Erotika Imortalitas: Tubuh, Hasrat, & Kekuasaan

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
doc.pribadi

I’d never given much thought to how I would die, though I’d had reason enough in the last few months, but even if I had, I would not have imagined it like this

Stephanie Meyer, Twilight.

Hasrat saya kembali digugah untuk menjejaki arsip memoratif paling intim di pustaka kesadaran saya dengan Twilight Saga. Beberapa waktu silam, pengalaman saya mengalami mutasi eksistensial (yang biasanya hanya pasif-kontemplatif pada alur dramatik sebuah film). Tak diduga, bahwa saya bisa terserap secara total dalam medan afeksi nan ditampilkan di saga ini. Padahal ironisnya, sejak awal saya sarat bakal resistensi pada aliran romansa (karena kerap saya anggap repetitif dalam bangunan narasinya).

Ternyata dengan Twilight, dekonstruksi prasangka itupun terjadi. Saya sendiri bukan pembaca novel nan ekstensif dan preferensi saya begitu elitis-selektif. Beberapa nan saya telaah adalah The Hobbit, The Lord of the Rings, dan Harry Potter (+ manga Naruto). Tapi kini, nampaknya terjadi ekspansi kanon individual dengan mengimput Twilight Saga dalam pustaka keabadian saya.

Beranjak dari peristiwa transformasional tersebut, saya mengangkat topik ini sebagai dedahan pikiran untuk menganalisis prinsip erotika imortalitas nan berdomisili sepanjang saga itu, jika diaplikasikan dalam menyingkap senyawa gairah kekuasaan nan berkelindan di dalamnya. Saya memproyeksikan suatu ambang, namun periode ini tidak memisahkan apa pun.

Ia tidak membuka, tidak menutup, apalagi tidak berada di antara. Ia hanya merepetisi dirinya sebagai probabilitas tanpa peristiwa. Dan malah di sinilah seluruh perangkat bangunan tentang tubuh, hasrat, serta kekuasaan mulai berdebar dalam sunyi nan tidak pernah betul-betul sunyi. Menulis risalah ini tentunya sarat bakal senyawa Onto-Thanatologis dalam Dialektika Ketakterhinggaan (berkutat selaras dengan tulisan saya sebelumnya).

Tapi semua parameter itu membangkitkan kuriositas antara daging nan membusuk dan gairah nan membangkangi waktu. Saya bakal sedikit mendedahkan bagian kriptiknya untuk mengaktifkan paralogika dari nan "tak pernah terjadi", sebelum saya masuk dalam eksplanasi. Esensi pertama nantinya dalam risalah ini adalah tubuh, nan jika direkatkan secara konfiguratif, tak lagi bisa disebut hadir. Tetapi dia juga tidak dapat disebut absen. Ia merupakan sedimentasi dari kehadiran nan tidak pernah datang, seraya gambaran dari ketiadaan nan kandas menghilang.

Sehingga tubuh bukanlah entitas, namun kesalahan nan terus dihasilkan oleh sesuatu nan apalagi tidak cukup eksis untuk melakukan kesalahan. Secara terminologis, saya labeli perihal ini sebagai kecacatan ontologis nan terlalu stabil untuk diperbaiki, terlalu runtuh untuk diakui sebagai runtuh. Nantinya saya bakal eksplanasikan kenapa tubuh bisa ditilik sebagai arsip nan tetap menyimpan jejak, sehingga sekarang arsip hanya menyimpan probabilitas bahwa pernah ada sesuatu untuk disimpan.

Namun semua probabilitas itu sendiri tidak pernah mencapai status aktualitas. Ia seperti menggantung, layaknya semiotik nan predikatnya terjadi korosi, tetapi senantiasa dipaksakan untuk berarti. Sehingga kuriositas tentang tubuh imortal merupakan kalimat kontemplatif nan tidak pernah usai, namun juga tidak pernah dimulai. Ini memantulkan sebuah sintaksis nan mengorbit kekosongan tanpa pernah menyentuhnya.

