Potensi ekspor tidak hanya tumbuh dari area industri dan perusahaan berskala besar, tapi juga dari desa. Dari desa-desa di Bangka Belitung, lada putih, kerajinan lidi nipah, hingga produk olahan hasil laut mempunyai kesempatan untuk menjangkau pasar dunia andaikan didukung kapabilitas produksi, kualitas nan konsisten, tata kelola usaha, dan akses pasar nan memadai.
Untuk memperkuat potensi tersebut, Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)/ Indonesia Eximbank berbareng Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Kementerian Keuangan meresmikan 48 Desa Devisa di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Peresmian nan berjalan di Alun-alun Taman Merdeka, Pangkalpinang, Jumat (28/8), menjadi bagian dari sinergi Kemenkeu Satu dalam membangun kapabilitas ekspor dari tingkat desa sekaligus mendorong sumber pertumbuhan ekonomi wilayah nan lebih beragam.
Seluruh Desa Devisa tersebut mempunyai kekuatan pada tiga klaster komoditas unggulan ialah lada, kerajinan lidi nipah, dan olahan perikanan. Masing-masing mempunyai karakter produk dan pedoman pelaku upaya nan dapat dikembangkan untuk menjangkau pasar nan lebih luas.
Direktur Pelaksana Keuangan, Operasional, & Teknologi Informasi LPEI, Anwar Harsono, mengatakan konsistensi menjadi salah satu kunci agar pelaku upaya tidak hanya dapat memasuki, tetapi juga memperkuat di pasar global.
“Keunikan produk adalah pintu masuk, tetapi nan membikin pelaku upaya memperkuat di pasar ekspor adalah konsistensi. Kapasitas produksi, kualitas dan spesifikasi produk, tata kelola usaha, dan kesiapan finansial kudu dibangun berjenjang sebelum pelaku upaya berhadapan dengan pembeli luar negeri. Di situlah pendampingan Desa Devisa berperan,” ujar Anwar.
Klaster lada mencakup 34 desa dengan sekitar 400 petani di Kabupaten Bangka Selatan dan Bangka Tengah. Produk nan dihasilkan berupa lada putih dalam corak biji dan bubuk. Lada Bangka telah dikenal di pasar dunia sebagai Muntok White Pepper, mempunyai kandungan piperin tinggi nan memberikan karakter pedas tajam, serta telah memperoleh perlindungan Indikasi Geografis (IG).
Potensi berikutnya datang dari tujuh desa penghasil kerajinan lidi nipah nan melibatkan 50 perajin di Kabupaten Bangka dan Bangka Tengah. Serat lidi nipah nan tebal, panjang, dan lentur, dengan nuansa warna alami kecokelatan hingga krem, memberikan karakter premium pada produk kerajinan nan sepenuhnya organik dan mudah terurai.
Sementara itu, klaster olahan perikanan mencakup tujuh desa dengan 36 pelaku upaya mini dan menengah di Kabupaten Bangka dan Bangka Tengah. Produk diolah dari hasil tangkapan laut segar, dengan puluhan Industri Kecil Menengah (IKM) nan telah berlindung dalam satu sentra sehingga penguatan dan penjagaan standar kualitas produk dapat dilakukan secara lebih terarah.
Sebagai Special Mission Vehicle (SMV) Kementerian Keuangan, LPEI bakal mendampingi pelaku upaya mulai dari penguatan kelembagaan dan manajemen ekspor hingga ekspansi akses pasar. Pendampingan tersebut meliputi training prosedur dan arsip ekspor, penyusunan laporan finansial berstandar akuntansi, pengenalan market intelligence, pembiayaan pengiriman sampel ke luar negeri, fasilitasi uji laboratorium, hingga keikutsertaan dalam pameran internasional.
Langkah LPEI ini didukung oleh sinergi lintas lembaga nan solid. LPEI bersinergi dengan DJPb, Bea Cukai, Kementerian Perindustrian, Bank Indonesia (BI) perwakilan Babel, dan Pemerintah Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Masing-masing lembaga memainkan peran strategis dalam membangun ekosistem ekspor nan berkelanjutan, dengan BI, Kemenperin, dan Pemda Babel berfaedah sebagai inkubator UMKM, sementara LPEI, DJPb, dan Bea Cukai menjalankan kegunaan sebagai akselerator ekspor.
Kepala Kanwil DJPb Provinsi Kepulauan Bangka Belitung sekaligus Kepala Perwakilan Kementerian Keuangan Bangka Belitung, Muhamad Mufti Arkan, menyatakan, "Program ini merupakan bagian dari upaya membangun sumber pertumbuhan ekonomi baru nan lebih beragam, inklusif, dan berkepanjangan dengan menempatkan desa sebagai titik awal pembangunan ekonomi nan berorientasi global."
Program Desa Devisa merupakan program pendampingan berbasis community development nan diinisiasi Indonesia Eximbank untuk meningkatkan kapabilitas masyarakat lokal dan mengembangkan komoditas unggulan desa hingga bisa menembus pasar ekspor. Program ini sejalan dengan komitmen Indonesia Eximbank pada prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) dan kerangka Sustainable Development Goals (SDGs), sekaligus mendukung Asta Cita Pemerintah.
Sinergi ini semakin melengkapi perjalanan LPEI selama 17 tahun dalam mengawal dan mendorong pertumbuhan ekspor nasional. Program ini menjadi bagian dari upaya berkepanjangan LPEI untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekspor tidak hanya bertumpu pada pelaku upaya besar, tetapi juga tumbuh dari potensi ekonomi masyarakat di beragam wilayah Indonesia.
4 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·