Suryopratomo Dewan Redaksi Media Group(MI/Seno)
TIDAK ada lagi Rodrigo Hernandez di 'Biru' dan tidak ada lagi Casemiro di 'Merah'. Pertemuan dua Manchester di Old Trafford, Minggu malam nanti, menandai era persaingan baru di antara dua klub bertetangga nan berebut untuk meneguhkan apakah Manchester itu 'Biru' alias 'Merah'.
Enzo Maresca nan sekarang menangani Manchester City sigap untuk belajar dan berani mengambil keputusan mencari pengganti Rodri. Tidak tanggung-tanggung dia datangkan dua gelandang muda Enzo Fernandez dari Chelsea dan Ayyoub Bouaddi dari Lille, Prancis.
Kekalahan dari Arsenal di Charity Shield serta debut merepotkan pada awal musim menghadapi Bournemouth menyadarkan Maresca sungguh pentingnya mempunyai pengganti Rodri. Kehadiran Fernandez dan Bouaddi melegakan sang pelatih. 'The Citizens' mulai menemukan permainan nan bisa menyeimbangkan antara menyerang dan bertahan.
Duet Bouaddi dan Fernandez membawa City memulai langkah mereka di Liga Champions secara sempurna. Dengan lapangan tengah nan kembali solid, Erling Haaland bisa menyumbang dua gol kemenangan untuk mengandaskan tuan rumah FC Porto 2-0.
Di Liga Primer pun Maresca sukses memulai tiga langkah pertama dengan sempurna. Tiga kemenangan beruntun membawa City bersaing dengan juara memperkuat Arsenal untuk bercokol di puncak klasemen.
Modal baik itulah nan layak membikin Maresca layak percaya diri bertandang ke Old Trafford. Laju kemenangan bukan tidak mungkin bisa dipertahankan, apalagi di tengah kondisi Manchester United nan belum juga menemukan permainan terbaik mereka.
BELUM MENEMUKAN
Sementara Maresca sudah selesai dengan pengganti Rodri, pembimbing 'Setan Merah' Michael Carrick tetap berjuang untuk menemukan pengganti Casemiro. Ia sempat mencoba gelandang muda asal Brasil, Andrey Santos, tetapi kualitasnya tetap jauh di bawah seniornya.
Kekalahan dari Hull City memukul Carrick. Eksperimennya untuk membangun sebuah tim baru nan lebih baik gagal. Duet Santos dan Youri Tielemans tidak memberikan impresi nan meyakinkan.
Carrick pun akhirnya mengandalkan Kobbie Mainoo sebagai jangkar. Kualitas pasangan Casemiro pada musim lampau itu jauh lebih baik dari Santos. Apalagi Tielemans sudah mengerti gimana menjalankan peran tanpa kudu berbenturan dengan kapten kesebelasan Bruno Fernandes.
Namun, persoalan tidak berakhir di sana. 'Setan Merah' belum menemukan ujung tombak nan bisa diandalkan. Matheus Cunha nan sekarang ditunjuk sebagai target-man, performanya tetap jauh dari memuaskan.
Pekan lampau ketika menghadapi Everton, Cunha tidak bisa mengeksekusi dengan baik umpan sundulan kepala nan diberikan Bryan Mbeumo. Dalam posisi begitu bebas, Cunha menendang bola dengan bagian dalam kaki kanannya sehingga bola melambung jauh di atas mistar gawang.
Sejauh ini belum satu pun gol nan disumbangkan Cunha bagi 'Setan Merah'. Patut diingat, salah satu nan membikin Brasil terpuruk di Piala Dunia 2026 adalah kualitas penyerangnya jelek seperti Cunha.
Tidak salah andaikan Carrick menarik keluar Cunha dan memasukkan Benjamin Sesko. Sebagai ujung tombak Sesko jauh lebih efektif jika dibandingkan dengan Cunha nan lebih cocok bermain sebagai penyerang sayap. Terbukti Sesko bisa menyumbangkan satu gol setelah dipercaya tampil.
Di sinilah Carrick menghadapi dilema. Ia condong mengandalkan nama besar daripada efektivitas bermain. Kedua, 'Setan Merah' condong kebanyakan pemyerang sayap, tetapi minim ujung tombak murni.
Sesko lebih jelas bermain sebagai ujung tombak murni. Pilihan lain sebagai target-man adalah Joshua Zirkzee. Hanya saja, ujung tombak nan ada sering tidak konsisten bermain sehingga Carrick terpaksa melakukan penelitian dengan menempatkan Cunha sebagai 'false nine'.
MENTAL
Namun, pertemuan 'Setan Merah' dan City Minggu malam kelak bukan semata-mata urusan teknik. Itu pertarungan pamor di antara kedua klub untuk mengukuhkan diri sebagai penguasa Manchester.
'Setan Merah' bakal bisa menutupi kelemahan nan ada andaikan mempunyai determinasi nan tinggi. Mbeumo kudu lebih aktif memanfaatkan lebar lapangan seperti Marcus Rashford dan jangan terlalu sigap masuk ke kotak penalti.
Dengan Rashford dan Mbeumo nan aktif menyerang dari sayap, pertahanan City bakal lebih terbuka dan tidak menumpuk di kotak penalti. Sesko bakal lebih baik dipercaya menjadi ujung tombak daripada Cunha lantaran lebih efektif untuk menyambut umpan menyilang dari sayap.
Kalaupun tidak dengan bola atas, Rashford dan Mbeumo bisa memberikan kesempatan kepada Fernandes alias Tielemans untuk memanfaatkan ruang terbuka di tengah. Dengan tempo nan tinggi, itu bisa menjadi ancaman bagi pertahanan City.
Kemampuan untuk mengendalikan permainan menjadi kunci krusial bagi Manchester United untuk merebut kemenangan. Apabila mereka bisa meraih nomor penuh, itu bisa menjadi modal untuk menemukan permainan terbaik 'Setan Merah' seperti nan mereka lakukan pada musim lalu.
Memang misi nan kudu dijalankan bukanlah pekerjaan nan mudah. Manchester City sudah menemukan kembali rasa percaya diri mereka dan itu terlihat gimana mereka bisa keluar dari tekanan saat bertandang ke kandang Porto.
Mereka tidak hanya mempunyai Bouaddi dan Fernandez nan bisa menjaga keseimbangan. Phil Foden dan Rayan Cherki menjadi duet pengatur serangan nan maut. Belum lagi Antoine Semenyo nan disiplin untuk bermain sebagai penyerang sayap.
Bola-bola matang nan diciptakan Foden, Cherki, dan Semenyo menjadi santapan lembek bagi Haaland. Penyerang asal Norwegia itu sudah menemukan kembali ketajamannya. Ia sudah membukukan lima gol dari empat penampilan pertamanya.
Di belakang, kiper Gianluigi Donnarumma juga menjadi pilar nan tidak tergoyahkan. Dengan beragam pengamanan nan dilakukan, kiper asal Italia itu memberikan kepercayaan nan lebih tinggi kepada tim.
Duet Marc Guehi dan Ruben Dias di jantung pertahanan memberikan agunan bagi pertahanan nan susah ditembus. Mereka membantu Donnarumma untuk tidak sampai kebobolan.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·