Bella Swan dan Edward Cullen mengobrol di bilik Bella Foto: IMDb/Twilight

Esensi kedua nan bakal ditelaah juga adalah tentang hasrat, nan selama ini dipuja sebagai penggerak peradaban eksistensi. Di sini berbalik menjadi sistem penundaan tanpa objek. Ia tidak mengarah, tidak berputar, apalagi tidak stagnan. Ia hanya mengelak dari arah. Setiap kali dia tampak melangkah menuju sesuatu, dia malah sementara menghapus koordinat nan memungkinkan “menuju” itu sendiri.

Sehingga kelak kita bakal berjumpa pada konklusi bahwa gairah tidak lagi bisa dimaknai sebagai kekurangan, alias produksi, alias apalagi repetisi. Namun sabotase ada kemungkinan adanya tujuan. Dan anehnya, malah lantaran dia tidak mempunyai tujuan, dia menjadi mustahil untuk dihentikan. Hasrat tidak bergerak, namun juga tidak berhenti. Ia merupakan mobilitas tanpa perpindahan, nan mana sebenarnya begitu paradoksal nan apalagi fisika pun bakal menolaknya, namun eksistensi justru mengafirmasinya tanpa sadar.

Esensi ketiga nan bakal dibedah adalah kekuasaan, dalam kerangka ini, tak lagi beraksi sebagai struktur, relasi, alias apalagi atmosfer. Ia lebih mirip ketiadaan nan memerintah. Ia tidak memaksa, garang alias represif lantaran tidak ada nan bisa dipaksa. Ia tidak mengontrol, lantaran tidak ada nan betul-betul terjadi. Tetapi segala sesuatu tetap tunduk, bukan lantaran ada nan menguasai, tetapi lantaran tidak ada nan cukup ada untuk melawan.

Sehingga kelak bersenyawalah ketiga lapisan ini dalam konfigurasi nan nyaris mustahil dipikirkan, ialah ketaatan tanpa subjek, kekuasaan tanpa agen, serta izin tanpa norma. Sebuah sistem nan tidak berjalan, tetapi tidak pernah berakhir berfungsi. Bila waktu biasanya menjadi medium untuk perubahan, maka di sini waktu hanya menjadi alibi bagi ketiadaan. Ia tampak bergerak, namun tidak pernah membawa apa pun dari satu titik ke titik lain, lantaran titik-titik itu sendiri tidak pernah betul-betul ada.

Sehingga kekekalan, imortalitas, dan keabadian bukanlah lama tanpa akhir, namun kegagalan waktu untuk membuktikan bahwa dia pernah mulai. Maka di sinilah teka-teki itu menjadi semakin rapat, nyaris menolak untuk disentuh oleh linguistik, mungkinkah sesuatu bisa terus berjalan jika dia tidak pernah terjadi? mungkinkah tubuh bisa memperkuat jika dia tidak pernah hadir? mungkinkah gairah bisa beraksi jika dia tidak pernah menginginkan?

Kuriositas saya ini tidak mencari suaka empirik, lantaran setiap argumen malah bakal mengasumsikan bahwa ada sesuatu nan bisa eksplanasikan. Padahal mungkin saja semua konfigurasi ini malah bertumpu pada satu kebenaran nan tidak bisa diformulasikan, lantaran tidak ada nan cukup nyata untuk menjadi objek pemahaman. Harapan saya bagi para pembaca risalah ini, bahwa Anda kudu berkontemplasi pada fase paling ekstrem, perenungan agung bukan lagi tentang tubuh nan abadi, dan gairah nan tak terpuaskan, alias kekuasaan nan tak terbatas.

Namun kondisi di mana apalagi kategori-kategori itu kehilangan haknya untuk disebut sebagai kategori. Tubuh bukan tubuh. Hasrat bukan hasrat. Kekuasaan bukan kekuasaan. Tapi semuanya tetap beraksi alias setidaknya nampak seperti berfaedah dalam langkah nan begitu presisi hingga tidak bisa dibedakan dari ketiadaan total. Dan mungkin saja sehabis membaca keseluruhan risalah ini Anda bakal berjumpa pada simpul paling gelap dari seluruh labirin ini tersembunyi, bahwa kita tidak sedang hidup dalam ilusi, melainkan dalam sesuatu nan lebih susah dienskripsikan dari ilusi, ialah keadaan di mana apalagi ilusi pun tidak pernah cukup nyata untuk menipu.

