Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik militer Amerika Serikat (AS) di Iran berpotensi menimbulkan beban jumbo hingga merugikan penduduk Amerika sendiri sebagai pembayar pajak. Seorang akademisi dari Harvard memperkirakan total biaya perang ini bisa menembus US$1 triliun alias sekitar Rp17.000 triliun (asumsi kurs Rp17.000/US$).
Dalam enam hari pertama operasi campuran AS-Israel nan dimulai pada 28 Februari, Pentagon melaporkan biaya mencapai US$11,3 miliar alias sekitar Rp192,1 triliun. Namun nomor ini dinilai belum mencerminkan biaya sebenarnya.
Profesor kebijakan publik di Harvard Kennedy School, Linda Bilmes, memperingatkan bahwa biaya riil bisa jauh lebih besar dan berakibat langsung pada masyarakat AS. "Saya percaya kita bakal mencapai US$1 triliun untuk perang Iran," ujar Bilmes, seperti dikutip CNBC International, Rabu (15/4/2026).
Meski sempat terjadi gencatan senjata sementara pada 8 April, situasi di lapangan tetap memanas. Upaya tenteram belum membuahkan hasil, apalagi pasukan AS kembali meningkatkan tekanan dengan memulai blokade pelabuhan Iran setelah negosiasi gagal.
Bilmes menjelaskan, biaya jangka pendek perang bisa mencapai US$2 miliar per hari alias sekitar Rp34 triliun. Ini terutama untuk amunisi, pengerahan pasukan, hingga kerusakan aset militer. Salah satu contohnya adalah jatuhnya tiga jet tempur F-15 akibat salah sasaran.
Menurutnya, laporan Pentagon condong meremehkan biaya lantaran menggunakan nilai historis inventaris, bukan nilai penggantian aktual nan jauh lebih mahal. "Kesenjangan ini membikin nomor US$11,3 miliar lebih mendekati US$16 miliar (Rp272 triliun)," jelasnya.
Selain itu, biaya pengisian ulang persenjataan juga menjadi sorotan. AS kudu mengeluarkan sekitar US$4 juta (Rp68 miliar) per unit pencegat rudal, jauh lebih mahal dibandingkan drone Iran nan hanya sekitar US$30.000 (Rp510 juta).
Dalam jangka panjang, beban biaya bakal semakin membengkak. Selain rekonstruksi aset militer dan prasarana sekutu di area Teluk, pemerintah AS juga kudu menanggung tunjangan abnormal seumur hidup bagi sekitar 55.000 tentaranya nan terpapar ancaman lingkungan selama penugasan.
Di sisi lain, Gedung Putih telah mengusulkan kenaikan anggaran pertahanan menjadi US$1,5 triliun (Rp25.500 triliun). Hal itu belum termasuk tambahan US$200 miliar (Rp3.400 triliun) unik untuk perang Iran.
"Bahkan jika tidak disetujui penuh, kemungkinan besar setidaknya US$100 miliar (Rp1.700 triliun) per tahun bakal ditambahkan ke anggaran pertahanan lantaran perang ini," kata Bilmes.
Kondisi ini dinilai bakal semakin menekan defisit fiskal AS nan sudah tinggi. Saat ini, utang publik AS telah melampaui US$31 triliun (Rp527.000 triliun), jauh lebih besar dibandingkan periode perang Irak.
"Kita membiayai perang ini dengan utang nan lebih mahal, di atas pedoman utang nan sudah sangat besar," ujar Bilmes. "Biaya ini bukan hanya sekarang, tapi bakal diwariskan ke generasi berikutnya," tegasnya menyebut beban kembang utang bakal terus bertambah dan pada akhirnya ditanggung generasi mendatang di AS.
(tfa/sef)
[Gambas:Video CNBC]
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·