebelumnya dibanderol Rp 8.000 per porsi sekarang naik menjadi Rp 10.000 per porsi.
Salah satu visitor Warkop, Rifky mengaku dirinya memesan mi instan di Warkop dengan tambahan satu balut mi instan nan dia beli di Warung Madura. Hal ini dia lakukan demi menekan budget pengeluarannya.
"Kalau kopi tetap beli, Indomie tetap pakai telur, sekarang mulai ngirit Indomienya aja sih," jelasnya.
Selanjutnya, visitor lainnya nan berjulukan Febri menjelaskan, dalam beberapa waktu terakhir dia memang sudah mengurangi konsumsi mi instan. Alhasil, dia menjadi jarang untuk pergi ke Warkop. Biasanya, saat hendak membeli mi instan di Warkop, dia tergiur untuk memesan menu lainnya seperti kopi, es teh, apalagi gorengan.
Namun, saat ini Febri memilih untuk lebih bijak saat mengeluarkan uangnya pada saat ke Warkop. Akhirnya, dia hanya membeli salah satu minuman alias makanan saja. Alhasil, untuk sekadar makan mi instan Febri condong memasak di rumah dan hanya sesekali ke Warkop.
"Buat ngirit budget terus nekan pengeluaran kan, agar nggak boros. Satu lagi sih ada alasannya, agar lebih sehat aja," tandas dia.
(wur/wur)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·