Imortalitas, dalam pandangan definitif paling banal, kerap dimaknai tetapi kemenangan selebratif atas kematian. Namun dalam telaah nan lebih radikal, dimana menolak simplisitas ontologi populer, imortalitas menjadi paradoks paling intim dari kefanaan itu sendiri. Ia bukan sekadar negasi dari mati, tetapi ekses dari hidup nan menolak diselesaikan oleh norma entropi. Pada lapisan inilah, erotika disuntikan sebagai modus eksistensial nan paling primordial seraya paling subversif.

Erotika dalam risalah ini tidak saya letakkan sebagai sebatas gairah seksual, namun daya ontologis nan mendisturb pemisah antara hidup dan mati. Ia menjadi impuls nan tidak mau berhenti, sebuah “drive” nan melampaui organisme biologis menuju horizon ketakterhinggaan. Dengan begitu, risalah saya ini tidak bakal mempercakapkan imortalitas sebagai keabadian statis, namun sebagai pergerakan menggiurkan dari eksistensi, sebuah tarikan antara tubuh nan fana dan gairah nan menolak usai.

Dalam dentuman momentaris nan nyaris tidak terlacak oleh kesadaran historis, manusia modern melakukan kudeta secara subtil pada kematian. Banyak orang nan tidak lagi secara subversif bersimpuh memohon keselamatan terhadap prinsip metafisis, melainkan justru merakit keabadian lewat estetika tubuh. Pada aspek inilah semua perihal tersebut menjadi lebih dari sebatas romantika naratif remaja, namun menjelma sebagai siklus sinkronik dalam teks laten nan mengendap arkeologi gairah modern.

Robert Pattinson di Twilight. Foto: dok. IMBD

Dua pemeran utama dalam saga nan saya tonton beberapa waktu lalu, membuka tabir kognitif baru dalam arsipis bahwa relasi nan terjalin antara Bella Swan & Edward Cullen bukan hanya sebatas kisah cinta layaknya Romeo & Juliet, tetapi penelitian ontologis nan berbicara dalam tataran filsafati nan spektakuler. Fenomena dimana eros bermutasi secara reduktif menjadi teknologi penunda kematian.

Beberapa kerangka paradigmatik tertentu memformulasikan eros sebagai penghubung menuju kekekalan ide, tapi saya memandang ada reverse logics nan secara vulgar mengeksplanasikan bahwa eros tidak lagi melangkah menuju keabadian, tetapi memproduksi ilusi bahwa tubuh itu sendiri dapat dipakai sebagai monumen anti-kematian. Di titik ini, kita sementara memandang mobilitas transformatif dari apa nan kerap dilabeli sebagai semato-imortalitas.

Neologisme nan menandai pergeseran dari metafisika jiwa pada materialisme tubuh nan sangat hiperobsesif. Tubuh tak lagi dimaknai sebagai medium temporalis sebelum beranjak pada alam transendental, namun dimutasikan sebagai arsip permanensi. Tetapi justru di sinilah letak ironi nan nyaris tragikomik, di mana pada saat tubuh dipaksa menjadi abadi, dia kehilangan prinsip dialektis eksistensialnya.

Ia tidak mengalami becoming, namun senantiasa terbelenggu dalam ada nan stagnan. Ini adalah salah satu kontemplasi panjang saya tentang konektivitas antara kehidupan dan kematian jika ditautkan pada makulat hubungan internasional. Spektrum antara keduanya mulai mengalami erosi apalagi degradasi. Biasanya kita memandang beragam konfigurasi sinematik alias literasi nan berbicara tentang figur vampirik.

