Liputan6.com, Jakarta - Kematian dokter internship berinisial dr. SZM nan ditemukan tewas setelah terjatuh dari lantai 18 sebuah apartemen di area Kalibata, Jakarta Selatan, menyita perhatian publik.
Peristiwa nahas itu terjadi pada Minggu (26/7/2026). Kejadian ini memunculkan beragam spekulasi di media sosial. Namun hingga kini, kepolisian tetap melakukan penyelidikan dan belum menyimpulkan penyebab pasti kematian korban.
Polisi telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa sejumlah saksi, serta mengumpulkan peralatan bukti untuk mengungkap kronologi kejadian tersebut. Berikut fakta-fakta nan telah dihimpun dari tewasnya dr. SZM:
1. Korban Tinggal Bersama Ibu
Dokter SZM adalah lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin nan sedang menjalani Program Internsip Dokter Indonesia di RS Sentra Medika Cisalak, Depok, Jawa Barat, sejak Mei 2026.
Kapolsek Pancoran Kompol Mansur mengatakan berasas penyelidikan sementara, korban tinggal berdua berbareng ibunya di unit apartemen tersebut.
Sebelum kejadian, sang ibu membujuk korban pergi ke mal. Namun rayuan itu ditolak. Korban memilih tetap berada di apartemen.
“Korban tinggal berdua sama ibunya. Saat itu ibunya membujuk pergi ke mal, tetapi korban tidak mau dan tetap di unit,” kata Mansur saat dihubungi, Senin (27/7/2026).
2. Korban Lompat, Sempat Tersangkut di Balkon
Korban lampau mengunci pintu apartemen dari dalam usai ibunya pergi. Tak lama kemudian, korban diduga melompat dari jendela apartemen nan berada di lantai 18.
“Setelah ibunya pergi, pintu dikunci dari dalam oleh korban. Di situlah korban diduga melompat dari jendela untuk mengakhiri hidupnya,” ujarnya.
Mansur mengatakan, korban sempat tersangkut di anjungan sebelum akhirnya jatuh. Polisi yamg menerima laporan langsung melakukan olah tempat kejadian perkara.
Jenazah korban kemudian dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk keperluan pemeriksaan lebih lanjut.
Terkait penyebab korban diduga mengakhiri hidupnya, Mansur menegaskan pihaknya belum menemukan bukti nan mengarah pada motif tertentu, termasuk dugaan tekanan dalam pekerjaan.
“Sampai sekarang belum ada info apakah lantaran tekanan pekerjaan alias perihal lain. Kami belum bisa meminta keterangan family lantaran tetap berduka,” katanya.
3. Dugaan Penyebab Korban Bunuh Diri
Terkait penyebab korban diduga mengakhiri hidupnya, Mansur menegaskan pihaknya belum menemukan bukti nan mengarah pada motif tertentu, termasuk dugaan tekanan dalam pekerjaan.
“Sampai sekarang belum ada info apakah lantaran tekanan pekerjaan alias perihal lain. Kami belum bisa meminta keterangan family lantaran tetap berduka,” katanya.
Menurut Mansur, interogator tetap membuka kemungkinan mendalami beragam aspek nan melatarbelakangi kejadian tersebut.
“Tetap kami dalami apa penyebabnya, kok bisa dengan senekat itu loncat dari lantai 18,” ujarnya.
Polisi juga tetap berupaya membuka unit apartemen korban untuk melakukan pemeriksaan. Namun proses itu belum dilakukan lantaran pintu terkunci dari dalam. Selain itu, interogator tetap menunggu persetujuan keluarga.
"Kalau kita mau membuka dengan langkah paksa untuk jebol, nah saat ini kita belum berani, security pun juga belum berani, tetap menunggu keluarga. Karena kan faktanya jelas, artinya ini kan apa, pihak family belum ada nan bisa kita mintain keterangan, makanya kita belum berani," ujar dia.
4. Kemenkes Buka Investigasi
Investigasi mengenai meninggalnya master SZM dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga berkoordinasi dengan polisi, Konsil Kesehatan Indonesia (KKI), Komite Internsip Kedokteran Indonesia (KIKI), Ikatan Dokter Indonesia, pemerintah daerah, dan wahana internship.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman mengatakan seluruh kebenaran dan kronologi kejadian bakal diungkap secara utuh.
"Hasil investigasi ditargetkan selesai dalam waktu tiga hingga empat hari," tutur Aji.
Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin meminta seluruh master internship untuk kembali menjalani skrining kesehatan jiwa. Hal ini disampaikan Budi usai dalam waktu berdekatan terdapat beberapa master internship meninggal dunia.
"Saya sedih sekali memandang ada kejadian terus menerus meninggal ini. Ada masalah psikologis apa ya sehingga mereka ada kejadian (seperti ini)," kata Budi.
"Yang jelas saya sudah minta semua di skrining jiwa sekali lagi. Wajib. Internship, saya sudah minta untuk skrining kejiwaan," tutur Budi ditemui di Gedung Widya Graha BRIN, Jakarta pada Senin (27/7/2026).
Skrining kesehatan jiwa diharapkan dapat membantu mendeteksi lebih awal andaikan terdapat indikasi gangguan kesehatan mental pada seseorang. Dengan demikian, intervensi dapat segera dilakukan sebelum kondisinya memburuk.
"Indikasi bunuh diri ini kan harusnya bisa ditangkap dengan skrining kejiwaan, jika ada indikasi-indikasi, kita bisa langsung ambil tindakan, bisa taruh dulu (bisa lakukan penanganan kesehatan jiwa)," kata Budi.
KONTAK BANTUAN
Bunuh diri bukan jawaban apalagi solusi dari semua persoalan hidup nan seringkali menghimpit. Bila Anda, teman, saudara, alias family nan Anda kenal sedang mengalami masa sulit, dilanda depresi dan merasakan dorongan untuk bunuh diri, sangat disarankan menghubungi master kesehatan jiwa di akomodasi kesehatan (Puskesmas alias Rumah Sakit) terdekat.
Bisa juga mengunduh aplikasi Sahabatku: https://play.google.com/store/apps/details?id=com.icreativelabs.sahabatku
Atau hubungi Call Center 24 jam Halo Kemenkes 1500-567 nan melayani beragam pengaduan, permintaan, dan saran masyarakat.
Anda juga bisa mengirim pesan singkat ke 081281562620, faksimili (021) 5223002, 52921669, dan alamat surat elektronik (surel) kontak@kemkes.go.id.
Baca buletin terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·