Fanny Kondo berbareng dengan pemain Baby Udon dalam aktivitas Press Conference movie Baby Udon di CGV Grand Indonesia, Rabu (26/8).(MI/Netty Fatmawati Pane)
KISAH Fanny Kondo dan almarhum suaminya diangkat ke layar lebar melalui movie Baby Udon. Bagi Fanny, movie ini bukan sekadar penggambaran perjalanan hidup, tetapi menjadi langkah untuk mengenang sang suami sekaligus menyampaikan pesan agar penonton lebih menghargai pasangan, keluarga, kesehatan, dan waktu nan dimiliki.
Fanny mengungkapkan perihal tersebut saat berbincang dalam sesi wawancara mengenai movie Baby Udon. Ia mengaku emosional menjelang penayangan movie nan mengangkat kisah perjuangannya tersebut.
Fanny Ingin Suaminya Tetap Dikenang
Fanny berambisi almarhum suaminya dapat menjadi bagian dari perjalanan movie tersebut meskipun secara bentuk sudah tidak berada di sampingnya. Ia apalagi membayangkan sang suami duduk di salah satu bangku bioskop ketika movie tersebut ditonton masyarakat.
“Aku hanya mau bilang dari tadi saya jalan ke sini, saya nangis di mobil. Aku bilang, ‘Honey, Anda tahu nggak, finally Anda nggak bakal diingat menjadi abu? Hanny, Anda tahu enggak filmnya ini udah mau tayang loh’,” ujar Fanny.
Ia juga berambisi almarhum dapat memandang anak mereka datang dalam movie tersebut.
“Aku berambisi Anda bisa lihat Kaskas ada di sini, movie debut pertama anak kita. Meskipun hanya gundulnya doang. Tapi saya berambisi Anda bisa membersamai movie ini, membersamai semua penonton nan ada di sini,” katanya.
Pesan Fanny soal Menghargai Waktu
Di kembali kisah kehilangan nan menjadi bagian krusial dalam Baby Udon, Fanny mau penonton menyadari bahwa setiap kebahagiaan dalam hidup merupakan sesuatu nan berharga.
“Allah itu selalu memberikan nikmat titipan tentang suami, titipan anak, rezeki, nikmat keturunan, nikmat kesehatan, tapi kadang kita lupa,” ujar Fanny.
Menurutnya, manusia sering baru menyadari nilai sebuah kebahagiaan ketika kudu kehilangan. Karena itu, dia berambisi movie tersebut dapat membikin penonton lebih menghargai orang-orang terdekat selagi tetap bersama.
“Time is precious, kita nggak pernah tahu kapan suami kita bakal pergi, kapan anak kita bakal kembali, kesehatan kita diambil ataupun rezeki kita hilang,” katanya.
Film Baby Udon dijadwalkan tayang pada 3 September. Bagi Fanny, movie tersebut menjadi pengingat bahwa cinta, perjuangan, dan kenangan terhadap orang nan telah pergi tetap dapat hidup melalui cerita.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·