Jakarta, CNN Indonesia --
Surutnya air di Bendungan Karian, Kabupaten Lebak, Banten imbas kemarau membikin penduduk kembali datang mengunjungi jejak rumah mereka nan sekarang muncul ke permukaan lagi. Mereka nostalgia memandang sisa-sisa gedung rumahnya kini tak lagi terendam air.
Di dasar Bendungan Karian, ditemukan bekas-bekas tanda kehidupan masyarakat. Terlihat sejumlah gedung rumah nan menyisakan tembok saja: genting dan bentuknya sudah tak lagi sama.
Tak hanya rumah, gedung masjid pun tampak di atas tanah. Musim tandus ini membawa penduduk dapat mengenang cerita lama di letak nan dulu ditempati mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bekas permukiman padat
Rumah-rumah itu ditinggalkan penduduk tahun 2023. Kampung itu ditinggalkan lantaran dialihfungsikan menjadi area resapan air berupa Bendungan Karian.
"Lokasi di ujung genangan Desa Sukarame dan Desa Sukajaya Kecamatan Sajira, sudah di area hulu, dan awalnya memang merupakan wilayah permukiman padat," ujar Kepala Bagian Umum dan Tata Usaha BBWS Cidanau Ciujung Cidurian (C3) Maretha Ayu Kusumawati, mengutip detikcom, Senin (27/7).
Bangunan-bangunan itu memang tidak dihancurkan saat ditenggelamkan. Petugas hanya membersihkan tanaman-tanaman di area tersebut.
"Kondisi seluruh area genangan meski sudah dibebaskan tidak dilakukan demolish untuk seluruh gedung nan terdampak. Adapun nan dilakukan proses clearing oleh tim bangunan hanya tanamannya saja," ujarnya.
Maretha Ayu menyebut saat ini air dalam waduk hanya menyusut sekitar 5 persen. Kondisi itu membikin gedung rumah nan ditinggalkan itu tampak secara jelas.
"Pada muka air banjir (MAB) waduk, sebagian rumah bakal tenggelam lantaran beda tinggi dengan muka air normal sekitar 3,35 meter. Saat ini elevasinya turun sekitar 80 cm dari muka air normal," katanya.
Nostalgia, penduduk datang lihat rumah lama
Sejumlah penduduk mendatangi kembali kampungnya nan dulu mereka tinggali. Seorang penduduk nan dulu tinggal di area waduk, Odon, mengatakan biasanya hanya atap-atap masjid saja nan terlihat jika air menggenang dalam.
"Banyak juga sih nan timbul, kayak di Kampung Susukan, Karian, timbul lagi, soalnya surut. Terus Somang, Desa Sukajaya... Kalau Somang setengahnya. Sukarame," ujar Odon.
Rumah Odon berada di Kampung Bolang nan ada di tengah-tengah waduk. Meski saat ini rumahnya tak tampak, namun dua minggu lampau dia sempat berjamu ke waduk nan sudah surut.
"Iya mengenang, mengenang tanah tempat kelahiran dulu," kata Odon.
Odon dan banyak penduduk lain tidak pindah jauh dari tempatnya nan dulu. Mereka membeli rumah lagi di dekat Bendungan Karian. Odon menyebut penduduk biasanya memakai rakit saat berjamu ke waduk. Mereka menerka-nerka di mana letak rumah mereka dulu.
"Warga di situ nan bikin rakit, kan ada nan jika nan punya duit membeli perahu," ujarnya.
Pertama kalinya muncul sejak tenggelam 2023
Setidaknya tiga tahun sudah kampung tersebut ditenggelamkan untuk menjadi Bendungan Karian. Perkampungan tersebut bak Atlantis nan tenggelam.
Perkampungan tersebut baru pertama kali muncul dengan jelas sejak ditenggelamkan pada 2023. Kondisi itu terjadi imbas dari tandus panjang.
"Karena tandus ekstrem sepertinya, baru kali ini terlihat," ucap Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau Ciujung Cidurian (BBWSC3), Dedi Yudha Lesmana.
Dia mengatakan, biasanya hanya sebagian gedung nan terlihat di Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira. Kini, meski tetap terendam air sekitar 5%, bangunan-bangunan itu terlihat cukup jelas.
"(Sebelumnya) Hanya sebagian," katanya.
Dedi mengatakan bahwa kondisi air waduk tetap kondusif untuk irigasi di wilayah sekitar.
"Jika di hilir memerlukan air lebih banyak, tetap dapat dikeluarkan dari Karian," ujar Dedi saat dihubungi terpisah.
Bendungan diklaim tetap aman
BBWSC3 menyebut pasokan dan tampungan air di Bendungan Karian tetap kondusif untuk kebutuhan air baku serta suplai air irigasi ke Daerah Irigasi (DI) Ciujung. Fenomena munculnya kembali gedung di dasar waduk merupakan kondisi nan wajar dan tidak mengindikasikan adanya gangguan kegunaan bendungan.
Dedi mengatakan debit total air nan dirilis sebesar 24 m³/detik sebagai suplesi irigasi dari intake Bendungan Karian ke Bendung Gerak Pamarayan Baru guna melayani DI Ciujung. Dia mengatakan kebutuhan air untuk lahan pertanian di wilayah jasa tetap dapat terpenuhi.
"Saat ini tampungan Bendungan Karian tetap kondusif untuk memenuhi kebutuhan air baku maupun irigasi. Penurunan muka air sekitar 80 sentimeter dari elevasi normal merupakan kondisi nan lazim terjadi pada musim tandus dan tetap berada dalam pemisah kondusif operasi waduk," ujar Dedi.
Bekas permukiman di Desa Sukarame dan Desa Sukajaya, Kecamatan Sajira, Kabupaten Lebak itu berada di hulu waduk dengan elevasi di atas +64,50 meter dan berjarak 16 kilometer dari as bendungan.
Meskipun muka air waduk berada pada elevasi normal, sebagian lahan maupun gedung nan telah dibebaskan memang tetap bakal tampak lantaran hanya tergenang sebagian.
"Sebagai upaya mengantisipasi musim tandus nan diperkirakan tetap berjalan hingga Agustus mendatang, BBWS C3 terus menjaga kesiapan air pada tampungan nan dikelola, baik waduk maupun bendung agar tetap bisa memenuhi kebutuhan air untuk masyarakat," kata Dedi.
Baca berita lengkapnya di sini.
(tim/dal)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·