Bagi saya mencerminkan artefak nihilisme nan disublimasi sebagai kepukauan, bukan sebatas simbol keabadian. Sepanjang sejarah peradaban, telah banyak cendikiawan nan berkutat dengan argumentasi "tubuh tanpa sejarah" alias "eksistensi tanpa tragedi" apalagi "kehidupan tanpa risiko", semua senyawa ini adalah corak dari anestesia ontologis, di mana eksistensi dibius oleh permanensi.

Dalam teropong genealogis, nan secara sadis mendekonstruksi ilusi bahwa tubuh merupakan entitas natural. Bila menelaah konstuksi paradigmatik ini dari teropong genealogi, tubuh merupakan bangunan diskursif nan diproduksi oleh kekuasaan lewat sistem biopolitik. Tubuh bagi saya merupakan paradoks nan paling jujur. Ia ada sebagai bukti eksistensi, seraya sebagai deklarasi kematian nan tertunda.

Tubuh menjadi arsip biologis nan mencatat setiap detik menuju kehancuran. Tetapi nan menjadi anomali, tubuh juga menjadi medium utama bagi produksi terhadap ilusi imortalitas. Di titik ini kita masuk ke dalam apa nan dapat dilabeli sebagai somato-ontological illusionism, ialah keadaan di mana tubuh, melalui sensasi, kenikmatan, serta reproduksi, menciptakan kesan bahwa dia dapat melampaui waktu.

Tubuh tidak pernah netral. Ia selalu sarat bakal senyawa politis, selalu berposisi dalam medan kekuasaan. Ia kontrol, didisiplinkan, serta direproduksi dalam sistem sosial. Tetapi justru dalam keteraturan itu, tubuh menyedimentasi potensi pembangkangan, saya bagi saya adalah erotika. Erotika menjadi momentum di saat tubuh menolak menjadi sekadar objek biologis. Ia menjadi subjek nan mendisturb norma linearitas waktu. Dalam orgasme, misalnya, waktu terlihat seperti runtuh. Ada jarak ontologis, alias sebuah temporal rupture di mana subjek mengalami sensasi “di luar waktu”.

Apakah ini bisa dilabeli imortalitas? Tidak. Namun ini merupakan simulakrum imortalitas, sebuah pengalaman mikro dari keabadian. Sehingga jika saya tautkan asumsi ini pada Twillight, maka sebenarnya merupakan khayalan biopolitik paling mutakhir, dengan keselarasan bahwa tubuh nan tidak pernah meninggal bukanlah tubuh nan bebas, namun senantiasa dikolonisasi oleh rezim kontrol baru. Eksistensi mitologis dari vampir nan biasanya merepresentasikan erotika, imortalitas, dan gairah kerap diilustrasikan liar dan ganas, namun bagi saya mereka adalah subjek disipliner nan terbelenggu pada izin biologis nan lebih ketat daripada manusia biasa.

Mereka tidak berada dalam siklus sinkronik di mana kematian tubuh biologis adalah keniscayaaj nan tak dapat diacuhkan. Ini momen dimana muncul bio-eternalisme, kondisi pada saat kehidupan senantiasa dikukuhkan tanpa pemisah justru mengafirmasi bahwa dia tetap berada dalam orbit kekuasaan. Imortalitas nan kerap dilihat sebagai kekekalan tubuh, alih-alih meliberalisasi, malah menjadi instrumen paling efisien untuk mengawetkan dominasi. Tapi, saya sadar bahwa kajian ini bakal prematur andaikan tidak menyuntikan senyawa radikal, ialah pemikiran tentang transgresi.

Erotika diposisikan sebagai pengalaman nan mendekonstruksikan pemisah antara kehidupan dan kematian. Ia merupakan intensitas nan hanya ada lantaran eksistensi finitude. Namun secara mitologis, justru ada sterilisasi pada prinsip ini. Pengebirian para erotika dari potensinya nan destruktif dan menggantinya dengan gairah nan terdomestifikasi, jinak, dan administratif. Sehingga saya lahirkan terminologi untuk direkatkan pada situasi tersebut ialah Eroto-Sterilisasi, dimana memancarkan kondisi kerika gairah kehilanan daya subversifnya dan bermutasi menjadi sistem stabilisasi eksistensi.

