Ketahui kebenaran penularan Hepatitis B dan C.(Dok. Magnific)
HEPATITIS B dan hepatitis C tetap sering memicu kekhawatiran di tengah masyarakat akibat dugaan keliru mengenai jalur penularannya. Banyak nan percaya bahwa penyakit ini dapat menular melalui aktivitas sosial sehari-hari, seperti makan berbareng alias berpelukan dengan pengidapnya.
Berdasarkan info nan dihimpun per 14 Agustus 2026, dugaan tersebut tidak benar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan bahwa hepatitis B dan C mempunyai sistem penularan nan berbeda dengan hepatitis A dan E. Jika hepatitis A dan E menular melalui makanan alias air nan terkontaminasi, hepatitis B dan C umumnya berangkaian dengan paparan darah alias cairan tubuh nan terinfeksi.
Hepatitis B Tidak Menular Lewat Kontak Sosial
Hepatitis B disebabkan oleh virus HBV nan menular melalui kontak darah, hubungan seksual, penggunaan jarum suntik nan terkontaminasi, serta penularan dari ibu ke bayi saat persalinan. Namun, CDC memastikan bahwa virus ini tidak menyebar melalui aktivitas seperti berpelukan, bersalaman, batuk, bersin, hingga berbagi perangkat makan dan minum.
Penularan hanya terjadi jika ada kontak langsung dengan cairan tubuh tertentu seperti darah alias air mani. Oleh lantaran itu, penggunaan peralatan pribadi nan berisiko menimbulkan luka, seperti pisau cukur alias sikat gigi, tetap tidak disarankan untuk digunakan secara bergantian.
Mekanisme Penularan Hepatitis C
Serupa dengan jenis B, hepatitis C (HCV) terutama menular melalui kontak darah. WHO mencatat jalur penularan utama meliputi penggunaan peralatan medis nan tidak steril, penggunaan perangkat suntik bersama, serta transfusi darah nan tidak melalui skrining ketat.
Penting untuk digarisbawahi bahwa hepatitis C tidak menular melalui sentuhan biasa, ciuman, alias berbagi minuman. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada argumen medis untuk mengucilkan personil family alias kawan nan hidup dengan kondisi ini dalam hubungan sehari-hari.
Langkah Pencegahan dan Kewaspadaan
Meskipun hubungan sosial tergolong aman, kewaspadaan terhadap barang nan berpotensi terpapar darah tetap menjadi kunci. Masyarakat diimbau untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dan mempraktikkan perilaku seksual nan aman.
Hingga saat ini, vaksinasi hepatitis B menjadi langkah pencegahan paling efektif menurut WHO. Sementara untuk hepatitis C, lantaran belum tersedia vaksin, pencegahan difokuskan pada menghindari paparan darah nan terkontaminasi. Pemahaman nan betul mengenai jalur jangkitan ini diharapkan dapat mengurangi stigma negatif terhadap penyintas hepatitis. (Halodoc/Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·