EV-GO Fleet menggelar uji coba sepeda motor listrik berbareng sejumlah pengemudi ojek online (ojol) di Bali.(Dok.Istimewa)
EV-GO Fleet menggelar uji coba sepeda motor listrik berbareng sejumlah pengemudi ojek online (ojol) di Bali. Uji coba dilakukan untuk memandang penggunaan kendaraan hasil konversi dalam aktivitas operasional sehari-hari sekaligus mengembangkan ekosistem kendaraan listrik.
President EV-GO Raine Renaldi mengatakan pengemudi ojol dipilih lantaran mempunyai tingkat penggunaan kendaraan nan tinggi. Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan gambaran mengenai performa kendaraan hasil konversi dalam penggunaan intensif.
“Data serta pengalaman nan diperoleh dari lapangan kemudian dapat menjadi salah satu dasar untuk menyusun model penerapan kendaraan listrik dalam skala nan lebih luas,” kata Raine.
Melalui uji coba tersebut, EV-GO mempelajari sejumlah aspek, antara lain pola konsumsi baterai, kebutuhan titik penukaran baterai, kenyamanan, keandalan kendaraan, serta potensi penghematan biaya operasional.
EV-GO juga memanfaatkan momentum Coinfest Asia 2026 di Bali untuk memperkenalkan kendaraan hasil konversinya kepada masyarakat dan organisasi nan lebih luas. Kendaraan listrik hasil konversi digunakan dalam mendukung mobilitas peserta selama rangkaian kegiatan.
“EV-GO juga mengkampanyekan penyediaan 10.000 perjalanan cuma-cuma selama rangkaian aktivitas untuk side event nan telah bekerja sama,” ujar Raine.
Menurut dia, masyarakat tidak hanya perlu mendapatkan info mengenai kendaraan listrik, tetapi juga merasakan langsung penggunaannya. Pendekatan tersebut dinilai krusial untuk membangun pemahaman dan kepercayaan terhadap kendaraan hasil konversi.
EV-GO juga memandang Coinfest Asia sebagai kesempatan untuk mempertemukan pengembangan kendaraan listrik dengan teknologi digital, investasi, blockchain, dan Web3. Perusahaan menargetkan kendaraan hasil konversi dapat menjadi bagian dari pengembangan ekosistem smart vehicle.
TARGET KONVERSI
Dalam jangka panjang, EV-GO menargetkan konversi hingga 1 juta sepeda motor di Bali secara bertahap. Target tersebut memerlukan kerjasama pemerintah, sektor swasta, bengkel konversi, industri baterai, lembaga pembiayaan, komunitas, dan pengguna kendaraan.
Raine mengatakan uji coba berbareng organisasi ojol menjadi bagian dari persiapan menuju program nan lebih besar. EV-GO memanfaatkan sisa waktu 2026 untuk menguji kendaraan di lapangan, membangun komunitas, dan mempersiapkan ekosistem pendukung.
Menurut Raine, Bali mempunyai potensi menjadi laboratorium kendaraan listrik lantaran penggunaan sepeda motor nan tinggi, wilayah nan relatif terkonsentrasi, serta kebutuhan sektor pariwisata terhadap transportasi nan lebih bersih.
Ia menilai keberhasilan program konversi tidak hanya ditentukan oleh jumlah sepeda motor nan sukses diubah menjadi kendaraan listrik. Faktor ekonomi, kesiapan prasarana energi, keamanan, kemudahan perawatan, dan keahlian kendaraan digunakan secara intensif juga menjadi parameter penting.
“Jika model ini sukses dan kebijakan pemerintah kembali memberikan ruang nan lebih besar bagi program konversi pada 2027, Bali berpotensi menjadi salah satu contoh gimana elektrifikasi jutaan sepeda motor lama dapat dilakukan secara bertahap, tanpa kudu menunggu seluruh kendaraan tersebut digantikan oleh kendaraan baru,” kata Raine. (E-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·