Hasrat tak lagi menjadi arah pada ekstasi, melainkan sebagai prosedur untuk mengukuhkan keteraturan. Artinya tanpa disadari, modernitas sudah mentransformasikan erotika sebagai birokrasi emosi. Dikala kita menjejaki lebih dalam pada labirin pemikiran, kita sebenarnya dipaksa untuk menanggalkan beragam dugaan klasik bahwa gairah terlahir dari kekurangan. Coba kita buat semacam penelitian pikiran, bahwa gairah adalah mesin produksi realitas. Ia tidak meminta, melainkan menciptakan.

Ilustrasi Vampir Foto: AhutterStock

Dalam kerangka lanskap ini, imortalitas bukan menjadi kondisi statis, tetapi implikasi dari produksi gairah nan tidak pernah berhenti. Tetapi, setelah saya melakukan telaah sinematik kembali, saya menemukan bahwa Twilight kembali mengindikasikan paradoks modernitas, bahwa gairah tidak lagi produktif, tetapi repetitif. Ia tak menghadirkan bumi baru, melainkan secara sinkronik memunculkan struktur nan serupa dalam siklus tanpa final.

Pada dimensi saya mau mengenalkann terminologi desire-looping, ialah sirkuit gairah nan berkelindan tanpa menghasilkan transformasi. Cinta nan terlihat pun bukan untuk menghadirkan probabilitas nan baru, namun mengawetkan keadaan nan telah ada. Hasrat pun menjadi mesin konservasi, bukan instrumen revolusi. Lapisan nihilistik nan berkelindan kejadian ini semakin tajam jika ditilik menggunakan lensa dan kerangka konseptual eternal recurrence-nya Nietzsche nan tidak pernah memproyeksikan keabadian sebagai pelarian dari waktu, tetapi sebagai keberanian untuk mengafirmasi waktu itu sendiri dalam repetisinya nan tak terbatas.

Tetapi manusia di era kontemporer melakukan distorsi fatal pada pendapat ini. Ia tidak mau merepetisi kehidupan, melainkan mau membekukannya. Ia tidak mengafirmasi tragedi, tetapi menghapusnya. Sehingga lahirlah apa nan bisa dilabeli sebagai anti-tragic immortality, sebuah keadaan di mana kehidupan terdegradasi dari dimensi dramatisnya lantaran segala sesuatu telah distabilkan.

Saga Twilight yang menjadi epistentrum kajian kritik dari risalah inipun bisa ditautkan dengan kerangka nan senada, maka dia menjadi narasi terhadap kegagalan manusia modern untuk menjadi tragis. Ia memilih menjadi permanen daripada menjadi intens. Hasrat tidak pernah puas. Ia adalah libido nan melampaui biologi, prinsip kekurangan nan senantiasa memproduksi dirinya sendiri. Dalam terminologi nan lebih radikal, gairah merupakan defisit ontologis nan produktif.

Bila tubuh terbelenggu oleh norma kematian, maka gairah menjadi pemberontakan terhadap norma itu. Hasrat tidak mengenal finalitas. Ia selalu mau lebih, selalu mau melampaui. Pada aspek ini kita dapat merumuskan konsep libidinal infinitum, keadaan di mana gairah beraksi sebagai mesin nan terus-menerus memproduksi probabilitas kotingensi tanpa akhir. Hasrat tidak mau usai, lantaran itu berfaedah mati.

Erotika, dalam kerangka paradigmatik ini, merupakan strategi eksistensial untuk menunda kematian. Setiap sentuhan, semua intensitas, kolektivitas ekstase menjadi corak mini dari resistensi terhadap nihilitas. Tetapi, paradoksnya adalah justru lantaran gairah tidak pernah usai, dia juga tidak pernah betul-betul mencapai imortalitas. Ia hanya beraksi tanpa henti dalam siklus ketidakpuasan. Dengan kata lain, gairah adalah imortalitas nan kandas alias lebih presisi, imortalitas nan senantiasa tertunda.

