Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (Food and Agriculture Organization/FAO) memperkirakan pasar gula internasional bakal berbalik mengalami surplus produksi pada musim 2025/2026 (Oktober-September), seiring pemulihan produksi dunia dan pertumbuhan konsumsi nan relatif terbatas.
Dalam laporan Food Outlook Biannual Report on Global Food Markets jenis Juni 2026, FAO memproyeksi produksi gula bumi mencapai 183,2 juta ton alias meningkat 3,5 persen dibandingkan musim sebelumnya nan mengalami penurunan.
“Pasar gula internasional diperkirakan bakal beranjak menuju kondisi surplus produksi pada musim 2025/2026 (Oktober/September), mencerminkan pemulihan produksi dunia dan hanya pertumbuhan konsumsi nan moderat,” tulis arsip FAO, dikutip Minggu (21/6).
Kenaikan produksi terutama didorong oleh peningkatan output di sejumlah negara produsen utama di Asia. Di India, produksi gula diperkirakan pulih meskipun curah hujan berlebihan mempengaruhi produktivitas tebu di sejumlah wilayah penghasil utama. Kondisi itu membikin proyeksi produksi lebih rendah dibanding perkiraan sebelumnya.
Sementara Thailand diperkirakan mencatat lonjakan produksi nan kuat berkah kondisi cuaca nan lebih mendukung. Produksi gula juga diperkirakan meningkat di China dan Pakistan.
Sebaliknya, Brasil diproyeksikan mengalami penurunan produksi gula untuk musim kedua berturut-turut. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh berkurangnya porsi tebu nan dialokasikan untuk produksi gula lantaran meningkatnya permintaan etanol.
Di Uni Eropa, produksi gula juga diperkirakan menurun akibat berkurangnya luas area tanam bit gula. Di sisi permintaan, konsumsi gula bumi pada musim 2025/2026 diperkirakan tumbuh 0,9 persen dibanding musim sebelumnya. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan sebelumnya.
“Perlambatan terutama mencerminkan melemahnya aktivitas ekonomi dunia nan diperkirakan bakal menekan permintaan dari sektor minuman dan industri pengolahan makanan,” lanjut arsip FAO.
Meski demikian, konsumsi gula dunia diperkirakan tetap meningkat, terutama didorong oleh pertumbuhan permintaan di area Afrika dan Asia.
FAO juga memperkirakan perdagangan gula bumi pada musim 2025/2026 mencapai 64,1 juta ton alias meningkat 0,6 persen dibandingkan musim sebelumnya.
Peningkatan kesiapan ekspor dari Thailand diperkirakan bakal lebih dari cukup untuk menutupi penurunan ekspor dari Uni Eropa. Sementara itu, ekspor gula Brasil diproyeksikan relatif stabil dan pengiriman dari India diperkirakan hanya meningkat secara terbatas.
Dari sisi impor, pertumbuhan perdagangan gula dunia bakal didorong oleh meningkatnya pembelian dari China, pulihnya impor Uni Eropa, serta permintaan nan tetap kuat dari negara-negara Afrika.
Namun FAO mencatat bentrok nan terjadi di area Timur Tengah pada 2026 telah mengganggu arus perdagangan gula regional melalui Selat Hormuz. Gangguan turut mempengaruhi pengiriman gula menuju dan dari pusat-pusat pemurnian gula di area Teluk, sehingga menambah tantangan bagi rantai pasok komoditas tersebut di tengah proses pemulihan pasar global.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·