Sementara itu, dengan membuka lanskap nan lebih gelap, bahwa kekuasaan modern tidak lagi beraksi dengan membunuh, melainkan dengan mempertahankan kehidupan dalam kondisi nan direduksi. Imortalitas dalam risalah ini kudu dibaca sebagai corak ekstrem dari bare life, kehidupan nan tidak bisa mati, namun juga tidak sepenuhnya hidup.

Sangat menarik sebenarnya bahwa tubuh makhluk mitologis seperti vampir merupakan tubuh nan telah kehilangan kualitas eksistensialnya. Ia hidup tanpa risiko, tanpa perubahan, tanpa sejarah. Pada lapisan inilah, datang konsep thanato-suspension, ialah masa penangguhan kematian nan malah menghasilkan kekosongan ontologis. Kehidupan nan tidak usai merupakan kehidupan nan tidak pernah betul-betul dimulai.

Sehingga, dalam lanskap simulasi nan dipetakan secara genealogis, tubuh tidak lagi datang sebagai realitas, namun sebagai gambaran nan direproduksi tanpa henti. Bila tubuh menjadi medan, serta gairah adalah energi, maka kekuasaan adalah struktur nan mengatur pengedaran keduanya. Inilah segmen dimana imortalitas terinstitusionalisasi secara sosiologis. Kekuasaan senantiasa bergerak dalam medan afeksi pada imortalitas.

Negara, agama, serta ideologi berupaya memproduksi bentuk-bentuk keabadian simbolik: monumen, sejarah, doktrin, apalagi martir. Semua ini menjadi upaya untuk melampaui kematian lewat representasi. Namun, salah satu kebenaran kontemplatif nan membikin saya tertegun adalah dikala kekuasaan juga mencurigai erotika. Mengapa? Sebab erotika adalah corak liberalisasi nan tidak bisa sepenuhnya dikontrol.

Ia liar, tidak terprediksi, serta selalu mengandung potensi subversi. Di sini muncul apa nan dapat disebut sebagau thanato-political regulation of desire, upaya kekuasaan untuk mengontrol gairah agar tidak menakut-nakuti stabilitas sistem. Tetapi, setiap izin kerap menghasilkan residu. Dan residu itu adalah erotika nan tidak bisa dijinakkan. Dengan begitu, erotika menjadi gelanggang di mana imortalitas tidak lagi dikontrol oleh institusi, tetapi dialami secara langsung oleh subjek.

Saya memandang semacam indikasi kehadiran hiperrealitas tubuh vampirik dalam Twilight. Terlalu sempurna untuk menjadi nyata, terlalu artistik untuk menjadi biologis. Inilah tahap dimana erotika mengalami metamorfosis menjadi simulacra desire, gairah pada gambaran nan tidak mempunyai referensi real. Tubuh tidak lagi disentuh, melainkan dikonsumsi sebagai visualitas. Hasrat tak lagi berkarakter eksistensial, namun spektakular.

Dengan begitu, “erotika imortalitas” kudu dimaknai sebagai konfigurasi kompleks antara hasrat, tubuh, serta kekuasaan dalam rezim modernitas nan sudah mengalami erosi keberanian ontologisnya. Manusia tak lagi mengeksplorasi keabadian sebagai corak transendensi, melainkan sebagai corak manajemen pada ketakutan biologis. Serasa tidak lagi mau meninggal secara bermakna, namun mau hidup tanpa akhir secara mekanis.

Hasrat malah membelenggu manusia dalam kekhawatiran nan tak kunjung final dan tidak meliberalisasi manusia dari kematian. Sebenarnya kita diperhadapkan dengan satu tesis nan sinikal, ialah manusia kontemporer tidak sementara mengejar imortalitas namun menyelubungi diri dari kehidupan itu sendiri. Ia tidak takut meninggal lantaran kematian itu gelap, melainkan lantaran kehidupan itu menuntut keberanian.

Sehingga erotika direduksi menjadi algoritma stabilitas. Tubuh dimutasikan sebagai monumen transendental, tidak sebagai locus pengalaman tragis. Dan hasrat, nan seyogyanya membakar dunia, sekarang hanya difungsikan sebagai mesin pendingin untuk kekhawatiran ontologis. Dalam artian lain, imortalitas tidak lagi bersenyawa sebagai janji metafisika, tetapi simtom patologis nan berdomisili sebagai sebuah corak paling subtil dari nihilisme nan terselubung sebagai cinta.

Bila seluruh bagian metodologis tentang “tubuh sebagai arsip” itu diperas sampai tersisa saripati ontologisnya, maka kita tiba pada satu konklusi proposisi nan nyaris blasfemik pafa logika sehat, ialah tubuh bukanlah entitas biologis nan kebetulan berada di dalam sejarah, tetapi residu historis nan kebetulan tampak biologis. Hipotesis nan saya mau ajukan adalah tubuh bukan organisme, namun arsip nan bernapas, sebuah living archive nan menjadi arsip sedimentatif bukan narasi, tetapi endapan repetisi.

Tubuh tidak mengingat, namun secara sinkronik mengulang tanpa tahu bahwa dia sedang mengingat. Pada titik ini, mobilitas paradigmaik kita tidak lagi beraksi sebagai pembacaan makna, namun sebagai forensika habitus. Kita kudu bisa meenguliti gimana kekuasaan mengkristal menjadi refleks, gimana norma membeku menjadi postur, gimana disiplin menyamar sebagai spontanitas. Tetapi justru lantaran tubuh beraksi pada lapisan infra-sadar, dia lampau menjadi medium paling licin untuk penyelundupan kekuasaan. Kekuasaan tak lagi muncul sebagai larangan nan represif, tetapi menjadi algoritma afektif nan mengorkestrasi rasa malu, takut, cemas, dan bangga.

Sehingga lahirlah afekto-krasi, sebuah rezim di mana tubuh tidak dipaksa untuk patuh, melainkan dilatih untuk merasa wajib patuh. Rasa bersalah lantaran terlambat, kekhawatiran lantaran tidak produktif, alias kebanggaan lantaran memenuhi standar, semuanya merupakan bukti bahwa kekuasaan telah bermutasi sebagai atmosfer psikofisiologis nan mengelilingi tubuh. Di sini, tubuh bukan lagi objek kontrol, dan menjadi pemasok reproduksi kontrol itu sendiri.

Namun seluruh konfigurasi ini mencapai intensitasnya nan paling ekstrem dikala saya memproyeksikan ke dalam lanskap erotika imortalitas. Bila asumsi awal saya tentang tubuh sebagai arsip, maka tubuh nan imortal merupakkam arsip nan menolak selesai (archive-in-perpetuity). Ia tidak mengalami erosi, degradasi dan tidak mengalami pelupaan, serta tidak mengalami katarsis. Dengan begitu, dia tak hanya menyimpan sejarah, melainkan juga terbelenggu dalam hiper-sedimentasi sejarah.

Banyak figur vampirik nan meniadi entitas arsipologis ekstrem, dimana tubuh mereka terlalu penuh oleh jejak hingga kehilangan kapabilitas untuk mentransformasikannya. Dititik ini erotika mengalami distorsi paling radikal. Bias3anya bisa kita menelaah beragam kerangka paradigmatik klasik, eros selalu mengandaikan prinsip limitatif, dia menjadi mobilitas menuju nan tidak dimiliki. Tetapi dalam imortalitas, keterbatasan dieliminasi. Sehingga erotika tidak lagi beraksi dalam mobilitas menuju objek, melainkan berputar dalam dirinya sendiri sebagai sirkuit tertutup gairah (closed-loop libido).

Hasrat tidak lagi berkarakter ekstatis, tetapi auto-referensial. Ia tidak mencari nan lain, namun senantiasa mengafirmasi dirinya dalam repetisi tanpa diferensiasi. Ini merupakan fase post-eroticism, di mana gairah kehilangan eksternalnya dan terperangkap dalam refleksivitas absolut. Bila dalam telaah terhadap tubuh merupakan locus di mana kekuasaan menjadi sedimentasi lewat beragam praktik disipliner, maka dalam erotika imortalitas tubuh menjadi locus penahanan kekuasaan tanpa akhir.

Kekuasaan tak lagi hanya menulis dirinya pada tubuh, dia menolak untuk menghapus tulisannya. Maka peristiwa nan terjadi bukan sekadar disiplin, melainkan over-disciplining, artinya kondisi di mana tubuh dibebani oleh beragam lapisan normatif nan tidak pernah mengalami dekonstruksi. Tubuh menjadi terlalu alim untuk bisa meresistensi, terlalu penuh untuk bisa kosong, terlalu stabil untuk bisa hidup.

Lebih jauh lagi, menurut saya tubuh harusnya menjadi medan produksi intensitas nan tak terbatas. Tetap tubuh imortal malah mengalami apa nan bisa disebut sebagai intensitas nol nan memanjang (extended zero-intensity). Ia tak lagi memunculkan diferensiasi, namun merepetisi pola nan serupa dalam ritme nan membeku. Sehingga arsip tubuh tak lagi menjadi sumber probabilitas, namun beralih bentuk sebagai museum eksistensial, ruang di mana semua jejak dipertahankan, namun tidak ada nan betul-betul hidup.

Dalam gelanggang ini, relasi antara tubuh, hasrat, serta kekuasaan mengalami konvergensi patologis. Tubuh menyedimentasi jejak, gairah merepetisi jejak itu, dan kekuasaan menjaga agar pengulangan itu tidak pernah berhenti. Sehingga lahirlah apa nan bisa disebut sebagai triadik stagnasi ontologis, kejadian persekutuan antara tubuh, hasrat, dan kekuasaan nan menghasilkan keberlangsungan tanpa transformasi. Risalah akademik ini mau mengukuhkan argumentasi bahwa erotika imortalitas bukanlah kondisi di mana manusia betul-betul hidup dalam kekekalan.

Ia adalah pengalaman eksistensial di mana pemisah antara hidup dan meninggal menjadi kabur. Dalam erotika, subjek berkutat dengan kematian mini nan malah berimplikasi terhadap kehadiran sensasi hidup nan lebih intens. Ini merupakan paradoks, dimana untuk merasa lebih hidup, seseorang kudu “mati” sejenak. Keabadian dialektika dalam lanskap inipun terjadi. Tubuh mau bertahan, tetapi bakal hancur. Hasrat mau terus, tetapi tidak pernah selesai.

Kekuasaan mau mengontrol, tetapi selalu kandas total. Erotika imortalitas adalah kompilasi dari ketiga kegagalan ini. Ia bukan solusi, namun medan bentrok nan senantiasa bergerak. Pada akhirnya, kita kudu mengakui sesuatu nan mungkin tidak nyaman, bahwa imortalitas merupakan ilusi. Namun dia adalah ilusi nan diperlukan. Tanpa ilusi imortalitas, manusia tidak bakal mempunyai argumen untuk mencintai, mencipta, alias apalagi memperkuat hidup.

Hasrat bakal kehilangan arah, tubuh bakal menjadi sekadar mesin biologis, dan kekuasaan bakal kehilangan legitimasi. Erotika, dalam kerangka ini, adalah langkah manusia mempertahankan ilusi tersebut tanpa sepenuhnya tertipu olehnya. Ia tahu bahwa dia fana, tetapi tetap bertindak seolah-olah dia abadi. Dan mungkin di situlah letak kebenaran nan paling pahit sekaligus paling indah, bahwa manusia tidak pernah betul-betul mau hidup selamanya, dia hanya mau merasakan hidup seintens mungkin, seolah-olah waktu tidak pernah ada.

Forever and forever and forever,” he murmured. “That sounds exactly right to me.” And then we continued blissfully into this small but perfect piece of our forever.

Stephanie Meyer, Breaking Dawn.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan